Ayah tak lagi disini

Abdul Hafizh
Karya Abdul Hafizh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Oktober 2016
Ayah tak lagi disini

 

 

            Kutatap dia dengan penuh rasa kekaguman, pria dewasa tampak terlihat jelas kumis, jenggot menghiasi wajahnya, rambutnya sih sudah mulai sedikit keputihan, uban kayaknya itu, ya dialah pahlawan hidupku ayahku.

Kala itu usiaku 8 tahun mudanya, seorang pria kecil yang belum tahu banyak tentang kehidupan, pria yang masih imut-imutnya, masih lugu-lugu nya, yang fikirannya hanya main,main,main,teman,main ya itulah aku Irfan Handoko namaku.

 “bu ayah kok lama sekali sih pulangnya,?” guam ku sedikit murung.

“ sabar fan, bentar lagi ayah pulang kok, mungkin lagi dijalan “ tenang ibuku sembari menyiapkan lauk pauk dimeja makan.

“ ya udahlah irfan mau kerumah Deni, “ tandasku. Saat kakiku hendak melangkah keluar rumah terdengarlah suara ngebass ciri khas pria dewasa

“ assalamualaikum….. ayah pulang “. Yee itu ayah. “walaikumsalam, kok ayah lama banget sih pulangnya?” Tanya irfan.

 

 

“eh.. anak kesayangan ayah, tadi ayah ada sedikit urusan dikantor, jadinya lama. “ sambung ayahku.

 “ lama tetap lama ayah “sahutku dengan wajah murung.

 “ ih lucu deh ngeliat irfannya ayah ngambek, udah jangan ngambek lagi ayah ada hadiah buat irfan”. Canda ayahku.

“ beneran mana-mana yah?” sambungku mulai menghilangkan raut murung diwajah.

“ nih hadiah nya… tapi tutup matanya dulu. “ tandas ayahku.

Setelah itu aku memejamkan mataku dan kurasakan kecupan ayah dikeningku.

“ ayaahh, kok cuman ciuman sih..” guamku..

“ itu pertanda kasih sayah ayah irfan buat anak kesayangan ayah, eits tapi ada lagi kok, besok minggu kitaa, mancing bareng di kolamnya eyang” lanjut ayahku…

 “ yeeeee mancing mancing mancing” sahut ku kegirangan..

“ eh udah, makan dulu yah, irfan juga makan sama ayah “ tandas ibuku yang mengakhiri percakapan pendekku dengan ayah.

Minggu pagi rumahku telah disibukkan dengan berbagai aktifitas, tentunya aktifitas persiapan memancing kerumah eyang.

“ fan tolongin ayah sini, benarin joran, “ cakap ayahku.

“eh,bentar yah, lagi ganti baju, “ sambungku

“ iya, cepat ya fan” tandas ayah

“ eh ayah, irfan ini bekalnya jangan sampe lupa “ cakap ibu sambil memasukkan kotak nasi kedalam tas pancing.

“ibu memang juara, pas banget abis mincing makan di pondokkan sawah eyang” puji ayah.

“maaciih, ayah hehe, udah ah pagi-pagi udah gombal nih ayah” lanjut ibu sembari tertawa kecil.

“ ibu, ibu, ibu ngga ikut?” Tanya ku.

“ ngga fan, ibu dirumah aja, masih banyak kerjaan ibu, irfan sama ayah aja, salamin ya sama bik Sri key” jawab ibu.

“ ya deh bu, ntar disampein, dah ibu asalamualaikum” tandasku.

Sesampainya dirumah eyangaku tampak bahagia dan tak sabaran ingin mincing, beberapa waktu kemudian kami mincing di belakang rumah eyang.

“ ayaaahhhh, dapat nih ikan nya gimana nih “ tanyaku kekapnikan.

“ tarik pancingnya dan gulung jorannya fan” jawab ayah.

“ waah gede ikannya fan haha bagus fan, ibu bakalan senag nih ” sambung ayah kegirangan.

 . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Itulah salah satu momen- monen bahagia semasa kecilku yang tak terlupakan bersama ayah.

 Tujuh tahun berlalu masa-masa kecilku yang sangat-sangat berharga dihiasi oleh pria hebat yang bernama ayah. Seketika itu ayah selalu bercanda tawa, bercerita-cerita, bermain, memancing bersama aku pokoknya ayah is the best deh.

 

 

 Angka Lima Belas menunjukkan aku sudah tumbuh menjadi remaja, dimana masa-masa tempatnya mencari jati diri, mengganggap diri sendiri lebih baik, rasa keinginantahuan, rasa ego yang tinggi, dan pokoknya banyak deh.

Disitu jugalah aku mulai bergaul dengan teman-teman satu sekolah, wara wiri, sok sibuk dah, sok cool, banyaklah itulah yang membuat rasa kebahagiaan bersama ayah, sedikit terusikan dirumah, bagaimana tidak kini aku terlalu sibuk dengan teman-teman, sekolah, dan hal yang lain.

Disitulah pada suatu hari ayah menunjukkan sebuah sudut yang berbeda yang Selama ini aku lihat dari sisi ayah, yaitu amarah….

“ IRFAN, KEMANA SAJA KAMU SEHARIAN INI GAK PULANG!!!” Tanya ayah dengan nada yang tinggi.

Mendengarnya, aku sedikit terkejut tetapi jiwa muda akau keluar yaitu rasa ego, ya rasa ego tersebut membuat mulutku juga mengeluarkan kata yang sedikit kasar.

“ aku main bareng yuda, Ayah jangan terlalu protektif deh, udah kaya polisi aja, aku harus diawasi 24 jam!” jawab aku dengan nada menentang.

“ ngelawan kamu ya, udah berani ngomong gitu sama ayah!” sambung ayah dan mendaratlah tamparan itu, tamparan pertama ayah dimukaku.

“ ayah, ga boleh kasar, gitu sembarangan aja main pukul” bela ibuku.

“ dia itu, udah mulai kurang ajar bu!!!” sambung ayah..

Sejak itulah aku ngerasa dirumah bukan hal yang menyenangkan dan nyaman lagi..

Selalu ada saja ribut antara aku dan ayah..

“ fan tolongin ayah dong” pinta ayah terdengar dari halaman belakang rumah

Tetapi perkataan ayah tidak bergeming membuat ragaku bergerak menemuinya.

Tapi ayah tak membalas dengan amarah, dan dia hanya diam saja, kemudian tak disangka airmata pun terjatuh dipipinya.

 Tahun berlanjut, begitulah kisah selanjutnya antara aku dan ayah,

Tahun yang berlanjut itu membuat teman-teman ku menghilang semua masa itu taka da yang abadi, kuliahpun aku sudah hanpir selesai yang membuat aku kini berfikir lebih sedikit dewasa, memikirkan masa depan tentunya tanpa teman-teman yang dulu disampingku….

Tetapi suatu hal, ayah, ayah tetap saja dismpingku, mengajari aku mempersiapkan masa depan, mengajari aku banyak hal.

Suatu ketika rasa jenuh yang teramat akhirnya menghampiriku, dan kata ini pun keluar dari batinku “Tuhan aku bosan, aku jenuh, aku rindu padaMu, kembalikan aku Tuhan.” Syukurnya doa aku pun di kambulkan melalui ayahku, yah ayahku terkenal rajin dalam beribadah.

Magrib itu adzan berkumandang, ayah menghapiriku dikamar dan duduk disampingku, “fan solat bareng yuk, “ tandas ayahku.

“baiklah yah” aku mengiyakan pinta ayahku dan bergegas wudhu dan solat bareng, sehabis solat kami pun membaca Al-quran bersama, sehabis itu kami berkumpul dan ayah berbicara..

“fan dunia ini titipan, Allah itu maha esa maha segalanya, tawakalkan dirimu dengannya tak selamanya abadi, mau pekerjaan kita berusaha, berdoa dan Allah yang nentuin, dan begitu seterusnya, pada akhirnya kelak, Allah menginginkan kita kembali fan, kuburan itu sempit, gelap, sunyi, panas ga ada yang nolongin sekalipun itu keluarga kita fan” itulah perkataan ayah yang berubah hidupku menjadi lebih baik, tapi satu hal yang tak bisa terlepas dariku yaitu terkadang rasa egois itu masih dapat menembus raga dan fikirku. Tapi pokoknya aku menjadi orang yang lebih baik.

Dari situ, kami sering solat bareng, mengaji, dan lainnya. Seraya bakin kembali berkata “ Alahmdulillah ya Allah hamba menjadi lebih baik, inikah jawabanmu, “

Tahun berikutnya, akunpun melangkah lebih maju, setiap adzan berkumndang aku langkahkan kaki untuk mengunjungi rumah Allah masjid, masjid yang ada ga jauh dari rumahku, dan sehabisnya aku lanjut membaca Al-quran, dan hal itu setiap hari aku lakukan, dan hal itu membuat ayah kagum dan berkata dengan ibu “ bu Alhamdulillah, hidayah muncul dari diri Irfan”.

………………………………………….

Satu hal lagi yang tak terpungkiri adalah…ayah selama ini sering sakit-sakittan sudah berapa banyak uang, obat yang terbuang habis demi kata sembuh, tetapi nihil jua hasilnya, aku selalu berdoa agar Allah selalu memberikan kesembuhan buat ayah…

Malam itu ayah sakit parah, tapi aku acuh, itulah salah satu dosa aku kepada ayah..

Malam berikutnya ayah juga tak mengalami perubahan, ibu panik akhirnya

“fan liat ayah nih, irfan” sahut ibu

“eh, ayah, ayah kenapa ?” panic timbul dari diriku..

“ ngga papa kok bu, fan” sambung ayah dengan nada lemas

“ ngga apa apanya, fan gimana nih ayok bawa ayah kerumah sakit” jawab ibuku.

Ketika itu pun ayah dirawat dirumah sakit..

Sebulan berlalu dirumah sakit ayah tak mengalami perubahan, rasa lelah, leith, bosan, capek pun menghampiri.

Seminggu lamanya ayah tak sadarkan diri, kakak-kakakku,bibi,paman, kerabat dekat sudah berkumpul dirumah sakit.

“ fan… solat gih, bilang sama Allah, kalo kita udah ikhlas fan” cakap ibu dengan nada rendah dan sedih….

Setelahnya aku solat dimusholla rumah sakit bibir berdoa dalam kalbu, ya Allah hamba ikhlas, jika kau ambil ayah, hamba tau Engkau lebih saying kepadanya….” Doaku yang teramat pilu sehingga membuat air mata tertetes dipipi.

Dini harinya, ayah terbangun dan berkata…

“ fan…irfan… ifrannya ayah… anak ayah….” Sahut ayah..

“eh ayah, iya yah…” sembari menggenggam tangan ayah, dan kukecup kepala ayah..

“ jangan lupa solat yah… ayah bangga sama ifran, eh fan kita dimana nih?” Tanya ayah..

“ kita dirumah sakit yah” jawabku..

“ayah pengen pulang fan, mana baju kantor ayah yang putih, besok ayah pengen kekantor udah lama ga kekantor..” sambung ayah.

“ ngga yah… ayah musti sembuh dulu baru bisa kekantor” kembali jawabku.. 

……..

Keesokkan harinya ayah kembali tak sadarkan diri dan kondisinya memburuk, dan harus segera dilakukan cuci darah..

Ayah dipindahkan keruangan ICU, tanpa sadarkan diri….

Aku terus membimbingnya… Asyhadu Allah ila ha… illa Allah, Muhammad rasulullah, sahadat itu yang terus menerus kuucapkan ditelinga ayahku… tak hayal air mata juga menetes…

Malam itu senin 23.15… tubuh ayah yang terpasang ventilatorpun bergetar, dan kami pun panik, memanggil perawat yang bertugas, setekah diperiksa beberapa menit, perawat itu berkata “ yang sabar ya buk, bapak sudah ngga ada” sontak kamipun histeris,sehisterisnya….

Setelah nya jenazah ayah dibawa pulang kerumah, kamipun bersiap-siap untuk menjalankan fardu qifayah ayah..

Disamping raga ayah yang takbernyawa kubacakan surah yasin, kubuka satu-persatu lembaran yasin, tetesan air mata membasahi surah yasin itu..

……

 

Setelah dimandikan dan disolatkan…tibalah kami di pemakaman, disudut pemakaman terlihat lubang, yah itulah lubang 2X1 dimana raga ayah akan ditanam.

Aku masuk kelobang itu bersama dengan kakakku, dibukalah pentup keranda, terlihat ayah telah terbungkus kain putih, diangkatlah ayah, kami menyabutnya dari dalam lubang, kubuka perlahan kain yang menutup wajah ayah kuletakkan, kudekatkan wajah perlahan dengan tanah, …

Dengan hati yang menangis, kutarik nafas, kumandangan Allahuakbar…Allahuakbar … dengan suara lirih, sesudah itu kutup dengan papan, kami secara perlahan mulai mengguyuri tanah kedalam kuburan ayah, dan tertancaplah nisan bertuliskan Bambang Handoko, lahir 23 04 1963 wafat senin 18 10 2016…..

Melihat hal itu hati berkecamuk fikiran takmenentu,” ayah.. maafkan ifran, banyak dosa yah, maaf yah, ifran banyak salah, kini ifran ngga bisa apa-apa selain alfateha, semoga ayah tenang, kurang ayah lapang dan terang amin”

Bulan-bulan berlalu………………………

“fan irfan ikut ayah yuk?, kita mincing bareng kali ini dilaut loh.. tentu ikan nya gede-gede banget, dan ibu pasti sangat suka…. “ mendengar perkataan ayah membuat aku tersenyum riang…

“Allahuakbar…………. Allahuakbar…………………” kuamandang adzan subuh membangunkanku dari tidur, dan seraya hati berkata “ OH IYA YA AYAH TAK LAGI DISINI”

 

#Maaf jiak terdapat kesamaan, baik nama, dan hal apapun, semua itu hanya yang ada difikiran saya saja… terimakasih telah membaca

 #AbdulHafizh 23 Oktober 2016

  • view 279