Tanah dan Mr. Moonlight

Tanah dan Mr. Moonlight

Hafizh Pragitya
Karya Hafizh Pragitya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Januari 2018
Tanah dan Mr. Moonlight

To: Dani Hartono
Subject: Tanah --> Tanah

Dani yang ayah dan ibu cintai. Bagaimana kabarmu, nak? Ayah yakin kamu sehat di sana. Uang yang ayah kirim kemarin sudah sampai kan, nak? Semoga bermanfaat untuk kehidupanmu di sana. Ayah tak perlu menanyai bagaimana kegiatan dan pembelajaranmu di sana, karena sudah pasti berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang sudah biasa kamu rencanakan. Ayah dan ibu rindu kehadiranmu di rumah, tapi bukannya ayah menyuruhmu untuk pulang. Kapan pun kamu bisa untuk pulang kami akan menunggumu, nak. Adikmu menitip salam, ia juga rindu untuk bermain di dekat danau lagi bersamamu. Ia ingin naik rakit lagi denganmu. Ia ingin diajari berenang lagi dengan kamu sebagai pelatihnya. Ayah pernah berusaha menjadi pelatihnya, tapi ia sering kali mengingatmu untuk dijadikannya guru. Datanglah kapan pun kamu bisa.

Ayah hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Lebih tepatnya bukan hanya sesuatu, tapi beberapa hal. Mungkin hal-hal ini bisa dijadikan sebuah pohon beringin lebat yang meneduhkanmu, tapi ayah tidak berharap sejauh itu juga. Ketika kamu mau membacanya, ayah sudah sangat senang. Yang meneduhkanmu sebenarnya adalah kebahagiaan, nak. Kebahagiaan bukan datang dari hal-hal besar yang biasa kita perhatikan dan lihat di iklan, film, acara-acara televisi, dan dunia besar di ujung dunia sana. Bukan itu. Kebahagiaan didapat dari hal-hal kecil, yang bahkan jarang dilakukan dan dilihat manusia. Ayah minta maaf dulu sebelumnya karena terlalu banyak omong dan menceramahi kamu. Kamu pasti lebih pintar dan cerdas dari pada ayah. Kakakmu kemarin masuk rumah sakit lagi untuk rehabilitas, nak. Ia tidak bilang rindu, tapi dari sikap dan kesehariannya ayah bisa melihat bahwa ia pun rindu denganmu. Gagapnya kambuh lagi. Ia terlalu kelelahan dari kegiatan-kegiatan di hari-harinya yang sibuk. Ayah hanya ingin menginformasikan hal ini. Ayah minta doanya untuk kakakmu. Dua minggu sebelum ayah mengirimkan pesan ini kakakmu mengamuk besar di rumah. Masih untung kala itu ia tak menghancurkan perabotan dan memecahkan segala yang ada di rumah, tapi metode penghancurannya diganti ke hal yang lebih ekstrem, ia mulai menghancurkan tubuhnya sendiri. Ia menjedoti kepalanya ke tembok dan ke lantai. Ia mencakar-cakar kulit wajah, tubuh, lengan, dan kakinya sampai lecet bahkan sebagiannya berdarah. Ia memukul-mukul kepalanya hingga pening. Ia menjanggut rambutnya hingga rontok beberapa, nak. Ayah bisa melihat dari matanya bahwa ia sedang tidak bahagia. Dengan segala rutinitasnya yang mengangkat dirinya ke kedudukan yang lebih tinggi, ia malah dibuat seperti itu. Maka dari itu ayah akan selalu berpesan kepadamu untuk selalu bahagia bukan dengan cara muluk-muluk seperti orang-orang di atas. Berbahagialah dengan hal sederhana, nak.

Ayah juga teringat sesuatu saat ziarah ke makam ibu. Hidup itu memang terasa panjang, nak. Tapi tahukah kamu sesuatu yang menakjubkan? Hidup hanyalah sepanjang panah di antara dua kata ‘tanah’. Pada dasarnya kita diciptakan oleh tanah dan akan mengakhirinya dengan kembali ke tanah. Tanah --> Tanah. Mungkin di sana ada spasi setelah kata ‘tanah’ pertama dan sebelum kata ‘tanah’ kedua, tapi itu hanyalah sebuah renggang di antara proses penciptaan dan kematian. Hidup hanya sepanjang itu, nak. Tapi yang ayah tandai adalah panah itu menyimbolkan sebuah proses yang terkadang kita hanya ingin melihat hasilnya dalam ekspetasi gemilang. Ya, proses. Terkadang kita hanya melihat cemerlangnya hidup dan teduhnya situasi surga nantinya tanpa memperhatikan liku panjang yang berduri dan sering menusuk kita hingga berdarah sebanyak kita minum air selama seminggu. Kita lebih sering menatap keindahan surga, padahal di sebuah sisi kita harus memperhatikan jalannya hidup panjang sepanjang tanda panah itu. Panah itu sangat sederhana, tapi jika dilihat lebih dekat lagi, maka kamu akan menemukan sesuatu yang lebih hebat dibanding hanya sebuah panah sederhana. Kita tak sadar itu, nak. Perginya ibu adalah sebuah hikayat bagi ayah. Sebuah hikayat realistis yang tak akan pernah ayah lupakan. Bahkan ketika di alam yang berbeda, ibu masih bisa mengajari ayah sesuatu yang dalam dan mendasar. Ayah sangat mengasihani kakakmu itu, Dan. Padahal dulu ia hidup dengan sumringah yang selalu terpancar selama ia bisa memancarkannya. Ia akan menangis bila ia ingin mengutarakan sebuah kekesalan. Ia akan menulis di dalam jurnalnya jika ingin marah. Tapi tiba-tiba saja, ia bisa kehilangan itu semua dalam rentetan waktu yang lama. Ia kehilangan hidupnya yang berjalan lika-liku dengan indah. Kau pasti tahu itu, nak. Adikmu tertegun ketika melihatnya seperti itu dua minggu yang lalu. Ya, ia memang belum tahu karena kejadian sebelumnya berlangsung sebelum ia datang dan sebelum ibu pergi secara bersamaan. Ayah harap kamu mau mengingat apa yang ayah katakan padamu di sini. Ayah tak akan meminta apapun yang berlebihan kepadamu. Jadilah dirimu di dalam dirimu yang di atas dirimu. Jangan jadi dirimu di luar dirimu yang di bawah dirimu. Kamu pasti bisa, nak. Ayah percaya padamu.

Untuk pesan terakhir. Ingatlah selalu Tuhan Yang Maha Segala Hal Baik selalu ada di sisimu di mana pun dan kapan pun kamu berada. Ia akan selalu menolongmu lebih dari bantuan yang diberikan oleh ayah, ibu, keluarga, dan sahabat-sahabatmu. Ia Yang Maha Lebih. Janganlah jadi sukses tanpa-Nya, nak. Sukseslah dengan kasih-Nya. Sukseslah dengan memperhatikan, bukan sukses yang ingin diperhatikan. Sukseslah untuk memberi, bukan sukses untuk diberi. Salam terakhir dari ibu dari alam sana dan dari ayah, kak Joni, dan dik Marni.

Ayahmu


___


To: Ayah
Subject: My Mr. Moonlight

Sebelumnya, selamat ulang tahun Anniversary pernikahan ayah dan ibu yang ke 28, yah. Aku juga rindu dengan kalian semua di rumah. Maaf baru sempat mengirim pesan, yah. Uang yang dikirimkan ayah sudah sampai kok. Dan padahal, jika ayah bertanya perihal kegiatanku dan pembelajaranku di sini, maka sedang dalam proses yang tida terlalu menyenangkan. Ya tapi yang namanya proses kan memang tidak melulu sesuai dengan ekspetasi seperti yang pernah ayah bilang. Nilai ujian tengah semesterku bobrok, yah. Tapi itu lebih disebabkan karena pengaturan waktuku yang salah, jadi wajar saja. Toh aku masih belajar. Benarkah si Marni memintaku untuk mengajarinya berenang di danau? Mau taukah sesuatu hal yang tidak lucu, yah, ketika pemebelajaran berenang dimulai? Ia mulai meracau adakah hiu di danau yang tidak dalam itu atau berkomentar terus-menerus perihal gurita raksasa yang akan memakannya. Sepertinya ia terlalu banyak membaca dongeng dan menonton film.

Aku juga ikut pundung atas kejadian yang kak Joni hadapi sekarang. Ya, aku melihat dengan jelas bagaimana enam tahun lalu ia kehilangan kesadaran. Dan aku melihat bagaimana tak bahagianya dirinya. Jika aku di sana aku akan membantu ayah dan Marni untuk menenangkannya. Mungkin ada yang bisa kubantu, yah, di sini untuknya? Ia adalah panutanku, sebenarnya. Ia adalah seorang kakak yang rajin meskipun sering juga menyebalkan. Aku tahu bagaimana kakak jika kelelahan. Ia tak akan berbicara kepada siapapun di rumah dan akan mengurung dirinya di dalam ke kamar selama berhari-hari. Tolong salamkan salam hangatku kepadanya, aku rindu kak Joni.

Jika membaca pesan-pesan ayah, aku jadi teringat juga akan suatu hal. Tahukah ayah Mr. Moonlight yang dinyanyikan The Beatles? Itu salah satu lagu yang dengan hebat dinyanyikan dengan instrumen yang merdu. Dan ternyata di sana Paul memainkan organ. Liriknya, walaupun tidak dibuat langsung oleh mereka, tapi dibuat oleh Roy Lee Johnson saat ia bermain dengan Willie “Piano Red” di Dr. Feelgood and The Interns, tapi mengingatkanku begitu saja pada ayah. Aku bukan orang yang terlalu melodramatis, dan aku juga tidak ingin mendramatisir pesan ini, tapi you’re my Mr. Moonlight, yah.

You came to me one summer night
And from your beam you made my dream
And from the world you sent my girl
And from above you sent us love
And now she is mine
I think you’re fine
Cos we love you, Mr. Moonlight

Benar kan? Mr. Moonlight mirip dengan ayah. Sebenarnya aku tidak mau mendramatisir hal ini. Sungguh. Aku hanya ingin menerjemahkannya saja untuk ayah sesuai dengan konteks diri ayah. Begini bunyinya: Ayah selalu datang ketika malam-malam kering untuk menasihatiku. Ketika ayah tersenyum (walaupun aku tak bisa melihatnya akhir-akhir ini), ayah memunculkan banyak harapan dan mimpi kepada anakmu yang selalu merasa sendiri. Dan dari duniamu kau kirimkan kekasihku (tapi mungkin konteks di sini bukan kekasih, lebih tepatnya perempuan spesial seperti ibu). Dan dari atas kau mengirim kepada kami (keluargamu) sebuah cinta. Dan dia sekarang milikku (aku tidak terlalu yakin ingin siapa dia di sini). Aku berpikir kau akan senang, karena kami mencintaimu ayah, Mr. Moonlight kami.

Lagu ini sangat enak untuk didengar, percayalah. Mungkin beberapa komentar menyatakan bahwa lagu ini salah satu yang kurang berhasil atau yang pantas untuk dibenci, tapi kukira aku mencintainya. Cobalah dengar lagu-lagu The Beatles sesekali dan beralihlah dari lagu-lagu Koes Plus yang sering ayah dengar. Aku turut berduka juga atas kepergian Koes beberapa minggu lalu. Semoga ayah tidak terlalu tertekan dengan hal ini. Mungkin nanti sesekali kita bisa menziarahinya.

Mengenai tanpa panah itu, aku setuju. Benar sekali bahwa hidup hanya sepanjang panah di antara kedua kata ‘tanah’. Dan kita sedang berjalan di atas panah itu sekarang. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu kepada ayah di luar konteks tanda panah. Jika memang benar hidup hanya sementara, kenapa orang-orang di sekitar kita membuat itu menjadi seperti abadi. Maksudku, mereka seperti tidak benar-benar menyadari sebauh makna dari hidup. teman-temanku saja lebih memilih senang-senang dan hura-hura dari pada memaknai kata ‘hidup’ yang terkadang memang akui membosankan. Maksudku, hidup juga terkadang membosankan. Aku bukan bermaksud untuk mengartikannya sebagai ‘aku bosan hidup’, tapi aku juga sedang mencari yang ayah sarankan, sebuah kebahagiaan. Dan aku belum mendapatkannya. Aku belum yakin benar-benar bisa mendapatkannya. Baru saja kemarin aku merasa sangat terganggu dengan kehidupan sekitar. Ya, seperti itulah. Pasti ayah tahu. Orang-orang di sekitarku sering aku ingin jauhi saja, karena ketika berbicara dengan mereka aku tidak merasa pembicaraan itu penting. Maksudku, mereka membicarakan hal-hal omongkosong, dan aku ingin saja menonjoki mereka satu per satu jika boleh ketika berbicara. Aku tidak mengerti kenapa, tapi itulah yang terjadi.

Kak Joni sedang sakit, dan mungkin bisa saja kambuh di hari-hari kemudian dan aku tidak mengharapkan hal itu, aku bilang bisa saja. Dan tolong, yah, jangan terlalu membebani aku dengan urusan keluarga yang rumit. Aku mohon. Maksudku, aku memang sudah besar, tapi mungkin secara perlahan saja untuk mempertanggungjawabkan diriku untuk sebuah problematika besar di keluarga. Aku kira seperti itu. sebenarnya aku tidak tahu apa yang aku bicarakan, tapi itu maksudku. Aku sedang merasa dalam tekanan juga akhir-akhir ini. Aku benci kehidupan sekitar. Aku benci tugas-tugas yang menumpuk. Aku benci penjaga perpustakaan pelit. Aku benci tukang parkir di Indomaret atau Alfamart. Aku benci polisi yang menilang sekaligus lapar. Aku benci orang-orang yang bermain FTV dan seakan dunia ini adalah selalu dunia cinta yang bau. Aku benci penulis-penulis buku melankolis yang membuat teman-temanku menjadi cengeng. Dan bahkan aku masih saja mengingat bagaimana ibu memperlakukanku dulu, ayah pasti ingat. Aku tahu ayah merindukannya dan belajar banyak hal darinya, tapi sesekali aku…ayah bisa meneruskan kalimat itu. Tapi aku akan senang untuk datang menziarahinya. Mungkin aku juga bisa mendapat pelajaran berharga ketika datang ke sana. Ibu kuanggap Michelle. Dari dulu aku hanya ingin dimengerti olehnya. Ya, mengerti diriku yang sebenarnya dan tidak hanya melihatku dari prestasi atau dunia luar. Kalau ayah bilang kepadaku agar menjadi diriku di dalam diriku, maka ibu hanya menjadikanku diriku di luar diriku. Aku cinta kepada ibu, aku juga merindukannya. Tapi terkadang masa lalu mengganggu hal-hal baik itu.

Tahukah ayah sesuatu? Akhir-akhir ini aku menganggap semua orang seperti sesuatu yang buruk. Wujud mereka saja manusia, tapi dalamnya hanya seonggok ruh yang sudah dikotori oleh sifat setan yang haus akan dunia. Mereka bisa terlihat baik, tapi pasti mereka punya sisi gelap dan hitam. Gelap yang bukan pasangan dari terang, tapi gelap yang benar-benar gelap. Bahkan aku menganggap itu pula kepada ayah. Maksudku, bukannya ayah berperilaku buruk, tapi inilah adanya, aku tidak tahu kenapa. Aku agak tergelak juga sehabis membaca novel Luis Sepulvéda yang berjudul ‘Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta’. Di sana ia menggugat manusia-manusia berpendidikan yang tak tahu adab. Mereka merasa beradab dan bisa menjadi mausia, tapi tak pernah memakainya. Aku mulai pusing sekarang. Mungkin aku butuh istirahat. Aku butuh rehat panjang sepertinya. Tapi ya, aku memang harus menyelesaikan studiku dulu. Aku akan menyelesaikannya. Maaf sudah berkata-kata buruk, yah. Aku berharap ayah mengerti apa yang kubicarakan. Terimakasih karena tidak pernah memaksaku akan banyak hal yang tidak bisa kukerjakan. Terimakasih karena masih mau menasihati anakmu, yah. Kaulah Mr. Moonlightku dan ibu adalah Michelleku.

Sekali lagi terimakasih, ayah. Aku rindu ayah, ibu, Kak Joni, dan Marni. Aku akan secepatnya pulang. Aku juga sudah merencanakannya setelah semester ini selesai. Aku berjanji. Aku akan ceritakan banyak hal ke ayah. Aku akan ceritakan bagaimana celengan ayamku bisa berbicara. Aku akan ceritakan ayah bagaimana pertemuanku dengan seorang gadis yang tak kukenal, ia sangat baik dan manis, tapi orang-orang lain menganggapku gila ketika berbicara dengannya. Aku juga akan berusaha untuk sukses seperti yang ayah bilang. Salam dan rindu hangat untuk ibu, Kak Joni, dan Marni.

Anakmu, Dani

  • view 93