Toleransi Negeri Gajah Putih

Yudhi Hyd
Karya Yudhi Hyd Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Juni 2016
Toleransi Negeri Gajah Putih

Assalamualaikum wr.wr, selamat pagi, siang atau malam, kawan.

Pada awal 2015, keberuntungan entah kemalangan yang saya rasakan, saya terpilih menjadi salah satu delegasi guru muda indonesia (khususnya dari kampus) untuk mendidik anak-anak di Thailand. Program ini merupakan kerja sama antara SIPSA (Songkhla Islamic Private School Association) yang di bawah pihak kerajaan Thailand langsung dengan kampus saya. Program ini di peruntukkan khusus kepada para Alumni kampus. Singkat cerita saya salah satunya.

Saya hidup di lingkungan muslim dengan gaya yang jauh berbeda, sebab walaupun lingkungan muslim namun di tengah peradaban Budha. Berdasarkan ensklopedia perpustakaan sekolah saya ketahui jumlah muslim di negeri ini hanya 4,5%. Entah saya dan teman-teman sudah dihitung atau belum :-D Hari berganti minggu, minggu beganti bulan, bulan ternyata suda berganti tahun. Saya sudah memasuki tahun kedua yang mana ini adalah tahun terakhir saya harus berada di Thailand. 

Namun demikian, dua tahun di Thailand bukan berarti saya meninggalkan tanah air secara keseluruhan. Tentu tidak. Saya senantiasa mencari tahu tentang keadaan terkini negeri tercinta itu, Indonesia. Meski tidak begitu pandai, namun saya selaluberusaha memahami apa yang terjadi, entah dari bidang politik, ekonomi, sosial, dll. Dan hari ini saya ketahui bahwa pemberitaan tentang toleransi antar umat beragama yang didalangi pemerintah sangat "heboh". Tentu ini sangat rumit untuk di bahas oleh orang awam seperti saya, karena dirasa begitu komplit. Media yang senantiasa membungkus berita dengan wajah samar, pemerintah yang katanya seakan timpang sebelah, ormas yang katanya membela kebenaran, serta masyarakat yang katanya asal kunyah berita. Ahhhh...... Negeriku. 

Yang saya tau, Pancasila adalah dasar negara yang mana memuat tentang kehidupan beragama "KETUHANAN YANG MAHA ESA". Itu pula yang membuat saya berani menuliskan kisah ini. Sebagai seorang muslim, cenderung membela agama yang saya peluk tentu ada. Namun sebagai warga negara Indonesia yang di ketahui adalah negara majemuk, saya juga mempertimbangkan toleransi. 

Yang saya pahami toleransi tidak berjalan sebatas pengertian umat Islam terhadap warga bali yang melarang berjualan di hari minggu atau menutupan jalan di beberapa wilayah di kala Nyepi. Namun juga sebaliknya, haruslah ada pengertian timbal balik di kala umat Islam menjalankan ibadah semacamnya. Terlepas itu mayoritas ataupun minorotas. Karena sekali lagi negeri ini menganut Pancasila "Ketuhanan Yang Maha Esa". Saya yakin poola pengertiannya adalah "HORMATI YANG BERIBADAH" bukan "HORMATI YANG TIDAK BERIBADAH" sebab bila di balik maka akan terjadi "HORMATI YANG TIDAK MEMAHAMI PANCASILA" bukan "HORMATI YANG MENGHANCURKAN NILAI PANCASILA"

Ah sudahlah, yang pasti puasa ini adalah puasa kedua yang saya habiskan di negeri Thailand. Saya mau bercerita, mau membaca? Begini...

Pada puasa ke-lima, memasuki teraweh ke-enam, saya dan beberapa tetangga sedang menunggu adzan sholat isya yang akan di lanjutkan teraweh di masjid. Entah dari arah mana, saya kurang memperhatikan, tiba-tiba seorang berwajah budha duduk dan menghampiri kami. Saya cukup kaget dengan kedatangannya. 

"Mas, saya meu bertemu dengan Imam masjid ini" (Menggunakan bahasa Thailand)

"Oh kebetulan, beliau sedang Umrah ke mekah" Sebisanya saya jawab dengan menggunakan bahasa Thailand sederhana

Singkat cerita beliau saya ajak bertemu beberapa orang di masjid dan terjadi diskusi

"Begini, satu hari yang lalu pemuka agama kami meninggal dunia, kami datang ke sini ingin meminta izin untuk melaksanakan Khaul di candi sebelah" Ujarnya dengan sangat sopan.

Jarak masjid dengan Candi kira kira hanya 300 meter saja. Dan dua tempat itu sama sama aktif untuk urusan agama masing-masing. Saya tersentak kaget mendengar permintaan izin pria biksu itu. Bila dikatakan berlebihan, saat itu saya tersadar bahwa saya bukan di Indonesia :-D Bagaimana mungkin Mayoritas meminta Izin kepada Minoritas? Ah mungkin saja, buktinya ini kisah nyata. Singkat cerita tidak ada alasan bagi kami untuk menghalangi mereka melakukan Khaul kematian pemuka agamanya selama 90 hari kedepan, pun jua mereka tidak ada alasan menghalangi kami melakukan ibadah malam di bulan Ramadhan selama 25 hari kedepan, walaupun kami minoritas. 

Saya berpikir, apakah ada semacam Pancasila? Jika ada pastilah lebih keren. Atau memang warganya yang keren. Lalu, mengapa ini tidak di bawa ke muka kerajaan? Pentingkah kerajaan menangani hal ini (tentu penting). Maka saat itu saya baru mengerti, mungkin ini adalah bentuk toleransi yang nyata.

Akhirnya kami Sholat teraweh di bawah nyanyian budha bak sinden Jawa itu. Dan bahkan suara Adzan masjid kami tak jarang beradu nyaring dengan Petasan. 

(Sekali lagi, tulisan ini tidak memihak apalagi mematahkan. Ini hanya kisah teraweh di negeri gajah putih)

Salam,

Hyd.

  • view 204