Sudut Malam

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 03 Januari 2018

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

2.7 K Hak Cipta Terlindungi
Sudut Malam

Malam, selalu berhasil membuat diri ini merenungkan banyak hal. Apalagi soal hidup, soal ambisi, soal cita-cita, soal motif, soalan-soalan lainnya yang membuat diri ini seperti habis memikirkan dunia.

Hidup yang tidak lama adalah keniscayaan. Sekuat apapun kita mengusahakan umur panjang, tidak akan pernah lebih dari 200 tahun. Bahkan jarang yang mencapai setengahnya.

Kini, di dunia kita disajikan pada pilihan-pilihan yang menarik hati, termasuk pilihan untuk berbuat baik. Sekian banyak ladang amal tersaji di depan mata kita. Sebanyak itu pula kita sering mengabaikannya, membiarkannya lewat begitu saja.

Lalu diri ini merenung. Jika berbuat baik saja belum tentu mendapat pahala, sebagaimana shalat kita selama ini belum tentu diterima. Sebab oleh niat atau hal-hal lain yang membuatnya menjadi sia-sia. Sementara setiap perbuatan buruk pasti dicatat. Bagaimana mungkin diri ini masih bisa berleha-leha tidak melakukan kebaikan, tidak melakukan apapun.

Diri ini, tentu saja masih salah di sana sini. Tapi itu bukan alasan untuk tidak melakukan suatu kebaikan. Shalat yang belum khusu’, bacaan Quran yang masih salah di sana sini, belum paham tajwidnya, ilmu agama yang masih terbatas, dan semua keterbatasan lainnya. Semua itu tidaklah tepat untuk menjadi alasan diri ini tidak berbuat baik.

Diri ini menginsyafi, bahwa sebagaian besar waktu sia-sia. Sebagian besar kesempatan hilang karena terlalu banyak berpikir, juga terlalu lama mengambil keputusan. Diri ini menginsyafi bahwa masih sering mengukur-ukur kebaikan, hanya ingin mengambil kebaikan yang sekiranya bernilai pahala besar dan mengabaikan yang kecil.

Diri ini menginsyafi masih sering mengukur-ukur kebaikan manusia dengan cara atau sudut pandang sendiri yang terbatas, hanya melihatnya dari satu sisi tanpa bersedia membuka diskusi, bertanya mengapa, bagaimana, dan pertanyaan lainnya yang membuat diri ini sadar bahwa diri ini juga manusia yang penuh kesalahan.

Dunia begitu piawai memalingkan manusia dari akhirat, memperjuangkan dunia yang tidak akan dibawa mati, padahal kehidupan kita adalah perjalanan menuju kematian, sebab kematian tidak menunggu apapun.

  • view 90