Pak Karjan dan sepeda tuanya

Abdul Hafizh
Karya Abdul Hafizh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juni 2016
Pak Karjan dan sepeda tuanya

#Bahagian I Awal Fajar

Embun pagi masih pekatnya menyelimuti kota Sleman, sejuknya sepoi angin pagi yang menusuk kalbu, saat itulah dimana pak Karjan setiap hari memulai aktifitas rutinnya. mengayuh sepeda kesayangan yang bak jadi sahabat di masa tuanya, iya pak Karjan taklah muda lagi, keriput muka menjadi pertanda bahwa ia adalah kakek berusia 75 Tahun. Pak Karjan, ada juga yang memanggilnya dengan sebutan Mbah Karjan pagi itu sangat bersemangat mengayuh sepeda tuanya diiringi dengan senyuman yang terlihat jelas diparas muka kriputnya. pak karjan bekerja sehari - harinya adalah sebagai buruh angkut di pasar Sleman.

" pagi mbah, pie Kabare?" sahut Sartini si penjual sayur. sambil tersenyum pak Karjan menjawab" pagi, Alhamdulillah apik - apik wae tin, mbah masih gagah ni hahaha, misi ya mbah jalan lagi ya tin". pak Karjan berlalu meninggalkan tini.  "

pagi itu angka di alroji masih berdetak di angka 4 subuh, pak Karjan sudah tiba di toko Atong, toko nan bersejarah di Sleman tempat pak Karjan menukar keringatnya dengan beberapa lembar rupiah. "pagi pak" tandas pak Karjan. "eh, pak Karjan, ini yang oe suka dali lu, Disiplin waktu a". sahut Atong dengan logat chainis yang khas. " Makasih pak, pagi ini pesanan barang kesiapa saja pak". cakap pak karjan sembari bergegas melihat tumpukan kardus disudut toko. " ini pak, tiga dus, pak Slamet, toko sejahtera, dia olang sudah tunggu di tokonya". tandas Atong sambil menurunkan Kardus pesanan pak Slamet.  bergegaslah pak Karjan mengambil becak dinasnya dan langsung mengangkut Kardus - kardus berwana coklat muda itu. " pak, Uangnya sudah tadi malam pak Slamet kasih ke oe, nih tinggal barangnya aje, ati - ati di jalan pak." kata Atong. semangatnya pak Karjan mengayuh becak dinasnya, berkalungkan Handuk di lehernya. Perjalanan untuk sampai ke toko pak Slamet cukup jauh 2 Km kiranya, tapi 2 Km bukan halangan berarti bagi Pak Karjan yang tak muda lagi itu. Senyum khasnya menjadi tembok penipu lelahnya pak Karjan tua yang harus mengayuh becak sejauh 2 Km.

setibanya di toko pak Slamet, terlihat pria gemuk berdiri di depan toko yang tak lain adalah pak Slamet itu sendiri. " wahh Alhamdulillah udah sampe, selamat sampai tujuan pak Karjan. " cakap pak Slamet. " Alhamdulillah pak, ini pesanan bapak." tandas pak Karjan sambil menurunkan kardus di becak dinasnya. " dimana ini pak kardusnya?" sambung pak Karjan. " oh itu di dekat pintu aja pak" jawab pak Slamet. sambil mengecek sakunya, pak Slamet mengeluarkan beberapa sepuluh ribuan " ini pak, Trimakasih ya. " oh maaf pak ga usah terimakasih" pelan pak Karjan menolak. " ih ga boleh loh, anggap aja ucapan terimakasih dari saya pak" sambung pak Slamet. " ya saya ambil segini saja pak, udah cukup kok, maturnuhun pak. " kata pak Karjan yang hanya mengambil dua puluh ribu. " ya sami-sami pak, " sambungnya. sembari bersiap menaiki becak dinasnya pak Karjan berkata " pak saya pamit dulu ya, Assalamualaikum." walaikumsallam, ati-ati di jalan ya pak." tutup pak Slamet.

dalam perjalanan pak Karjan kembali ke toko Atong, tiba - tiba kumandang Azan saling bersahutan. " wah udah azan mana masjid yang dekat ya? " guam pak karjan di hatinya. Tak lama kemudian terlihatlah masjid Al- Fallah di pinggir jalan, langsung sahaja pak Karjan menepikan becak dinasnya, bergegas mencari tempat wudhu, untuk memunaikan ibadah shalat subuh rutinitas wajib pak Karjan di hari tuanya. pak Karjan solat berjamaah dengan khusu'nya mengarap pengambunan dan di ridhai oleh sang Khalik, Pencipata alam semesta. 5 menit berlalu pak Karjan telah usai beribadah dan besiap untuk memulai kembali aktifitasnya.

Pak Karjan kembali ke toko Atong, dan melakukan aktifitas - aktifitas rutinnya untuk menghantarkan barang - barang pesanan orang kesana kemari, timur, tenggara, selatan, ia selusuri demi mencukupi hari - hari tuanya.

Pak Karjan berkerja full tampa keluhan yang yang terucap baik dilisannya maupun guratan dahinya. Kegiatannya hari ini di akhiri pukul 17.00 Petang. " ini gaji bapak hari ini, oe salut banget sama lu pak, udah tua masih saja semangat makasih ya pak Karjan." kata Atong sambil memberikan selembar kertas bergambar tokoh proklamator Sukarno hatta warna merah. " terimakasih pak, ya udah kewajiban saya juga kok, saya pamit pak" akhir pak Karjan. "ya ati- ati pulangnya pak. " singkat Atong.

Angka 5 di jam, terlihat warna orange menghiasi langit - langit kota Slemat berhiasakan suara - suara merdu burung pipit, dan suara klentengan sapi, mengiringi gayuhan pak Karjan kembali pulang Kegubuk istana akhir hayatnya.

"Assalamualaikum ndok, akang pulang." sahut pak Karjan memanggil isteri tercintanya Siti. terlihat nenek yang menggunakan kain dan baju yang agak lesung keluar dari dalam rumah, ialah wanita tercinta pak Karjan. "Eh, akang udah pulang toh, " tandas mbah Siti sambil mencium tangan suaminya. " eh, istri kesyanganku udah rindu ya, hihi" canda pak Karjan. " hehehe, ahh, akang iki isowaelah" tawa mbah siti. " gih mandi kang, terus solat, kita mangan bareng, saya tunggu. " sambung mbah Siti. " oke deh, sayangku." gombal Pak Karjan.

Hari itu kota Sleman sudah berwarna hitam gelap, yang terdengar hanyalah suara - suara lantunan ayat - ayat al-quran dari berbagai masjid dan mushollah, di dekat gubuk pak Karjan yang mengawali istirahat pak Karjan bersama Siti isterinya tercinta, setelah berjam-jam berkeringat demi meraih rupiah penyambung masa tuanya.

bersambung...

tunggu ya Bahagian selanjutnya di postingan saya berikutnya :)

(Maaf jika memiliki kesamaan nama kota, Orang, dan sebagainya, itu hanya tanpa adanya unsur kesengajaan)

  • view 105