Cinta di Ujung Mata

Halfi Candra
Karya Halfi Candra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juni 2016
Cinta di Ujung Mata

Aku, " Ternyata mencintai seseorang tak seindah apa yang dibayangkan."

Dia, " Bagaimana bisa demikian?"

Aku, " Ketika aku mencintai seseorang, sebelumnya aku membayangkan bahwa nanti aku akan lebih bahagia."

Dia, " Bukankah seharusnya demikian, lantas mengapa kamu merasa begitu?"

Aku, " Terkadang aku merasa dialihkan, terkadang pula aku merasa bahwa apa yang aku cintai hanya sia sia belaka."

Dia, " Apakah seseorang yang mencintai harus merasa diakui? Jika harus demikian, dimana keikhlasan dalam mencintai?"

Aku, " Ya aku faham. Bahwa mencintai tidak harus meminta timbal balik dari siapa yang dicintai atau bahkan pengakuan dari yang dicintainya. Tapi tidak tau kenapa, terkadang aku merasakan hal itu."

Dia, " Belajarlah bagaimana seharusnya ikhlas ditempatkan dalam rasa cinta. Sesuatu apa pun itu jika tak diiringi rasa ikhlas, maka rasaanya akan menyakitkan, termasuk dalam hal mencintai."

Aku, " Mungkin aku perlu belajar hal itu."

Dia, " Ketika kamu mencintai seseorang, jangan meletakkan rasa pamrih. Ikhlaslah dalam mencintai, sebab rasa cinta akan memberikan nilai positif berupa rasa saling berbagi."

Aku, " Lalu bagaimana dengan seseorang yang mencintai namun ia selalu pamrih dan bahkan suka menuntut sesuatu?"

Dia, " Semakin kamu cinta, semakin besar pula rasa berbagi mu kepada seseorang yang kamu cintai. Mencintai identik dengan berbagi, merawat dan bahkan menjaga. Namun jika sebaliknya, ketika seseorang mencintai namun ia justru selalu meminta atau menuntut, itu bukan cinta."

Aku, " Lalu apa?"

Dia, " Itu hanya sikap egois saja."

Aku, " Egois, maksudnya?"

Dia, " Dia hanya mau menguntungkan dirinya sendiri tanpa mau berkorban. Ia tak mau memikirkan perasaan orang lain, ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan cara agar dirinya merasa puas dan senang."

Aku, " Semoga aku bukan orang yang semacam itu. Terima kasih atas masukkannya. Mungkin mulai sekarang aku harus menata hati untuk seseorang yang aku cintai. Agar bagaimana aku mencintai dan apa yang aku lakukan tak melahirkan rasa sakit di hati ini."

Dia, " Itulah yang dinamakan mencintai dan berbenah diri."

Dia, " ... Tak sedikit seseorang yang mencintai, namun ia tak mau berbenah diri. Ia tak mu disalahkan dan bahkan suka menyalahkan. Ketika terjadi suatu masalah, jangan sesekali menilai orang lain terlebih dulu, namun nilailah diri kita terlebih dulu. Inilah yang dinamakan berbenah diri dalam mencintai."

Aku, " Haruskah aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya."

Dia, " Jika hal itu membuat kalian semakin baik jalinannya, semakin baik komunikasinya, hubungan sosialnya, kenapa tidak?"

Dia, " ... Namun jika sebaliknya, jika hal itu membuat dia semakin sukar dan jauh, atau bahkan tak mau lagi berkomunikasi dan akhirnya jalinan yang sudah erat harus putus karena sebuah ungkapan hati, lebih baik tanam saja di hati. Bairlah waktu yang menyampaikan."

Aku, " Baiklah. Sekarang aku sudah faham bagaimana seharusnya aku mencintai, merawat rasa cinta ini dan menjaga jalinan ini."

Dia, " Apakah dia tau bahwa kamu mencintainya?"

Aku, " Aku rasa dia mungkin tau, tapi dia tak memberikan ekspresi bahwa aku mencintainya."

Dia, " Apa pun yang terjadi, berbaik sangka saja dan tetap yakin. Jangan sesekali berburuk sangka pada orang yang kamu cintai, sebab hal itu akan menjadi racun yang mematikan cinta mu padanya."

Aku, " Aku faham akan hal itu. Karenanya ketika dia mendiamkan aku, atau tak berkomunikasi dengan ku, aku hanya berpikir bahwa kita memiliki kesibukkan masing masing."

Dia, " Anggapan seperti itu lebih baik. Tetap istiqomah dan jaga perasaan ini agar kau selalu memberi dan menjaganya."

Aku, " Ya, aku akan terus berusaha."

Dia, " Bolehkan aku tau siapa orang yang kamu cintai sehingga kamu sedemikian rupa?"

Aku, " Bukankah aku tak perlu mengatakan pada orang yang aku cintai bahwa aku cinta dia?"

Dia, " #Tersenyum."

  • view 88