Pak, Bu, Mimpi-mu Menjelma Cahaya

Halimah Haa
Karya Halimah Haa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Maret 2017
Pak, Bu, Mimpi-mu Menjelma Cahaya

-Bahagia kalian ialah bahagiaku-
Mungkin ini bukan impian ku, namun entah sejak kapan... impian kalian menjadi bagian dari mimpi saya juga. Mimpi bapak dan ibu, adalah cahaya bagi semua anak-anaknya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setiap manusia di lahirkan di dunia dengan penuh kasih sayang. Ketika ia menyapa dunia pertama kalinya, ia menangis. Sedang bapak ibu nya pun turut menangis, menangis bahagia. Betapa inilah buah hati kami yang kami nantikan hadirnya di dunia, yang akan membersamai hidup kami hingga akhirnya kita semua berkumpul di Jannatul Firdaus kelak (Aamiin).

Pernah kah, ketika kesedihan dan kebahagiaan seseorang menjadi bagian dari kebahagiaan mu? Maka begitulah, sedih dan bahagia nya bapak dan ibu adalah kita, anak-anaknya. Orang pertama yang paling bersedih dan berbahagia untuk kita adalah bapak, adalah ibu. 
Maka sebisa-bisa diri kita untuk tidak menangis apa lagi bersusah di hadapan mereka, karena jika kita meneteskan air mata, orang tua kita adalah orang pertama yang paling bersedia menyeka nya. Sudah cukup banyak peluh yang bercucur untuk membesarkan anak-anaknya, tentu tidak ingin menjadi sebab mereka untuk bersedih :( Meski anak-anaknya ini hanya bisa membahagiakan seadanya, tapi bagi bapak ibu, itu lah segala-galanya. Berbahagialah, anak-ku, begitu batin mereka.

Pak, Bu, Mimpi-mu Menjelma Cahaya. Cahaya bagi anak-anakmu.
Kalau kalian bahagia, kami juga bahagia. Apalagi kalau senyum yang tertungging di bibir kalian ialah disebabkan oleh kami.
Pak, Bu... aku tau untuk pergi ke Baitullah, Rumah Allah, ialah impian kalian sejak lama. Sejak lama menunggu, sejak lama menabung, sejak lama mempersiapkan. Dan kemarin, cita-cita kalian berkunjung ke Rumah Allah di ijabah oleh sang Tuan rumah.
Suaramu bergetar ketika mengatakan, "Nak, ibu sudah di masjid Nabawi", bu. Iya, bu aku tau itu mimpimu... sejak lama.
Aku tidak ada disana, bahkan raga ini jauh dari mereka. Namun seakan-akan diri ini terbang ke Masjid Nabawi juga, karena impian mu pak, bu, adalah impianku juga. Kalau mimpi mu terwujud, maka mimpiku juga terwujud di saat yang sama. Mimpi kalian menjelma cahaya untuk kami, anak-anakmu.

Duhai, bapak dan ibu. Berbahagialah, karena kebahagian kalian adalah cita-cita kami.
Duhai, bapak dan ibu. Sehat-sehat lah selalu, karena sakit dan sedihmu adalah luka mendalam bagi kami jua.
Bahagialah pak, bu. Do'a kami menyertaimu selalu, walau mungkin ini tak akan pernah cukup, untuk membalas segala jasa mu kepada kami.

  • view 141