Bunga Kenangan_Relung Senja

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 20 Oktober 2017

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

868 Hak Cipta Terlindungi
Bunga Kenangan_Relung Senja

Bunga Kenangan

          Cobalah kita bayangkan tentang ketenangan jiwa yang mahal jika harus ditawar dengan harga, akupun berani menerka bahwa engkaupun rindu pada angin yang berbisik pada daun yang hampir jatuh, mengusap raga dengan asa, tercium wangi seuntai kuntum melati yang kau tanam saat jiwa mengikat rasa dalam sebuah keluarga, maka waktu tak akan pernah terulang.

          Masa lalu adalah kenangan dan setiap keadaan yang kau rasakan adalah bagian dari keikhlasan diri bahwa kita harus terus berjalan dengan kedewasaan, sebab rasa akan mudah diterka oleh jiwa tapi ketaatan pada Allah  dan kesederhanaan hidup tentang bagaimana membina dan menjaga rasa diantara kita adalah harta kita.

          Hujanpun kembali turun sepanjang hari memberikan rinai pada waktu untuk terus menunggu hingga semua berlalu, mata terpandang pada awan kecil mendung di langit barat seakan tak ada mentari yang akan menyapa dan sepertinya hujan akan semakin setia bersama.

          Satu sisi kita akan melihat tanah gersang terbasuh oleh guyuran hujan yang perlahan melenturkan tanah yang keras menjadi basah dan siap disemai dengan kehidupan baru untuk dunia.

          Kitapun mengerti atas pesan rahasia yang terselip pada setiap rintik hujan yang jatuh menghantam genting rumah sederhana, tentang hidup dan tentang rindu yang hujan bawa, tatkala angin basah menelisik pada raga kala dilanda rindu dan jiwa yang terburu-buru untuk menyemai cemburu, dikala mentari tak kunjung hadir mnjemput diri untuk kembali menyahdu seperti pertama kita bertemu.

          Kita hanya terdiam saja didepan pintu, menunggu atau ditunggui meski tanpa prolog janji terlebih dahulu, kita hanya berdiam diri meratap rintik hujan teriring sepi, lisan tak sanggup terbuka sebab tak ada bekal untuk berucap, hanya bisa berucap terbata-bata menyapa lewat suara lirih yang terkadang juga saling menghardik rasa dengan air mata.

          Begitulah kita sering bercakap setiap malam bersama hujan yang tak pernah bosan menyapa, kita berdialog pada suku kata yang dirangkai menjadi bait kalimat yang indah untuk kita terka pada setiap pesan rahasia sang pencipta,  hati kita saling merasa tentang semesta, saling bertukar hadiah kata, sebab sebuah rahasia menjadi indah untuk dibaca tatkala rasa diantara kita selalu sama meski semua akan menjelma menjadi jiwa yang fana.

          Kukirim padamu bebrapa kata yang sudah langka untuk membuktikan bahwa aku mampu untuk selalu menjaga apapun yang ada meskipun sederhana, begitupun dengan kata yang saat ini kau baca meski engkau harus menerka dengan rasa yang ada padamu saat ini tentang bagaimana perasaanku juga harus kau baca.

          Kata itu adalah serpihan rasa yang pernah kau kirimkan diawal jumpa, disaat semua tumbuh indah dengan kemilau dunia yang semakin memukai setiap mata yang melihatnya, dan kini semuanya segera hanyut bersama hujan dan mengiringmu pada laut bebas dengan jutaan dunia baru yang siap menampungmu dengan harapan yang selalu kau beri namun tak pernah menentu.

          Hujan semakin deras menyapa perlahan mengahanyutkan apa yang tersisa dari sebagian rasa yang pernah ada, hujan kecewa meluluh lantahkan rasa yang telah tertata pada sebuah bahasa jiwa, mungkin ini tentang jiwa yang semakin berkecamuk dan meronta untuk segera pergi menjauh dari guyuran hujan yang tak punya rasa pada jiwa-jiwa yang terluka.

          Semuanya akan selalu seperti ini, saat diri menanti dan tak melakukan apa-apa. Hujan mengajarkan pesan untuk selalu menunggu bahwa perjalanan hidup sangatlah panjang dan tak cukup waktu singkat untuk diterjang, hujan mengajarkan tentang kesabaran sebab kita harus meratap diri bahwa hidup bukan hanya sekedar makan tapi juga ibadah

           Sesekali menepi lalu berkaca bahwa raut wajah tak lagi muda, tak perlu tergesa-gesa untuk melangkah menuju dunia,  sebab diujung jalan hanyalah sebuah bingkai rahasia untuk kita ambil hikmahnya, maka hujan mengajarkan diri dan rasa untuk selalu merendah teriring diri untuk selalu menyelimutinya dengan bermuhasabah bahwa dunia hanyalah tempat bersinggah.