Seringai 01 - Layar Terkembang

Muhammad Husen Haikal
Karya Muhammad Husen Haikal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Oktober 2017
Seringai 01 - Layar Terkembang

Aku selalu tak suka pagi. Pagi, seperti biasa selalu saja menimpakan terik yang semakin siang, semakin menyengat. Disana kutemui sepi. Dimana semua berlalu lalang tanpa terkecuali. Tak ada obrolan hangat. Bahkan, sebatas bertegur sapa pun menjadi rutinitas yang tak dimaknai apa-apa. Terlebih beberapa orang seringkali tak tahu betul siapa yang disapanya.

Begitupun dengan pagi ini. Rutinitas yang amat menyebalkan. Berpamitan dengan ibu, ayah dan kakak. Berat meninggalkan rumah. Tempat yang menurutku istimewa. Disana semua menampakkan kejujuran. Ayah yang tak segan menegurku dikala nilaiku di sekolah turun. Ibu yang tak pernah ragu membangunkanku di subuh hari. Disaat atmosfer bumi terpusat di sebuah kasur. Disana ada ibu yang selalu lebih superior dibandingkan itu.

Juga kakak yang hari ini lebih sering diam. Tak seperti dulu. Dia tak pernah ragu menceritakan hidupnya. Mulai dari hebatnya dia dalam  geografi; Selalu antusiasnya dia menyeritakan soal bentuk muka bumi; Hingga kehidupan-kehidupan yang ada di darat, laut hingga udara. Tak jarang pula dia tersipu saat bercerita tentang seseorang

Namanya Alea, gadis satu sekolahnya saat SMA. Sering sekali diceritakannya gadis itu. Sampai khatam aku kisah tentang gadis itu. Mulai dari ia yang anak IPA, sedang kakakku IPS. Hingga pertemuan pertama mereka disaat hujan rintik-rintik. Tepat di hari olimpiade se-Kota Madya Tanggerang di tahun 2009.

Menarik sekali kisahnya. Ingin aku tuliskan meskipun belum benar-benar jelas endingnya. Ya mereka belum juga jadian.

Layar terkembang, dan angin belum membawanya kelautan lepas. Begitulah kira-kira kisah mereka. Hanya merah jambu. Ya, sebatas merah jambu. Aku tak mengerti mengapa mereka tak putuskan untuk jadian saja. Terlebih di kelas tiga dan tahun depannya mungkin mereka sulit bertemu.

Terus saja begitu hingga dua tahun berlalu. Benar saja, hari ini si gadis melanjutkan studinya di Bandung. Sementara kakakku, seperti kuceritakan sebelumnya. Masih bersama dengan keluarga kami di Kota Benteng. Ya, ia kehilangan sebelah kakinya, sebelah hatinya. Saat keluarga kami melakukan perjalanan dua tahun lalu. Tepat setelah Alea meninggalkan kota kami.

Sejak itu kakak jarang tersenyum. Bahkan, bisa terhitung jari berapa kali kami saling bertukar kalimat atau mungkin hanya kata-kata.

Begitulah isi rumahku. Akhirnya aku pergi juga ke sekolah. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku hanyalah anak kelas dua belas biasa, anak IPS dan suka bercerita tentang bentuk muka bumi. Bercerita dengan diriku sendiri. Atau beberapa kali dengan ayah dan ibu.


-- Belum usai --

  • view 35