Siapakah aku? Ibu

Haifa  Afifah
Karya Haifa  Afifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Maret 2018
Siapakah aku? Ibu

Pada sore dengan angin yang tenang, seusai mandi sepulang sekolah, Ibu mengajak aku pergi berjalan jalan tidak jauh dari rumah. Terdapat bunga bunga berwarna merah dan tumbuhan putih panjang seperti dililit kapas. Lalu ibu memetik bunga itu satu persatu. Ibu menunjukan bunga itu, lantas tersenyum padaku. Aku ikut tersenyum, sebenarnya aku tak tahu kenapa harus ikut tersenyum apalagi sampai kegiranganan ketika bunga bunga itu dirangkai menyerupai mahkota. Lalu dipasangkan di kepalaku.

Ibu selalu membuat aku senang, berkata lembut, membacakan cerita sebelum aku tertidur. Cerita tentang kura kura dan monyet yang mencuri di kebun petani. Ayah juga sering membelikan aku CD animasi anjing dan bebek. Lantas membiarkan aku menyentuh buku buku itu sendiri dan membaca apa yang aku lihat, meskipun tidak terlalu mengerti.

Setiap hari Ayah pergi bekerja, Ibu pun sama. Mereka melakukan itu untuk mendapatkan uang. kebanyakan orang melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kadang mereka menjadi tidak waras.

Aku hanya manusia, menjadi seorang anak dari orang tua yang aku tinggali rumahnya. Aku lahir sudah menyusahkan menjadi bayi lebih menyusahkan. Aku juga tak memiliki apapun untuk membayar mereka. Aku lahir tanpa membawa apapun untuk bekal.

Tapi seseorang yang ingin ku panggil Ibu itu, memberikan aku pakaian bagus, memberiku makan, mengantarkan aku ke sekolah menanyakan “ingin makan apa hari ini?” lalu aku Jawab “Balakutak” Ibu tertawa. Sebab aku selalu tampak senang ketika makan cumi hitam itu, enak jelas masakan Ibu selalu enak. Tapi warna hitamnya selalu membuat aku jadi berantakan. Tapi kekacauan itu tak pernah membuat mereka marah atau mencoba menghentikan aku makan. Mereka hanya tertawa dan meminta aku untuk menghabiskan makanannya.

Sesekali aku bermain bola dan terjatuh, lantas bajuku kotor karena lumpur. Aku melihat anak lain dimarahi karena bajunya menjadi kotor, aku menjadi takut sebab demikian. Lantas aku pulang sembunyi sembunyi. Lantai rumah jadi ikut kotor bekas kakiku. Aku mandi lantas mengantuk dan tidur sembarang. Samar samar aku menyadari Ayah membopongku ke kamar. Setelah itu aku tak ingat apapun lagi.

Sayup sayup sebelum pagi tiba aku sering mendengar ibu berdoa, mengucapkan namaku pada kalimat kalimat yang terucap lirih. Tak jelas apa yang Ibu katakan hanya saja itu seperti sebuah permohonan kadang Ibu menangis lalu bersujud.

Ibu, kau telah ajari aku semesta. Bersabar ketika bersedih dan mengucap syukur ketika aku merasa senang. Tapi Ibu, kau tak pernah beritahu aku. Siapa aku sebenarnya. Kau tak membunuhku ketika aku bayi, kau cemas ketika aku pulang terlambat, kau selalu bertanya hendak kemana aku pergi dan dengan siapa aku kesana.

Suatu hari Ibu marah dan aku hendak pergi. Aku pikir aku takkan mendapat salam sekalipun. Tapi air muka Ibu sendu, ia mengambil uang dari dompetnya, memberi aku uang ongkos. Aku tahu jumlah uang itu bukan hanya untuk ongkos saja. Lalu aku menyalami tangan Ibu. Lalu Ibu mendoakan aku agar selamat sampai tujuan, membekali aku makanan untuk diperjalanan. Tak sanggup lidahku berucap maaf. Aku pergi saja. Meninggalkan Ibu, meninggalkan rumah.

Ya Allah, tak pernah ada kata maaf dan terimakasih untuk Ibu, tapi percayalah hatiku tak pernah berhenti bersyukur telah dipertemukan dengan Ibu.

 

Sumber Gambar: https://hellosehat.com/parenting/tips-parenting/keajaiban-sentuhan-ibu-pada-bayi/

  • view 46