Pak Karjan dan sepeda tuanya

Abdul Hafizh
Karya Abdul Hafizh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Juli 2016
Pak Karjan dan sepeda tuanya

Bahagian II

Setetes kesetiaan Mbah Siti

   Siti Huarijah si Nyonya Karjan Katminto Lahir Dua Bulan Tiga Belas Hari sebelum Bung Karno Membacakan secarcik kertas nan bersejarah bagi rakyat Indonesia yang disebut itu Proklamasi. Mbah Siti adalah buah Cinta antara Veteran pejuang kota Sleman Abdullah dan  Ngatinem, dan Mbah Siti adalah Sulung bagi ke tujuh adik-adiknya.

   Tak tahu jelasnya bagaimana mereka bisa bertemu, seingatnya mereka bertemu secara tak sengaja, saat itu mbah Siti terjatuh dari sepedanya sehabis berbelanja di pasar, jalanan sepi kala itu, tiba-tiba rintik hujan mulai mengguyuri tanah, deras malah jadinya, ketika itu pula datanglah sesosok Pria tegap nan berawakan gagah memberikan payung kepada mbah Siti, dan membawa sepeda mbah Siti dan memperbaikinya, sejak itulah awal kisah romansa mereka.

Termenung di dapur, sabil menatap kaleng berisikan padi yang telah berengkarnasi menjadi beras " hmm Ya Gusti sudah ampir habis " keluh Mbah Siti berkecamuk dalam hatinya.

bergegas kekamar, melihat dompet nya yang ada di almari " Alhamdulillah masih ada sisa dikit untuk besok " sembari menghitung lembaran rupiah yang sedikit lesung. disimpannya dalam genggamanya lantas bergegas meninggalkan rumah menuju warung Tukiyem di pokjokkan gang.

" yem berapa ini beras 5 canting?" tanya mbah. " 15 ribu mbah" sahut Tukiyem. "

" ya udah beras 5 canting, ini kangkung, telur dua, jadi berapaan yem?".

" kangkung seiket 4 rebu, telur 4 rebu jadi 23 rebu mbah." jawab kiyem sembari memasukkan belanjaan mbah kedalam kantong kresek.

" dah ini yem 23 ribu, matur nuhun ya " bergegas kembali kerumah.

Dirumah, si mbah begegas menyiapkan sarapan untuk sang suami tercinta.

Sore itu kicauan burung menghiasi kota Sleman, seperti biasa si mbah menunggu pak Karjan di berenda depan gubuk. rintik hujan mulai turun, dingin mulai terasa tetapi si Pak Karjan tak kunjung pulang.

" Gusti Allah udah hampir Magrib kok belum pulang ya si akang? " gelisah si mbah.

sepuluh menit pun berlalu seketika itu......

" Allahu Akbar, Allahu Akbar ". kumandang azan magrib pun tiba, diiringi hujan deras si mbah karjan belum jua pulang.

 raut kegelisahan makin napak di wajah si mbah, " kemana atuh ini akang ya Allah, semoga tak apa-apa" .

Detak jarum jam melewatkan 20 menit selepas ba'da Magrib.

" ndok, ndok, ndok, ayu Assalamualaikum akang pulang. " ya Pak Karjan akhirnya tiba jua, dengan sudah teramat basah kuyup.

" walaikumsallam, ya Allah akang, kemana saja kok, jam segini baru pulang? " perihatin si mbah.

" anu??... itu si aakkka......"

" ya Gusti itu tangan akang kenapa? kok berdarah, ?" sahut mbah sambil melihat tangan pak Karjan. 

" ini mbok, tadi si akang dapat musibah, pas lagi nganter pesanan eh malah jatoh." guam. pak Karjan.

" ya Allah udah deh, akang mandi gih, trus ntar mbok, bersihkan lukanya" tandas si mbah.

malam itu si mbah membesihkan luka suaminya, dengan penuh perhatian, hati-hati, penuh dengan kasih sayang.

setelah semuanya selesai, mandi, makan akhirnya mereka istirahat dan tidur.

" huk, huk, huuuk, " "huk, huk, huk, huk, " malam itu jam sebelas-an pak Karjan batuk-batuk.

" akang? batuk? panas kang badan akang ya Allah, akang sakit" takut si mbah,

" ga apa kok, bsok juga udah baikkan" jawab pak Karjan

" baikkan gimana panas banget ini akang?, besok berobat ya ngga usah kerja dulu." cemasnya

" udah ndok, akang ga apa, gak usah, kalo ngga kerja kita mau makan apa?" tandas pak Karjan

" udah ga usah dipaksain, ntar tambah parah, besok ke mantri ya pak Kasim. " sambung si mbah sambil menghapus air mata nya.

" ntar kang, si ndok kebelakang sebentar" lantas bergegas kebelakang.

menangis si mbah rupanya " ya Gusti uang sudah hambir habis, beras sedikit, si akang sakit, mudahkanlah ya Gusti Allah." jawab dalam hatinya.

............

kukkuriuuukkk, kukkuriuuuuukkkkk,  " kokookan Ayam jago pak Samad tetangga sebelah sudah menunjukkan waktu pagi dilanjutkan shutan adzan subuh.

tertatih dia, pak Karjan melakukan sholat subuh berjamaah bersama isteri di gubuk tua mereka. sehabis solat pak Karjan kembali berisitrahat.

jam 8 pak Karjan bersama isteri bergegas kerumah matri pak Kasim.

"Assalamualaikum" awal pak Karjan.

"walaikumsallam, duduk pak. " jawab pak Kasim

" ehh pak Karjan kenapa pak?. sambung pak Kasim.

" ini Dok, saya meriang, batuk-batuk, flu, soalnya kemarin kehujanan." lanjut pak Karjan

" oohhh, bisa tiduran pak kita periksa, maaf pak ya, buka mulutnya pak, ......., maaf pak angkat sedikit baju nya pak kita periksa" memeriksa pak Karjan dari mulut, kemudian menggunakan stetoskop, memeriksa bagian perut.

" suntik ya pak. " sambung pak Kasim.

" iya dok" singkat pak Karjan.

" maaf pak, bisa buka sedikit selananya, sakit sedikit ya pak."

"udah pak, bapak bisa duduk kembali, ini obat penurun panas nya dimunum 3X1 ya pak, Obat Batuknya, 3X1, trus yang ini untuk antibakterinya juga 3X1 pak. " sambil mengambil obat dan memberi label tiga kali satu pada bungkus obat.

" iya Dok, berapaan dok ya?" singkat tanya pak Karjan.

" ngga mahal kok, 35 ribu pak," tandas pak Kasim.

"Ini dok, makasih ya" lanjut pak Karjan.

"ya pak sama-sama semoga cepat lekas sembuh pak" yang bertanda mengakhiri perjumpaan mereka.

pulang Pak Karjan bersama dengan mbah Siti, ya mereka pulang dan pergi dengan berjalan kaki, karena tempat berobat tak begitu jauh dari gubuk mereka, sekitar membutuhkan waktu 5 menitan kalo berjalan.

sampai mereka digubuk tua tempat berteduh dihari tua mereka. ....

"Kang cepat sembuh ya, si ndok khawatir loh, dari kemarin toh kang, gih istirahat dulu, biar besok udah baiikan, diminum obatnya ya, si ndok masakin bubur dulu. kalo soal, makan udah kita masih ada kok persiapan untuk empat hari" panjang si mbah sebegitu perhatian nya kepada Pak Karjan.

" iya deh, akang nurut sama isteri akang, hari ini akang istirahat. lanjut berbaring dikamarnya.

si mbah begitu amat, teramat - amat perhatian, tulus, sayang, dengan pak Karjan pria yang dia kenal baik sudah hampir kurang lebih 50 tahunan. berpuluh-puluh tahun mereka arungi pahit nya hidup bersama walaupun diselemuti begitu banyak kesulitan, kesusahan, toh si mbah Siti masih tulus cinta nya ke Pak Karjan, begitu setianya ke Pak Karjan. 

50 Tahun bukan waktu yang sebentar setengah abad itu artinya, salut tetap langgeng di masa-masa tua mereka.

mungkin itulah setetes kesetian, rasa perhatian yang teramat dalam, kasih sayang cinta, seorang mbah Siti dalam berjuta-juta kenangan semasa kebersamaan mereka.

# maaf jika terdapat unsur-unsur kesamaan nama, kota, dan unsur-unsur yang terkait lainnya itu tidak dalam hal kesengajaan.

# maaf juga telat ya ^^ semoga bermanfaat bagi kita, bagi saya juga

#maaf ya kalo kurang menarin dan  saya mengharapkan komentar kalian untuk lebih baik lagi kedepannya.

# terimakasih banyak ya, ^^

 

 

 

  • view 170