Hai, Calon Suami. Jangan Jadi Pecundang.

Haifa  Afifah
Karya Haifa  Afifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Januari 2017
Hai, Calon Suami. Jangan Jadi Pecundang.

Saya berada pada generasi BAPER, sifat melankolis menyebar kekalangan para muda mudi. Penyebarannya sangat praktis. Cukup dengan provokasi dan sedikit grafis, seseorang akan mengidap penyakit BAPER. BAPER akut akan terjadi ketika propaganda-propaganda itu menjadi diskusi tanpa moderator di ruang virtual.

Tambah lagi banyak pendakwah-pendakwah muda tampan, meluluhlantahkan para hati perempuan BAPER, terlebih ketika tahu kalau pendakwah itu sudah memiliki istri. Hancurlah hati. ketika anak perempuan sudah telalu bosan menunggu. Anak laki-laki berlomba mencari pendamping. Ada yang menarik dari pencarian seorang anak laki-laki, yang akan saya bahas kali ini.

Seorang anak laki laki mapan, mencari seorang istri yang akan melengkapi kehidupannya yang hambar, laki-laki itu memiliki kriteria yang tinggi untuk calon istrinya tersebut, sampai sampai ia tak pernah mendapatkan satu orang pendampingpun sampai saat ini.

Biasanya, anak perempuan yang justru meninggikan kriteria, karena kadang mereka juga berfikir realistik, terlebih bisikan orang lain yang lebih mendominasi dirinya. Mungkin. Tapi sekarang justru saya menemukan anak laki-laki yang memiliki kriteria tinggi untuk calon istrinya. Untuk apa?

Kriteria yang dimaksud banyak tentang perihal kuantitas ibadahnya, padahal hal itu tidak menjadi tolak ukur kesalihan seseorang. Jika keimanan seseorang terletak pada kuantitas ibadanya, kenapa tidak jadi malaikat saja?

Seorang suami memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan untuk anak dan istrinya, kewajiban istri adalah taat terhadap suaminya. Saya pikir ketaatan itu sudah cukup menjadi bentuk kesalihan seorang istri yang tak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini.

Sementara saya berfikir, mungkin ini sedikit kasar dan terlalu subjektif. Bahwa laki-laki yang menikahi seorang perempuan yang sudah salih dari keluarganya, adalah seorang pecundang, sebab ia tak perlu bersusah payah untuk memberikan pendidikan kepadanya setelah menikah.

Dan dari hal itu saya berfikir, alangkah bahagianya saya, jika mendapati istri yang dulunya biasa-biasa saja, setelah menikah ia menjadi perempuan yang taat dan salih. Kenapa tidak, seorang laki-laki yang sudah belajar agama dan siap menikah menjadi imam untuk janda anak dua yang hampir berada dalam kemusyikan atas kebodohannya sendiri. Wallahu’lam

 

Sumber gambar: KabarMakkah.com

  • view 336