Pondok Senja

Haidar Mnz
Karya Haidar Mnz Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 08 Mei 2016
Pondok Senja

Pondok senja

            Kuperkenalkan padamu suatu tempat, dimana langit dan bumi secara bersamaan bertasbih, pepohonan dan angin menari, dan beberapa burung pipit bernyanyi,di pondok ini, tempat di mana peninggalan sejarah-sejarah islam terlahir, sejarah-sejarah waktu terhenti, atau mungkin tempat sembunyi para santri-santri berpeci.

            Ada kisah sobat, yang merekah jelas dikala senja telah tiba, gunung mulai tak terlihat karena jingga perlahan menghitam, tapi semua jadi terlihat begitu indah kala peri-peri penjaga langit mulai berlari ke gua-gua sepi, disana tempat tidur dan bantal-bantal kecil menyambut hangat sang peri, memberi senyuman kecil.

            “ selamat datang peri, selamat bermimpi”

            Mereka tertidur pulas hingga menyingsingnya mentari, bermimpi dan memberi harapan-harapan di malam hari. Namun ini kisah tentang senja, bukan fajar ataupun peri-peri malam, ini kisah dimana Allah melukis langit dengan kegelapan, menakutkan dan penuh misteri. Kau tahu? Siapa yang bisa menebak apa yang ada di dalam malam? Kenapa Allah menciptakannya? Bagaimana Allah membuatnya? Aku bertanya pada capung merah yang ada di taman ini. Mereka begitu hening, menunggu tenggelamnya matahari,

            “ malam adalah tempat untuk peri-peri tidur, kau tahu? Seandainya tak ada malam, kita takkan pernah bermimpi! “ ujarnya

            Begitu pula dengan yang lainnya,semua setuju, aku bertanya pada angin, bebatuan tua di hulu sungai, burung pipit yang bernyanyi, para santri dengan peci miring, semuanya mengangguk, sepakat dengan apa yang dikatakan si capung merah. Begitulah Allah menciptakan malam, penuh dengan tanda tanya besar, gelap, dan bingung sepi. Tapi ada yang terselip di antara gelap malam! Kau tahu? Itulah sinar bintang dan gumpalan awan nebula malam, lukisan kedua setelah malam, disusul dengan rembulan, kemerlip cahaya bersinar, diam penuh keindahan.

            Semua itu lukisan hanya senja, bukan apa-apa, melainkan salah satu karya kecil yang Allah pamerkan. Ada yang lebih menawan di balik itu semua, yang bisa membuat semuanya terdiam hening tanpa banyak kata. Kau tahu apa itu? Ialah lantunan suci ayat-ayat qur’an, yang kami bacakan, kami para penghias langit-langit sore dengan warna jingga, disini kami, di pondok senja.

            Ini kisah kami, para pegawai Allah yang ditugaskan untuk membuat langit dan bumi bertasbih secara bersamaan, untuk membuat burung pipit bernyanyi, bukan, membuat para burung pipit bertasbih. Disini kami, di pondok senja, ketika semua orang lelah dengan kebahagiaan masing-masing, kami sibuk mengumpulkan kebahagiaan bersama, membaca al-qur’an, bertasbih dengan perlahan, shalat dengan penuh kekhusyuan dan hal-hal yang dapat membuat hati tentram dengan ketenangan.

            Mungkin ada yang berkata bahwa kami adalah sekumpulan orang-orang bau, penuh dengan jiwa-jiwa kampung,lusuh, kumel, atau hal yang memang terlihat kuno, tapi biarlah. Kami sudah terbiasa di bilang begitu, biarlah orang-orang yang akan sadar bahwa kami adalah pengisi suara-suara tasbih di celah-celah langit. Mungkin banyak orang berkata, kami penuh dengan fikiran fanatik, tidak ada kebersamaan, atau apapun itu. Suatu saat mereka yang mengatakan itu, akan tahu bahwa di sini kami, di pondok senja, berbagi bersama, tertawa dengan nada-nada lugu, canda, tawa, hidup dengan kebersamaan dan penuh dengan cinta-cinta suci menghiasi langit senja.

            Dan kami tahu, kalian bukan orang yang suka mencela kami, kami tahu kalian adalah bagian dari kami, karena sesungguhnya kita adalah saudara satu hati dalam keislaman sejati. Maka seandainya kalian ingin menikmati senja disini, datanglah sobat, datanglah kesini, sungguh cerita haru dan cinta perih, kebersamaan sendiri, patah hati sembunyi,bahkan kebahagiaan sejati ada disini, datanglah sobat, sebelum semuanya berakhir. Kami selalu menunggu dengan senyum ramah pemilik rumah, disini di pondok kami, tempat dimana kami berdiri.

Di Pondok senja

           

           

           

           

  • view 173