Mohon Bersabar, Ini Musibah

Halimah Haa
Karya Halimah Haa Kategori Agama
dipublikasikan 23 Maret 2017
Mohon Bersabar, Ini Musibah

Perlu kita ingat bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk musibah. Dan perlu diketahui bagaimana menata hati ketika musibah itu melanda. Bayangkan ketika ada dua orang yang tertimpa musibah yang sama, namun yang satu terlihat lebih bahagia dibanding yang lainnya. Di manakah letak perbedaannya? Sabarlah yang membedakannya. Sabar yakni, menahan diri dari ketergesaan dalam berdoa, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan jasad dari memukul mukul pipi, merobek pakaian, atau ungkapan kesedihan lainnya.

Kesabaran membuat seseorang tampak lebih tenang dalam menghadapi masalah, pintu pertama yang akan mengantarkannya kepada penyelesaian. Bukan dengan sebaliknya, mengeluh, mengumpat, bahkan melukai diri sendiri yang jelas sekali tidak ada manfaatnya bagi dirinya dan juga orang lain. Justru sikap seseorang yang tidak mampu membendung emosinya ketika mendapat musibah sehingga terlanjur melakukan hal-hal yang merugikan bisa mendatangkan penyesalan yang lebih besar di akhir ketika musibah tersebut mulai mereda.

Maka ber-husnuzhan-lah kepada Allah bahwa selalu ada hikmah di setiap musibah tersebut dan jangan berhenti bersabar. Karena Allah telah memerintahkan hambaNya untuk bersabar. Bersabar untuk musibah yang sedikit ini. Bersabar sebelum sabar tiada berarti, yakni sabar yang dilakukan seseorang di atas siksa di akhirat kelak, yang sama sekali tak mengurangi siksanya tak pula berpahala.

Kemudian tak lupa kita ber-istirja’ sebagaimana yang dilakukan sahabat, Umar radhiyallahu’anhu, ketika mendapati tali sandalnya yang putus. Dan ber-istirja’ sebagaimana yang dilakukan Ummu Salamah ketika mengetahui Abu Salamah, suaminya telah wafat, sehingga Allah menggantikan dukanya dengan pinangan Rasulullah.

 Istirja’, yakni ucapan “Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Allahumma ujurnii fii mushiibatii, wa akhliflii khoiron minhaa” yang artinya “Sungguh kami milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali, Ya Allah berikanlah aku balasan pahala dengan musibahku, dan gantikan bagiku dengan yang lebih baik”. Ingatlah bahwa yang mengujimu dengan musibah ini adalah Ia yang tak pernah meninggalkanmu dan senantiasa akan mencukupi kehidupan jasad dan hatimu selama ini. 

ما ودعك ربك وما قلى (QS. Adh-Dhuha : 3)
“ Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu

Lantas apa yang membuatmu bersedih? Maka lapangkanlah hatimu untuk menerima setiap ketetapanNya, sebagaimana perkataan seorang ulama yang sangat bagus, “Kekerdilan jiwa ibarat segelas air yang dibubuhi garam kehidupan, maka serta merta air itu menjadi asin. Akan tetapi kebesaran jiwa ibarat telaga air tawar yang melimpah ruah airnya. Maka seribu genggam garam kehidupan yang dilemparkan padanya tak berarti apa-apa.”

Kemudian hiburlah hati kita dengan membaca kalamNya, karena sebagaimana yang kita tahu bahwa Al-Quran adalah penawar yang mujarab untuk segala kegundahan. Dan berdoalah kepada Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang agar Ia melimpahkan kepada kita kesabaran dan juga jalan keluar bagi setiap urusan kita.  Aamiin Ya Rabbal Alamin.

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun : 11)

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)

Berbahagialah saudari! Matahari cerah esok hari akan menanti.. Hanya Allah yang memberi taufiq.
.
.
.
Tulisan ini diambil dari karya : Saviera Yonita

  • view 212