Kisah Kelam Pendidikan Dari Dusun Padang Keladi, Desa Pongok

Yudhi Hyd
Karya Yudhi Hyd Kategori Renungan
dipublikasikan 09 April 2018
Kisah Kelam Pendidikan Dari Dusun Padang Keladi, Desa Pongok

Padang Keladi, sebuah dusun yang terletak di Kecamatan Kepulauan Pongok, memiliki kisah pendidikan yang Ironis. Sekolah tersebut masih berstatus cabang dari Sekolah Dasar yang ada di Desa Pongok. Dilihat sekilas, tampak tidak ada masalah, sebab gedungnya bagus, meskipun tunggal, senyuman anak-anaknya juga ceria seperti matahari di suatu pagi.

Dari sekolah dengan satu gedung ini terlihat gambaran pendidikan yang sangat ironis. Tidak sama dengan sekolah lainnya, waktu belajar sekolah ini cenderung lebih cepat dan bahkan seringkali tidak belajar karena gurunya berhalangan hadir. Masing-masing guru mempunyai alasan tersendiri ketika ditanyakan perihal ini. Bahkan, jikalau hari hujan tidak jarang murid-murid terlantar sebab tidak ada guru yang datang ke sekolah, sementara murid terkadang menggunakan daun pisang demi mengenyam pendidikan yang katanya kunci peradaban. 

“Hari ini ada 6 guru yang datang, kalau jum’at kemarin hanya ada dua guru saja yang hadir, yang lain sibuk mengurusi berkas untuk akreditasi sekolah” Ungkap Pak Junaedi, Senin (2/4/2018). Sebelumnya saya sudah sempat mempir sekedar melihat aktifitas sekolah namun hanya ada dua guru yang hadir, sementara yang lain berhalangan dengan satu dan beberapa alasan. 

Menurut penjelasan beberapa orang guru, jarak yang jauh sebetulnya bukan masalah. Yang menjadi masalah pada umumnya ialah kesejahteraan guru, terutama honorer yang dituntut mengerjakan pekerjaan yang sama dengan pegawai. Sementara secara kesejahteraan mereka terpaut jauh dengan pegawai negeri sipil.

“Saya hanya seorang honorer biasa, kesejahteraan kami sangat jauh dibanding pegawai. Namun secara tugas kami sama sekali tidak ada bedanya, bahkan mungkin pekerjaan kami lebih berat” Ungkap seorang guru yang akrab dipanggil Pak Yan

Selain itu, ia juga menceritakan bahwa hak mereka berupa gaji sangat memprihatinkan. “Saya tidak menerima gaji sudah hampir tiga bulan, kalaulah tidak memikirkan nasib anak-anak saya lebih baik melaut saja” Tambahnya dengan suara bergetar.

Menurutnya, pemerintah harus bertindak jelas terkait nasib guru honorer seperti dirinya. “Kalau pemerintah tidak peduli seperti ini, bayangkan kalau guru honorer beralih menjadi petani, nelayan dan profesi lainnya? Kelabakan dunia pendidikan kita”

Saya mengamati betul caranya bercerita dengan bibir sedikit bergetar dan suara yang tidak datar. Beliau seakan menahan tangis ketika bercerita tentang nasib guru, terutama honorer di negeri ini.

Ketika saya bertanya tentang alasan beberapa guru yang mangkir hadir, beliau dengan semangatnya bercerita bahwa ada sesuatu tidak benar dengan sistem pendidikan yang sedang diterapkan saat ini.

Ia juga menyampaikan keprihatinannya bahwa saat ini guru-guru yang berstatus PNS sibuk mempersiapkan berkas kenaikan gaji dan pangkat daripada memikirkan metode dan teknik pengajaran.

“Waktu guru habis, sudah mempersiapkan Administrasi Mengajar ditambah lagi mempersiapkan berkas kenaikan pangkat. Sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan metode dan teknik pengajaran. Hasilnya guru sibuk di kantor, anak-anak sibuk bermain di halaman seperti itu” tambahnya sambil melihat ke arah anak-anak yang sibuk bermain.

Selain itu, ketika ditanya bagaimana dengan listrik yang sudah ada, namun tidak masuk ke sekolah, belliau menjawab dengan sangat cerdas bahwa pendidikan tidak harus bergantung pada listrik. Alam yang ada di sekitar kita merupakan sumber belajar yang sangat kaya.

"Tidak harus bergantung pada teknologi, alam di sekitar kita ini sangat kaya, semua bisa digunakan kalau memang berniat. Namun permasalahan yang sering muncul adalah, guru selalu bergantung pada tekhnologi yang sudah ada sekarang" ucapnya sesekali melihat ke alam sekeliling. 

Tidak tega rasanya melihat keceriaan anak-anak yang harus terenggut oleh kekejaman sistem pendidikan dan penyelenggara pendidikan dengan mengatasnamakan kebijakan. Mereka rela berangkat hujan-hujanan demi mengejar ilmu yang 'seharusnya' mereka dapatkan. Namun kerap kali pulang dengan tangan dan kepala hampa. 

Guru lebih sibuk mengurusi dokumen pendidikan demi kenaikan pangkat dan gaji lalu membiarkan anak-anak tertawa di usia kecil dengan bermain. Bukankah tujuan pendidikan sesungguhnya adalah mencerdaskan anak bangsa?

Jika sudah begini, siapa yang salah? Guru jelas tidak bersalah, mereka wajib menuntut hak mereka berupa kesejehteraan. Jika dengan menjadi guru mereka tidak sejahtera, maka pilihan selanjutnya adalah mereka harus mencari tambahan lain. Siswa jelas tidak bersalah sama sekali. Mereka bahagia dengan ketidakhadiran guru sampai mereka mengerti bahwa mereka dirugikan. Singkatnya, sistem pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan di negeri ini harus diperbaiki. 

hyd

  • view 88