Balada Cinta Seorang Astronaut

Hafizh Pragitya
Karya Hafizh Pragitya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Januari 2018
Balada Cinta Seorang Astronaut

2018
Hari ini adalah hari Minggu, 7 Oktober 2018. Seminggu lagi aku akan terbang ke angkasa untuk menuju Merkurius. Dan aku merasa sangat tegang bukan main. Bukan karena penerbanganku itu, tapi karena cintaku yang gagal lagi kubuktikan. Sial. Ini adalah permasalahanku yang telah kualami sejak lahir. Aku terkadang takut kepada perempuan yang kusukai. Padahal aku bersifat biasa-biasa saja kepada teman-teman perempuanku. Tapi keadaan itu berputar sembilan puluh derajat dengan perempuan yang ingin kujadikan pacar.
Penerbanganku ini adalah yang pertama. Untuk meneliti planet yang berpendar seperti bintang kala pagi dan petang itu. Misi ini adalah misi gabungan antara pihak Eropa dan Jepang yang akan mengirim dua satelit dengan menumpang kepada roket Ariene 5. Aku dan empat lainnya akan ikut serta sebagai pengamat isu yang telah beredar terhadap planet yang paling jarang dieksplorasi tersebut, yaitu Merkurius sedang menyusut. Gejala dari penyusutan ini sangatlah berbahaya kepada bumi dan umat manusia, yaitu akan menyebabkan dentuman besar karena penyusutan inti planet Merkurius yang dipicu oleh pendinginan, lalu inti akan berkontraksi, mengerut, retak-retak, dan bila sudah pada waktunya, inti tersebut akan bersifat seperti nuklir yang besarnya bukan main.
Hal-hal di atas sama sekali tak kupedulikan. Mau bumi hancur karena Merkurius meledak. Mau pesawat angkasaku meledak duluan sebelum bumi saat perjalanan. Mau pihak Eropa dan Jepang mengadakan pertempuran akibat gagal dalam percobaan ini. Atau mau aku mati di angkasa sekalipun aku tak peduli. Yang kupedulikan sekarang adalah aku butuh pendamping hidup. Hidupku sangat suram, kawan. Jika kalian berada di posisiku, kalian akan merasakannya. Sekarang aku sedang berdiri menghadap jendela di lantai dua apartemenku di Tokyo, Jepang, untuk konferensi lanjutan antara dua negara. Dan yang selalu muncul hanyalah wajah perempuan itu. Yang selama ini hinggap di otakku. Yang menjalar di darahku hingga masuk ke dalam jantung, paru-paru, dan semua organ dalam tubuhku. Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku yang dingin. Aku gugup. Aku benar-benar gugup dan dibuat depresi karena hal ini. Aku gugup, karena permasalahan utamanya adalah aku seorang laki-laki pengecut yang tak bisa mengatakan cinta kepada perempuan yang kucintai.
___
2008
Prestasi yang kudapat bukan main jumlahnya. Aku kuliah di Universitas ternama di Inggris di bidang Astronomi. Tapi aku sama sekali tak peduli dengan semua itu. Padahal, aku juga aktif di beberapa komunitas dan organisasi, bahkan aku mengetuai beberapa dari kumpulan tersebut. Yang aku pedulikan adalah tentang cinta. Aku akui bahwa aku sangat payah dalam hal ini. Tapi tak ada kata terlambat, bukan? Menjadi akademisi dan aktivis saja aku bisa, mengapa tidak dengan cinta? Aku percaya pasti aku bisa menggandeng seorang perempuan yang aku idamkan. Tapi pada hakikatnya aku memang benar-benar payah. Padahal, beberapa orang bilang bahwa orang sepertiku yang punya banyak prestasi dan memiliki paras yang memumpuni pasti mudah mendapatkan wanita, tapi semua itu omong kosong. Yang kurasakan hanya kehampaan bumi yang tak berbintang.
Sudah berkali-kali aku melakukan konsultasi kepada teman-temanku, tapi pada aksinya aku nihil keberhasilan. Setiap kali sudah berhasil mendekat, pasti aku mengalami depresi pemikiran yang sangat akut. Karena aku tidak pernah percaya diri akan apa yang telah kulakukan dan yang sudah kurencanakan. Aku selalu berpikir negatif kepada diriku sendiri ketika pintu hati perempuan yang sudah mendekat terbuka. Memang bodoh aku ini.
Sampai aku lulus, dengan gelar Cumlaude, aku tetap belum menggandeng perempuan idaman. Di hari kelulusanku aku murung hebat. Bahkan ketika pulang ke Negara asalku, aku hanya menangis seminggu penuh karena depresi berat. Aku tak berani cerita hal cengeng ini ke orangtuaku. Karena mereka adalah orang-orang yang menuntutku untuk jangan cengeng dan selalu optimis dalam hal pendidikan. Kau harus menggapai cita-citamu, nak, kata mereka. Tapi aku tetaplah pecundang kelas kakap dalam hal percintaan.
___
2015
Setelah menyelesaikan program Magister di Amerika, aku berhasil mendapatkan pekerjaan di NASA. Beberapa pelatihan untuk menggapai cita-citaku menjadi seorang astronaut kulakukan. Selama setahun lebih aku banting tulang, bahkan banting tubuhku sendiri untuk mendapatkan mimpiku tersebut. Tapi sekali lagi, aku sama sekali tak peduli dengan hal-hal omongkosong di atas. Sudah kucoba dekati lagi seorang perempuan, tapi benar bahwa aku hanyalah pecundang. Bangsat memang, tapi apa dayaku sebagai seorang manusia. Tetap berusaha memang mungkin, tapi lama-kelamaan aku lelah. Lelah dengan keadaanku yang setiap hari hanya diisi dengan kehampaan. Orang-orang di sekitarku dan bahkan di kampung halamanku memujiku karena aku bisa lulus S2 di Amerika lalu masuk ke NASA. Tapi apa hubungannya dengan cinta? Tak ada. Pujian mereka hanyalah ucapan sementara yang masuk telinga kananku, lalu keluar sebagai sebuah gas dari pantatku. Sama sekali tak berguna.
Setahun tujuh bulan berikutnya, aku diajak oleh seorang professor untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai penyusutan planet Merkurius karena kebetulan ia membaca tesisku yang mengacu kepada penciptaan sebuah alat canggih yang bisa mempelajari lingkungan bagian dalam dan luar planet yang memiliki suhu di atas 500 derajat celcius. Alat itu nantinya diberi nama Mercury Planetary Orbiter (MPO). Dan kebetulan alat itu dan suhu Merkurius sangatlah cocok. Dan ternyata, penelitian ini sama sekali tidak menghibur kehidupan cintaku.
___
2018
Besok pagi aku dan empat lainnya akan lepas landas. Misi ini dinamakan BepiColombo, yang akan memakan waktu setidaknya tujuh tahun keberangkatan. Dan menurut perkiraan penelitian, kami akan sampai pada tahun 2025. Malam ini kami mengadakan pesta kecil di sebuah auditorium di Landasan Kourou, Guyana Prancis, di bagian utara Amerika Selatan. Semuanya sangat bahagia saat itu karena kami akan menjelajah dan meneliti sebuah planet yang sudah lama dikenal oleh bangsa Sumeria 5.000 tahun lalu. Menurut sejarah, planet ini mendapatkan nama Merkurius dari para astronom Romawi, yang berarti sang pengirim pesan. Lalu, bisakah ia mengirimkanku pesan siapa perempuan idamanku? Atau pesan tentang bagaimana agar tidak menjadi pecundang dalam cinta? Itu masih sebuah misteri. Bila bisa mengirim pesan tentang hal-hal itu, aku pasti akan bahagia. Aku pun berharap, sepulangnya dari Merkurius, semoga bisa mendapatkan sahabat sehidup sematiku, walau umurku akan sudah sangat menua.
Esoknya, aku sudah duduk di depan para hadirin yang mendengar beberapa sambutan dari para birokrat. Setelah selesai, wawancara pun diadakan dengan wartawan-wartawan yang menyuarakan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku tidak penting untuk ditanyakan. Setelah itu kami berlima masuk landasan, dan menaiki pesawat angkasa perkasa itu. Kami masuk ke dalam bagian kemudi utama, lalu mengenakan helm astronaut yang sudah sejak lama kami semua idamkan, bahkan orangtua kami juga mengidamkannya. Dengan hitungan mundur, roketpun menyala dengan kobaran api yang menyembur. Memang ada situasi dramatis saat itu, semuanya jadi melamban dan hitungan mundur seakan sangat lambat. Tapi itu terjadi. Di angka terakhir penghitungan, kami berangkat.
___
2025
Tetap saja aku masih bingung hingga saat ini. Depresi masih saja membungkam di sudut-sudut syarafku. Dan ketidakpedulianku akan hal-hal penting masih saja berjalan seperti biasa. Karena satu hal, yaitu cinta. Semuanya yang orang lain merasa penting, bagiku semuanya biasa saja. Aku hanya mementingkan hal itu saja. Hal yang sampai saat ini aku belum temukan. Goblok? Memang. Hari ini adalah 19 Januari, 2025. Kami berada di tengah angkasa. Spesifikasinya adalah tujuh juta kilometer dari planet tujuan kami. Dan barusan kami telah melakukan terbang lintas pertama kepada planet Merkurius. Misi kami sampai saat ini berjalan lancar. Kami pun masih dalam keadaan sehat. Tapi bodohnya, dalam keadaan nyaman tersebut, kami tidak memperhatikan hal-hal kecil.
Seminggu setelah terbang lintas pertama, kami menemukan keadaan Merkurius yang sudah tidak stabil. Penyusutan planet tersebut semakin menjadi dikarenakan pendinginan inti planet yang kian meningkat. Kontraksi di dalamnya menjadikan inti semakin mengerut dan bergejolak. Dan beberapa jam setelah data itu masuk, kami semua panik. Komunikasi dengan bumi kami lakukan. Yang mereka katakan hanyalah omongkosong agar membuat kami tenang. Bayangkanlah, di jarak puluhan juta kilometer dengan keadaan planet yang paling dekat sedang tidak stabil, mereka mengatakan tenang. Kami mencari cara agar bisa menjauh, tapi perhitungannya sungguh kecil untuk selamat. Apakah aku masih bilang hal ini tidak penting? Ya. Ini sama sekali tidak mempengaruhiku. Aku merasa biasa saja. Bahkan empat lainnya heran dengan keadaanku kala itu. Beberapa hari kemudian hal itu pun terjadi.
Sebangun kami dari waktu tidur yang tak lelap, terdengar dentuman besar dari arah pesawat kami menuju. Kami masuk ke ruang utama kemudi, lalu melihat sebuah ledakan yang sangat besar lewat kaca depan pesawat. Empat lainnya kaget, tapi aku hanya termenung. “Aku mati.” Kata temanku yang berdiri tepat di sebelahku. “Kita mati.” Sahut lainnya yang berdiri paling depan. Seketika ledakan itu menjalar. Kala ini aku beruntung. Karena aku akan mati di angkasa, dan ledakan Merkurius ini akan sampai ke Bumi. Dan otomatis semua manusia akan mati. Dan perempuan idamanku pun akan mati. Jadi semuanya terjawab, bahwa cinta hanyalah omongkosong yang sesungguhnya. Ledakan itu pun menghancurleburkan pesawatku. Sebelum malaikat merenggut nyawaku, terbesit sebuah pernyataan. Lalu adakah cinta yang tak omongkosong? “Ada, bodoh. Cinta dari Tuhan yang telah memberimu banyak hal.” Jawab sang malaikat. Berarti, hanya cinta Tuhan yang abadi dan tidak omongkosong. Aku baru saja sadar akan hal itu.

  • view 200