Ucapan Selamat Hari Guru, Honorer Juga?

Yudhi Hyd
Karya Yudhi Hyd Kategori Lainnya
dipublikasikan 04 Desember 2017
Ucapan Selamat Hari Guru, Honorer Juga?

Hari guru belum lama berlalu. Berbagai ucapan kepada guru membanjir di lini masa sosial media. Ucapan itu datang dari berbagai kalangan, tidak terkecuali Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy. Sampai hari ini, tidak sedikit guru yang masih baper dengan ucapan yang didapat dari anak didiknya. Diiringi oleh pemberian bingkisan dan kue sebagai tanda terimakasih. Namun demikian tidak sedikit pula yang memanfaatkan momen hari guru sebagai ajang menyampaikan aspirasi terkait periuk belanga. Terutama untuk guru honorer.


Guru honorer sangat lumrah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Hampir setiap sekolah memiliki guru honorer yang rata-rata melebihi pegawai negeri. Rata-rata di setiap sekolah perbandingan guru sekitar 1:3 yakni satu pegawai negeri dan dua honorer (Geotimes.co.id. 2017). Itu artinya keberadaan guru honorer sangat diperlukan di Indonesia. Bahkan memegang peranan penting dalam dunia pendidikan di Indonesia.


Dengan perananan yang demikian penting, namun pemerintah seperti meandang guru honorer sebelah mata saja. Bagaimana tidak seperti yang terjadi di Mamuju, puluhan guru honorer menggelar aksi di depan Bupati lantaran hanya mendapat gaji kurang lebih 150.000 rupiah setiap bulannya (Kompas.com. 2017). Dengan pendapatan sedemikian kurang, banyak dari mereka tidak dapat membayar kontrakan rumah. Hal ini tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan setiap harinya. Seperti yang terjadi di Kecamatan Kepulauan Pongok, Bangka Selatan, beberapa guru honorer yang mengajar di sebuah Sekolah Dasar yang memiliki puluhan siswa, mereka harus mengendarai sepeda motor setiap harinya kurang lebih 7 kilo meter dengan kondisi jalan yang tidak bagus. Jikalau tidak kuat dalam niat, entah jadi apa pendidikan di daerah-daerah terpencil tersebut. Bahkan tidak jarang pula mereka harus menyeberang pulau demi menjalankan tugas mulia ini.


“Guru, pahlawan tanpa tanda jasa” sepertinya begitu melekat di hati pemerintah. Dengan gagah berani mengadu nasib demi masa depan negeri yang mungkin tidak mengenal nama mereka. Mereka dijajarkan dengan guru-guru pegawai negeri lainnya ketika upacara peringatan hari guru, namun sayang secara kesejahteraan mereka belum atau mungkin tidak sejajar sama sekali. Miris sekali jika mengingat tanggung jawab yang sama yakni mencerdaskan anak bangsa namun mendapat perlakuan berbeda. Padahal sangat tidak sedikit kompetense mereka jauh diatas guru lainnya yang berstatus pegawai negeri.


Berbicara masalah kesejahteraan sangat luas, tidak hanya bagi guru. Hal ini tentu menjadi perbandingan antar profesi. Banyak yang mempertimbangkan kembali antara menjadi guru dan petani. Menjadi guru dan pengusaha, dan lainnya. Seandainya pemerintah tidak serius mengurusi nasib para honorer ditengah sulitnya mendapatkan posisi guru pegawai negeri, maka siap-siap untuk tantangan dunia pendidikan selanjutnya, yakni kekurangan tenga pendidik. Tidak butuh lama untuk hal itu, bisa saja guru honorer memilih profesi lain ditengah nasib mereka yang kian tidak jelas di mata pemerintah daerah maupun pusat. Hal ini semakin jelas dengan adanya Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 26/2017 yang mengatur bahwa dana BOS tidak lagi boleh digunakan untuk menggaji guru honorer. Padahal dulu mereka digaji menggunakan dana tersebut.

Disisi lain, pemerintah sedang menerapkan sistem Full Day School (FDS)e di beberapa daerahentah hdengan pertimbangan apa. Dengan sistem pendidikan yang memakan banyak waktu di sekolah, otomatis akan mengurangi waktu para guru untuk melakukan pekerjaan tambahanter. Terutama bagi guru honorer. Biasanya sepulang dari sekolah tidak sedikit yang bekerja sebagai petani. Terutama untuk guru di pedesaan. Namun dengan adanya FDS, waktu mereka akan lebih lama di sekolah dengan kepastian nasib yang tidak juga jelas.


Berbeda dengan negara lain, sebut saja Thailand misalnya. Negara tetangga yang menggunakan sistem FDS. Secara prosentase guru di setiap sekolah di Thailand hampir 95% adalah pegawai kerajaan (PNS), kecuali di sekolah swasta seperti sekolah Islam di Thailand selatan. Namun untuk sekolah kerajaan, hampir tidak ditemukan guru honorer. Sekalipun ada, tidak akan lebih besar dari jumlah guru kerajaan. Adapun sumber gaji guru honorer di sekolah kerajaan dari “urunan” guru kerajaan (PNS) di sekolah tersebut. Karena kerajaan memang tidak mengalokasi dana untuk guru honorer. Biasanya guru honorer di sekolah kerajaan hanya mengajarkan ekstra kurikuler, dan tidak memiliki beban yang banyak seperti honorer di Indonseia yang memiliki tugas berat yang sama.
Barisan guru honorer sepertinya harus mendapatkan ucapan lebih dari sekedar selamat hari guru. Sekali lagi, tidak menutup kemungkinan mereka (honorer) akan memilih profesi lain mengingat ketidakpastian nasib mereka dimata pemerintah. Selamat Hari Guru, Honorer. (hyd)

  • view 123