Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 21 Desember 2017   11:48 WIB
Menerima Segalanya

Kita percaya bahwa kejadian yang pernah kita alami selalu berkaitan dengan kejadian lainnya, begitu pula pertemuan kita kala hujan deras yang akhirnya memaksa kita untuk menepi berlindung di belakang kampus, pertemuan kita pahami bukan sekedar kebetulan karena hujan turun lantas kita bertemu, pertemuan kita adalah takdir sebab kita memiliki tujuan yang sama, sama-sama ingin hujan segera reda, sama-sama ingin segera pulang,  juga memiliki perasaan yang sama.

          Kita memahaminya tentang kejadian ini meski tak sampai mengutarakan dengan saling menyapa, kita juga sama memahami bahwa di antara kita tak ada hak untuk saling bertanya, sebagaimana islam menjaga kita dengan syariat-Nya.

          Semuanya berjalan misterius, seperti rencana sebelum rencana, ada yang sedang berlangsung di tengah kita sedang mempersiapkan rencana, ada hal yang tak sanggup dijangkau oleh akal tentang segala hal yang terjadi dalam hidup kita, semuanya di luar kendali, meski terkadang kita sudah lelah merangkai rencana, tapi semuanya menjadi sia-sia bahkan lebih indah dari sebuah rencana sederhana, tak ada yang lebih adil selain rencana Allah untuk kita.

          Boleh jadi pertemuan kita adalah awal dari doa yang Allah jawab atas harap yang selama ini kita panjatkan, lewat hujan, Allah mempertemukan kita, tanpa ada hujan kita akan seperti biasa berpura-pura tidak saling mengenal, barangkali inilah alasan kita mengapa selalu merindukan hujan yang darinya barangkali kita akan bertemu kembali.

          Hujan menghantarkan kita pada satu titik, bahwa hujan tak selalu harus dipandang buruk sebab fitrahnya hujan adalah rahmah seperti arti sebuah namamu, di satu sisi kita merasa aneh dengan yang katanya mengaku dewasa, kita sering merindukan hujan, saat hujan datang kita selalu berlindung di balik payung dan berlindung di bawah atap, bahkan diantara kita memaki hujan sebab tak bisa melanjutkan aktivitas, tidak benar-benar menyukai hanya di mulut saja, tindakannya tidak, barangkali kita hanya sedang mencari sensasi dan menjual rasa supaya dibilang romantis, nyatanya kita menyesali hujan yang juga tak kunjung reda, mendinginkan udara sekitar, dan membasahi jalan menjadi licin.

          Sayang cintanya hanya sebatas kata hanya menjadi kalimat status di media sosial, hanya untuk mendukung suasana melankolisnya, barangkali tidak akan pernah merasa kecuali kita menjadi bagian dari hujan itu sendiri, bagaimana sesekali kita mendengar orang lain mengatakan bahwa menyukai kita padahal di belakang itu semua tidak demikian, begitu juga manusia yang telah terlatih untuk berpura-pura di hadapan orang lain, memanipulasi katanya menjadi manis, dan kita akan belajar menjadi hujan meski ada yang tidak menyukai.

          Hujan akan tetap turun bagi orang yang merindukannya, kita tidak perlu menghabiskan hati dan waktu hanya untuk memikirkan orang-orang yang tidak menyukai kita, barangkali kita lebih tenang untuk mencurahkan hati dan pikiran kita untuk orang-orang yang menghargai kehadiran kita, untuk mereka yang menerima kita apa adanya.

          Tak perlu menanggapi orang-orang yang tidak menyukai kita, lebih baik membiarkannya seraya kita memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi, baik hati kita yang darinya orang di sekeliling kita menjadi nyaman dengan hati kita, lebih baik berdoa semoga Allah melembutkan hati orang-orang yang tidak menyukai kita, dan meluaskan hati kita untuk selalu menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain sebab kita bertemu bukan mencari yang sempurna, tapi hujan mempertemukan kita sebab kita memiliki kekurangan yang darinya kita akan saling mengisi, menjadikannya sempurna keimanan dan ketaatan kita kepada Allah.

          Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikut aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allah maka ia pun berhilir hanya kepada Allah “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Adz Dzariyat: 49)

          Hembusan angin perlahan menerpa wajah merasuk dalam sejuknya sapaan senja sore itu, gemuruh ombak menemani rutinitas alam yang tak pernah bosan mempersembahkan keindahannya, memang bukan hal yang mustahil ketika pasangan mata terhipnotis akan keindahan nuansa dunia yang penuh dengan fatamorgana cinta, sampai-sampai sang pujangga tak mampu berkata tatkala hati merasa hancur dengan untaian kata semu dari yang dinanti. 

            Begitupun dengan kita manusia biasa yang hanya bisa merasakan cinta itu dengan setulus hati, bukan niat tuk menerka namun kita merasa bahwa rindu kian menjadi candu, keistiqomahan goyah tatkala hati dan rasa tak sepaham akan cinta yang diridhai-Nya, rasanya lebih baik menunggu jika harus terluka kedua kalinya.

Karya : Hafidz Ridwan R