Kebaikan dan Kejahatan: Keseimbangan yang Terpelihara  

Haifa  Afifah
Karya Haifa  Afifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Oktober 2016
Kebaikan dan Kejahatan: Keseimbangan yang Terpelihara   

 

Sering kita merasa iri dengan anak-anak yang timur sana, yang dapat menghafal Alquran, sementara keadaan mereka penuh pertempuran. Sementara anak-anak remaja disekitar kita membrutal, penghormatan mereka kepada guru atau orang yang lebih tua hampir musnah. Tidak tahu mau. Tapi disisi lain kita sering datang ke kajian yang ternyata banyak anak remaja menghadiri acara itu. Acara kajian remaja jadi banyak diselenggarakan.

Saya melihat, dunia selalu berusaha untuk menyeimbangkan diri. Entah dari perubahan iklim, cuaca dan sebagaimanya. Prilaku manusia pun diatur sedemikian rupa. Biar seimbang.

Kita boleh merasa nelangsa atau mungkin bersyukur atas dasar keseimbangan yang terpelihara itu. Kita sudah seharusnya memilih, akan menjadi orang yang jahat atau menjadi orang baik. Jahat dan baik selalu berdampingan. Tak terpisahkan.

Contoh kasus, bila disekolah terdapat segerombolan preman yang seringnya mendeskriminasi, secara bertahap, golongan orang baik akan terbentuk, salah satunya untuk melaksanakan misi penyelamatan gangguan preman sekolah.

Dunia bekerja seperti itu, memelihara keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan. Maka jika kamu menginginkan kebaikan yang menyebarluas dan dominan, maka kejahatanpun akan sama menyiring sebagaimana kebaikan itu membesarkan wilayah.

Keputusan kita menjadi saklek. Akan menjadi orang baik atau orang jahat. Pihak netral tak jarang dianggap tidak ada. Kamu bisa me-review. Dimasa sekolah dulu, orang baik dan orang jahat selalu dominan dibicarakan. Oleh guru-guru, oleh teman-teman dan kakak senior. Sementara orang yang biasa-biasa saja biasanya tak pernah dibicarakan. Untuk apa. Kalau kamu berada di pihak netral, maka kamu adalah orang yang hilang.

Tuhanpun, tak pernah membicarakan orang netral. Tuhan dalam firmannya selalu memberi hadiah kepada orang baik, dan selalu menghukum kepada orang jahat. Itulah timbal balik yang didapat.

Maka sebagai manusia yang dibebaskan untuk memilih, seharusnya kita berbahagia karena kita bisa menjadi apa yang kita inginkan. Ingat, Tuhan tak pernah memaksa.

Bersiap siap lah, hay! Orang baik, kau akan berhadapan dengan orang jahat dengan tingkat kejahatan yang sama dengan tingkat energi kebaikanmu. Sebaliknya, aku ingin berseru kepada orang jahat, semakin kejahatanmu mengancam, maka orang baik akan balik mengancam peranmu. Sama persis, setara. Keseimbangan yang selalu terpelihara.

 

Sumber Gambar: https://muslimah.or.id/

  • view 463