Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 6 Februari 2018   11:36 WIB
Apakah Tuhan Telah Bersalah, karena Sudah Menciptakan Manusia Perusak?  

 

Sebagai manusia yang telah hidup lama di bumi, 20 tahun atau lebih? Tentunya yang membaca tulisan saya adalah orang orang berumur belasan tahun keatas. Menyinggung judul yang saya buat,pastinya kalian tidak mudah menerima hal itu. Tentu sebab memang hal itu tidaklah benar.

Apapun itu. Baik buruk pandangan manusia, Allah lah yang Maha mengetahui atas segala sesuatu.

Mengkritik kasus yang ditulis diberbagai media tentang dilaporkannya buku “Perempuan Bernama Arjuna” yang ditulis oleh Remy Sylado atas peredarannya di perpustakaan SMP Negeri 2 Sungai Raya, Aceh Timur.

Sampai saat ini polisi masih akan mengumpulkan data data untuk penindakan selanjutnya. Maka terlapor -buku serial Perempuan Bernama Arjuna - akan dijerat dengan pasar 29 UU nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi.

Tentu saya akan bersedih hati bila akhirnya mereka terjerat. Saya sendiri tak tahu bagaimana mungkin mereka bisa tinggal di perpustakaan sekolah. Seumur hidup saya, saya tidak pernah melihat ada segerombolan buku yang berjalan jalan di trotoar atau sedang main petak umpet di toko buku.

Dan jika memang rencana perusakan otak anak anak SMP aceh itu sebab buku buku yang datang secara sembunyi sembunyi dengan kaki kaki -entah baggaimana wujudnya- yang membuat mereka bisa berjalan dari rak satu ke rak yang lainnya tanpa perantara manusia yang hidup dengan ruh dan jasad yang telah Tuhan kehendaki.

Dan Jika memang seandainya itu terjadi, maka mereka akan dimasukan ke ruang tahanan bersama manusia atau mungkin penjara khusus? Wallahu ‘alam. Dan jika memang seandainya itu terjadi, lantas serial perempuan bernama arjuna yang sudah aku adopsi akan berbicara menyampaikan maksudnya untuk meminta keadilan kepada manusia yang telah menahan rekannya. Atau mereka hanya ingin turut menjadi saksi atau pembela dalam sebuah persidangan sebelum menjadi tersangka.

Dan Jika memang seandainya itu terjadi, maka buku buku ku atau buku yang lainnya akan mengatakan bahwa, terlahirnya mereka hanyalah sebatas untuk menjadi penghibur untuk manusia yang sudah tersegmen dengan jelas. Lantas bagaimana dengan penghibur ibu kota yang disebar luas dalam stasiun televisi yang tidak dilabeli segmen penontonya yang justru telah merukak otak anak dibawah umur.

Dan kita memang si pelapor berfikir bahwa kadalnya adalah si buku karena ia memuat gambar porno, lalu bagaimana dengan rokok yang menganduk zat zat adiktif dan zat zat berbahaya bagi tubuh? Lantas bagaimana dengan pisau yang jelas ia merupakan benda tajam yang juga akan mengancam kehidupan manusia, dan senapan, belati, dan Tuhan yang telah menciptakan manusia bodoh yang tak padai berfikir. Apakah kau juga akan melaporkan Tuhanmu sebab kebodohanmu itu?

Pembaca yang budiman, jelas hal itu tidak mungkin terjadi.sebab tidak mungkin buku buku itu bergerak sendiri tanpa perantara manusia bukan?

Lantas sebab buku tak mungkin berbicara dengan gelombang suara sehingga bisa kita mendengar suaranya, maka yang penulislah yang akan menjadi kambing hitam selanjutnya. Sekarang, jika memang seandainya itu terjadi. Remy Sylado akan dimintai keterangan oleh polisi.

Lalu beliau akan mempertanyaan dirinya sendiri. “Apa yang salah dari seorang penulis yang menulis?”

Berbeda dengan seorang pendakwah yang membawa kesesatan yang dengan sengaja mengumpulkan orang banyak untuk ia pengaruhi, atau seorang guru cabul, atau seorang pejabat yang korup. Apa yang salah dari seorang penulis yang telah menulis lantas buku itu terbit dan dibaca semua orang yang mau baca.

Berbeda dengan seorang pencuri yang mencuri atau pembunuh yang sudah membunuh yang sudah jelas profesinya itu merupakan profesi yang dilarang. Apa yang salah dari seorang penulis yang telah menulis? Bahkan telah banyak penulis yang memberikan jasa dalam pencerdasan masyarakat.

Saya berdoa semoga polisi dan pelapor lebih kritis dalam mendakwakan sesuatu. Sebab kenapa mereka tak mau menuduh pegawai perpustakaan gabut atau distributor yang buta huruf?

Karya : Adnan Sayf