Aku dan senyum ibu

Haidar Mnz
Karya Haidar Mnz Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 30 April 2016
Aku dan senyum ibu

Aku dan senyum ibu

Meski kamu tidak menyadarinya, meski agak aneh kedengarannya, demikianlah aku ditakdirkan menjadi lelaki yang tak bisa membohongi perasaannya sendiri.

Dalam beberapa hari di usiamu yang telah habis, aku meyapamu dengan kebanggaan bahwa aku adalah lelaki yang bisa memberimu kebahagiaan ketika aku terlahir di dunia.

Kau ibu, aku belajar dari usiamu merawatku, lama setelah itu aku menjadi diriku sendiri, menjelajah dengan caraku, terkadang aku mengingatmu sebagai penunjuk arah dikala aku tersesat dalam perjalananku, tapi semua itu menjadi sebuah nilai bahwa dirimu adalah pengingat kebaikan antara diriku dan lompatan-lompatan waktu.

         Kini jalanku ibu, menjadi pilihan agar semua hal yang dulu kau berikan dengan belaian kasih, terjawab dengan rasa bangga bahwa akulah yang memilih jalanku sendiri untuk dirimu, semuanya ibu, semuanya adalah untukmu...

Sekarang aku menjadi penjelajah sangkar ilmu, disini aku belajar untuk mencintaimu dalam do’a, belajar untuk mencintaimu dengan jarak pemisah, dengan semua itu ibu, aku tahu bahwa aku sebagai seorang santri yang mencari cara agar keluar dari sangkar dengan segudang caraku untuk membanggakanmu.

Aku bangga bisa membuatmu tersenyum, kau tahu ibu, senyuman tipis yang kau berikan padaku, merupakan cara agar aku menemukan diriku kembali kala aku tersesat oleh dunia yang tak pernah kujelajahi. Di situ aku sadar, dirimu adalah hal yang memberiku jawaban atas tersesatnya perjalananku, kaulah semuanya, kaulah segalanya, kaulah tirai yang menghangatkanku, kaulah diriku...

Sampai pada suatu hari, ketika semuanya terlihat bercahaya, begitu pula bola matamu, di saat kau menjenguk diriku sebagaimana hal biasa terjadi di kalangan santri, aku bertutur dengan kata maaf yang ku genggam.

“ Ibu, sudah lama sangkar ini mendidikku, sama halnya didikan yang kau berikan, namun semua itu membuatku ingin bertanya pada diriku sendiri, apa yang sebenarnya ku cari, apa tujuanku di sangkar ini, apa yang bisa kulakukan agar aku bisa membuatmu tersenyum bangga akan diriku? Maafkan aku karena belum membuatmu begitu, ibu...!” mataku tak berani menatapnya

“ Ibu sudah bangga dengan dirimu, terutama kamu nak, kamu si bungsu, sudah lama ibu tak melihatmu begini, kau telah menemukan apa yang ibu cari selama ini, tanpa kesadaran ibu, kau tumbuh menjadi lelaki tangguh dengan kasih sayang dan hati yang lembut, terlihat dari matamu, penuh cahaya, nak. Kau lembut, dan kau mencerminkan diri ibu. Itu semua cukup untuk menjawab semua pertanyaanmu tadi, bahwa ibu telah bangga padamu, ibu mencintaimu”

          Aku tertunduk mendengar jawabannya, ia tersendat-sendat dalam berbicara karena tangis, begitu pula diriku, lembah pipiku telah basah dengan hujan air mata. Sebelum akhirnya aku merasakan kehangatan dari rangkulan yang ia berikan, ini adalah kebanggaan yang sebenarnya, aku terpejam menikmati suatu kehangatan dari dalam hati seorang pahlawan besar, ibuku.
          Sebelum akhirnya aku bercerita kepada semuanya , kepada bulan,bintang, senja dan malam, semuanya tersenyum mendengar ceritaku, aku bangga dengan senyuman itu, semuanya berarti bahwa diriku adalah hal yang bisa melengkapi bintang-bintang dengan ceritaku bersama ibu, semuanya berarti bahwa diriku adalah dirimu, Ibu.