Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 7 Februari 2018   12:41 WIB
Kau Sungguh Mempesona Puanku, Tapi Aku Tidak Ditakdirkan Untuk Mencintaimu.

Pada masa kiranya Tuhan perkenankan aku menemui puan, aku melihat pesona yang tak dimiliki perempuan lain. Dan setelah banyak waktu kita bertukar cerita, menghabiskan waktu bersama. Aku tahu pesona itu datang dari mana.

Kiranya Tuhan perkenankan aku untuk mengetahui semua yang puan miliki, membuat puan tak hanya mempesona, namun juga pesona itu terus memancar sampai aku tak mampu menggambarkannya. Wahai puan yang tak ditakdirkan untuk aku cintai. Kadang puanlah tempat aku berbagi beban hidupku.

Terimakasih banyak, karena puan mau menerima pria malang seperti ku, yang sampai puan bilang mencintaiku, tapi aku tak pernah mau mengakuinya. Apakah aku seorang pria malang puan, tak pantas mendapatkan cinta itu. Dan apalah aku yang tidak ditakdirkan untuk mencitai puan.

Suatu hari dan mungkin sering bagimu mendapat mandat mandat berat, kau berjuang dan menjalankan siasat serta rencana rencana dengan brilian. Kadang kau bagikan rancangan rencana pergerakanmu itu, sungguh aku tak banyak mengerti kenapa kau begitu handal dalam membuat rencana dan membuat prediksi prediksi.

Tapi kau malah bersedih sebab aku tak bisa menanggapi kecerdasanmu itu, wahai puan yang tak ditakdirkan untuk aku cintai, sungguh aku tak sebanding dirimu yang perkasa ketika dilapang namun juga lembut ketika anak anak kecil mengajakmu bermain.

Dan akhirnya ku ceritakan padamu, hanya padamu puan. Aku telah mencitai seorang perempuan yang lebih muda dari ku. Sungguh awalnya hubungan kami sangat baik, tapi memang aku hanya pria malang yang tak memiliki banyak harta dan bukan pula orang terpelajar. Hanya Puan lah yang mau menerima hidupku yang sederhana. Tapi aku tak mengerti kenapa Tuhan tak takdirkan aku untuk mencintaimu.

Puan, cintaku tak terbalas penuh oleh perempuan itu, perempuan itu memilih keputusan ayahnya dibanding memperjuangkan hubungan kita. Puan maaf kan aku yang hanya engkaulah teman yang bisa aku ganggu setiap saat. Dan puan masih mau mendengarkan pria malang ini.

Puan, apakah kau merasakan perasaan yang sama seperti aku, yang mana aku mencintai perempuan yang tak mau memperjuangkan aku? Kenapa pula puan mencintaiku,sedang aku tak ditakdirkan untuk mencintai puan. Apa yang harus aku lakukan puan? Untuk mengobati hatimu yang kian terluka mendengarkan kesungguhan aku terhadap perempuan yang sudah tak memedulikan aku lagi?

Puan, aku tahu kau pun bisa mendapatkan cinta dari pria yang lebih baik dari aku. Terkutuklah aku ketika puan sedikit demi sedikit menjauhiku dan menjaga jarak. Ada pria lain yang mencintaimu dan kau mencoba menghargai usahanya.

Aku pura pura mendukungmu, padahal aku benci mengakui bahwa aku rela ketika kau pergi. Tapi lagi aku berfikir, kenapa aku tak jua mencintaimu. Padahal jika itu terjadi, tak akan ada perempuan muda, tak ada pria yang mencintai mu selain aku. Cerita akan menjadi indah seperti negeri dongeng

Tapi sayang, aku tak ditakdirkan untuk mencintaimu, dan malah mencintai orang lain. Kau pun orang baik yang tak pernah membenciku atau memilih memaksaku untuk mencintaimu. Aku tahu puan bertahan untuk mengolah rasa yang memang hanya puan yang bisa, sampai akhirnya aku mendengar dari mulutmu yang bijaksana, suara tegas yang tak menunjukan kelemahan. Bahwa puan akan dilamar pria tersebut.satu sisi aku senang mendengarkan sehingga puan tak perlu menderita karena mencintai aku, tapi aku pun tak rela bila harus kehilangan puan.

Lantas bagaimana dengan perempuan yang lebih muda dariku itu, bahkan sampai detik ini aku tak diberi kepastian apa apa. Sementara aku malah merindukanmu Puan, tapi aku mencintai perempuan yang lebih muda dari ku.

Tuhan, kiranya mencintai manusia adalah perihal urusan yang rumit. Kenapa kau takdirkan aku untuk mencintai seorang perempuan yang tak memedulikan aku, sementara seseorangmempesona mencintaiku. Aku sama sekali tak mencintainya.

Tuhan, Andai aku  mencintaiMu, akankah Kau mencintaiku juga?

Andai aku bisa membaca tandaMu lebih jelas. Sungguh aku termasuk orang orang yang beruntung

Karya : Adnan Sayf