Waktu, Ruang dan Pertemuan [4]

Haifa  Afifah
Karya Haifa  Afifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Oktober 2016
Waktu, Ruang dan Pertemuan [4]

Ada pertemuan darurat yang harus dihadiri, sore ini, sementara Ruqi bekerja sampai pukul 17.00 perkiraan waktu sampai tempat sekitar satu setengah jam, tapi hari ini adalah dari Sabtu, ada jadwal pengajar sampai pukul 8 malam.

Ruqi menghubungi adik didiknya, tapi tak jua mendapat tanggapan, kemarin adik didiknya itu bilang ia sedang sakit, sehingga ada kemungkinan hari ini harus beristirahat. Karena pesan tak kunjung berbalas, Ruqi meninggalkan pesan untuk tidak ada pertemuan hari ini. Ia menyarankan adiknya untuk beristirahat terlebih dahulu. Semoga senin keadaannya sudah membaik dan mereka bisa kembali belajar seperti biasa.

Setelah jam menunjukan pukul lima tepat, sore itu Ruqi memutuskan untuk menghadiri pertemuan darurat itu. Laju kecepatan motornya tidak biasanya, ia mengejar waktu tiba lebih cepat. Tak ada yang ia pikirkan lagi, selain untuk bisa sampai disana dengan cepat.

Jarak semakin dekat. Shougi menghubungi Ruqi, dan meminta Ruqi agar ia bisa ikut ke tempat yang akan ia tuju. Ruqi tak keberatan, dan kebetulah posisi Shougi dan Ruqi dekat, sehingga Ruqi menyarankan untuk cepat standby di tepi jalan, karena Ruqi akan menuju tempat mereka dengan cepat.

Hujan mengguyur tipis. Mobil dan motor padati kota, ada pembangunan Skywalk, Ruqi harus bersabar dan tak boleh terburu-buru. Mereka bertemu di dekat toko boneka. Ada mini market yang menyediakan kursi dan meja. Shougi mengajak Ruqi untuk memarkirkan motor dan berteduh sementara.

Ruqi kira hanya ada Shougi saja, dilihat ia membawa seorang teman. Bagaimana aku membawa keduanya pergi. Keluh Ruqi sambil mencari jalan keluar.

Rencana-rencana dalam pikiran Ruqi menjadi benang-benang yang kusut. Pasalnya besok ia masih galau soal keberangkatannya ke Jakarta. Ruqi tidak boleh pergi sendiri, lantas ia mengajak Rivan untuk menemani. Karena biar bagaimanapun, hanya Rivan teman satu kelompoknya yang sangat memungkinkan untuk bepergian.

Pada akhirnya Rivan berhasil dibujuk pergi, mereka masih menentukan akan memakai bis atau kereta. Ruqi cenderung menggunakan bis, sedangkan Rivan menyarankan untuk menggunakan travel. Percakapan keduanya terhenti. Belum ada keputusan.

Sampai malam itu tiba, tak ada tanggapan lagi dari Rivan. Ruqi hanya menunggu jawaban. Sementara ia dihadapkan dengan dua orang laki-laki jawa yang ingin ditemani pergi. Muncul kecurigaan kalau mereka berdua ingin ditemani sampai besok, karena besok adalah hari minggu, mereka pikir mungkin aku tak ada acara. Tapi benar, Ruqi  masih dilema, dia khawatir ada keputusan tiba-tiba dari Rivan untuk pergi. Sehingga nanti Ruqi akan kebingungan, sebab ia belum berkemas dan menyiapkan apa-apa. Sementara malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya.

Setelah dipastikan ada kendaraan lain yang bisa membawa satunya untuk pergi, Shougi dan temannya manut pada apa yang Ruqi lakukan, bagi mereka yang terpenting adalah, tidak ada waktu yang disia-siakan. Mereka sudah terlanjur ke Bandung. Tak mungkin hanya dihabiskan untuk berdiam diri saja di apartemen.

Setelah malam menjadi ruang perkenalan pertama, besoknya adalah waktu untuk menjelajah banyak hal. Shougi meminta Ruqi untuk bisa bertemu esok hari, Ruqi memutuskan dengan paksa bahwa dia tidak akan pergi ke Jakarta. Ruqi bersiao dan berseka, mereka bertemu ditempat yang dijanjikan. Mereka pergi ke taman-taman kota.

“Aku baru bertama kali pergi ke taman ini” sambil berjalan memasuki taman yang baru direnovasi Ruqi memperingatkan Shougi untuk tidak banyak bertanya soal taman, karena Ruqi pun baru pertama kali kesana.

“Sungguh?” Shougi pikir Ruqi sudah menjalani semuanya. Tapi itu tak menjadi masalah untuk mereka. Cukup menikmati yang ada, disini tampak indah dan damai, sampai ada perasaan tak mau pergi dari kota ini. Shougi memercik tekad untuk bisa kembali ke tempat ini lagi. Mereka berpisah, siang ini Ruqi punya agenda yang harus dihadiri.

Bisa bertemu lagi kah. Angkutan kota sudah membawanya pergi, Ruqi melihat punggung mereka yang berjalan di trotoar. Sudah waktunya perpisahan. Sore ini Shougi akan pulang dengan kereta. Sementara Putra akan cek out pada malam hari. Besok ia harus bekerja. Sementara Shougi akan sangat rindu untuk kembali.

Ada banyak dialog yang tercipta diantara keduanya atau ketiganya. Ruqi lebih akrab dengan Shougi, Shougi lebih senang bercerita kepada Ruqi sampai pada akhirnya Ruqi terpikir untuk pergi ke Yogya untuk bertemu dengan Shougi, dengan alibi urusan memulai pergerakan menjalankan bisnis bersama.

“Kapan kau punya waktu luang?” berpikir sekeras apapun Ruqi tak mampu mendapatkan jalan keluar. Nyatanya benar. Ruqi bekerja enam hari dari pagi hingga sore. Kapan kesempatan ia bisa keluar kota. Ia berharap ada tanggal merah di kalender. Tapi semua jatuh di hari minggu.

Keesokan harinya, atasannya di kantor memanggi Ruqi ke ruangannya dan menyampaikan bahwa minggu depan Ruqi hanya bekerja tiga hari saja, Kamis sampai sabtu. Melihat peluang itu Ruqi menghubungi Shougi untuk menyampaikan kabar gembira.

“Aku akan ke Yogya” Ruqi memastikan kalau tidak ada agenda dihari senin sampai rabu. Kontrol mata adiknya di hari senin minggu depan, sudah dipastikan ia punya waktu luang untuk pergi.

Tunggu, urusanku dikampus belum selesai. Ruqi merencanakan besok untuk tidak masuk kerja dengan alasan izin mengantar adik keluar kota. Waktu seharian itu ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Kalau pulang hari selasa, itu terlalu cepat” Shougi menelephon Ruqi yang saat itu sedang berada di stasiun untuk memesan tiket .

“Aku akan pastikan urusan di kampus aman. Setelah dipastikan begitu akan aku putuskan akan pulang hari selasa atau hari rabu” setelah mendapatkan tiket berangkat, Ruqi langsung pergi ketempat lain. Sebelum ke kampus ia harus menyampaikan amanat ke tempat rumah singgah, proyek sosial yang digarap Ruqi dan teman-teman.

Anak anak disana terlalu antusias. Berencana hanya berkunjung sebentar, Ruqi menghabiskan waktu dua jam, hari semakin sore. Akhirnya Ruqi bisa berpamitan tanpa harus menggantungkan percapakan dengan anak-anak itu.

Bergegas Ruqi mengendarain motornya, pergi ke kampus. Ruqi tiba pukul tiga sore. Beberapa civitas kampus sudah pulang. Ia pergi ke tempat yang dituju. Mengonfirmasi beberapa hal yang ingin ia ketahui, ternyata kehawatirannya terlalu berlebihan. Berkasnya aman dan sudah terkumpul. Urusan Ruqi dengan kampus sementara selesai. Kabar baik untuk Shougi. Ruqi pulang di hari rabu.

Tentang waktu yang berjalan seakan teratur dan terencana. Ruqi memasuki ruang ruang panggung peran untuk membuat serangkaian alur cerita. Pertemuannya dengan Shougi merupakan takdir yang harus dihadapi, keakraban mereka menjadi tekateki lain yang harus diprasangkai. Ruqi tak pernah mengenal Shougi sebelumnya, Shougi pun sama adanya. Tapi mereka ditakdirkan untuk bertemu, melewati berbagai macam peluang. Ruqi yang sangat sibuk selalu memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan dengan Shougi.

Apa yang Tuhan rencanakan sebenarnya? Ruqi tak mau banyak berfikir soal tanda. Meskipun pikirannya selalu otomatis merangkai tanda menjadi prasangka. Ruqi takut ini hanya episode kosong tak bermakna.

Sebelumnya, Ruqi pernah  mendramatisir pertemuannya dengan Rivan, sebagaimana Ruqi dengan Shougi. Pertemuannya dengan Rivan sudah seperti film drama percintaan.

Ruqi mungkin bisa membaca karakter seseorang dari tingkah laku dan raut wajah, tapi yang tersulit dari seorang laki-laki adalah, mengetahui apakah laki-laki itu tertarik dengan perempuan yang ada didekatnya atau tidak.

Sedekat apapun, sebergantung apapun laki-laki terhadap perempuan, belum bisa dikatakan bahwa laki-laki itu memiliki ketertarikan tertentu terhadap perempuan didekatnya. Bagi kebanyakan laki-laki, mereka merasa apa yang mereka lakukan kepada lawan jenisnya atau kepada siapapun itu wajar. Meski kadang bahkan sering, perempuan menafsirkannya berbeda.

 

------------------------------------

Sumber gambar: http://goresan-kecil-chara.blogspot.com/

  • view 190