Sayap Kiri Yang Hilang_Bag 8 _Relung Senja

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 14 Oktober 2017

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

1 K Hak Cipta Terlindungi
Sayap Kiri Yang Hilang_Bag 8 _Relung Senja

 [ SAYAP KIRI YANG HILANG ]

            Senja itu mengingatkan kehilangan padanya beberapa bulan yang lalu disaat kehilangan merasakan indahnya cinta dan kebahagiaan yang tak bisa terlupakan begitu saja oleh benak kehilangan dengan pangeran cintanya disaat mereka masih bersama beberapa bulan yang lalu,namun kini tinggalah sebuah kenangan kelam hanya menyisakan bayangan bayangan masa lalu yang penuh kebencian jika kenangan itu teringat olehnya, ia hanya  bisa pasrah dengan keadaannya sekarang meskipun terkadang ia harus meneteskan air mata kala kenangan datang menyapanya, mengingat masa lalunya  karena di bukit inilah tempat yang dulu sering di kunjungi oleh kehilangan bersama kenangan pahitnya.

            Hembusan Angin perlahan menerpa wajah, merasuk dalam sejuknya sapaan senja sore itu,   gemuruh ombak menemani rutinitas alam yang tak pernah bosan mempersembahkan ke indahannya, memang bukan hal yang mustahil saat pasangan mata terbuai akan keindahan nuansa dunia yang penuh dengan fatamorgana cinta, sampai-sampai sang pujangga tak berdaya tuk berkata tatkala hati merasa hancur dengan untaian kata semu Cinta.

Sudah lama hati ini dipenuhi keraguan, mengunci jiwa dari kepastian yang hampir saja lepas dari genggaman, perlahan waktu mulai memaksa bahwa tangan tak lagi kuasa untuk menggengam harpan yang pergi bersama kenangan.

Kehilangan. Begitu aku memanggilnya, pertemuanku dengannya kala itu saat aku baru mengerti tentang sebuah keluarga 10 tahun yang lalu saat aku hadir ke dunia ini, dia hadir mengetuk pintu rumah ditengah kesunyian dan dinginya hujan kala itu, bertamu bertemu dengan ibu, ia seperti ibu dengan peragaanya, ada senyum manis terurai di bibirnya, ada lelah di raut wajahnya, kasih sayang yang hanya kurasakan singkat, tapi aku tahu kehilangan sangat berharga sebab karenanyalah aku hadir kedunia.

            Tangan kecilku tak sebanding dengan miliknya, dia duduk disamping tempatku berbaring, ia menceritakan sebuah kisah padaku, menggerakkan jarinya ke udara kosong, menunjuk satu bintang yang menghiasi indah diluar jendela kamarku.

            Katanya bintang itu adalah benda paling indah sedunia, aku setuju dengan kehilangan, ia mengatakan bahwa suatu saat nanti aku harus pergi kesana, menemukan sepotong cinta yang hilang, cinta seorang ibu yang tak pernah berkurang oleh waktu, tak pernah pudar dimakan usia, begitulah cinta seorang ibu yang paling tulus pada anaknya.

            Aku hanyut dalam dekapan hangat perasaan yang begitu dalam bersama kehilangan, aku merasa nyaman dengannya, hujan semakin menambah larut percakapan kami malam itu, namun kebahagiaanku malam itu harus sirna, kehilangan pergi meninggalkanku pergi jauh dan tak kembali lagi, malam-malam pun kulalui sendiri, tak ada lagi yang bercerita tentang bintang malam itu.

***

Hujan malam ini terasa lebih indah dari hujan yang turun malam sebelumnya, sepanjang perjalanan memoriku merekam hujan, tak ada yang lbih terasa selain malam ini, terdengar jelas alunan bulir jatuhnya yang menelisik begitu kelu, menghempas bumi dan membasahi sepanjang jalan kenangan, jatuhnya mengetuk tempat ruang sunyi bernama hati.

Aku menatap jauh ke luar rumah, hujan yang sabar menyamarkan pandangan hanya terlihat kelap-kelip cahaya lampu dari kampung  di ujung sebrang, malam pun kian syahdu kala nyanyian hewan malam mulai ramai bercengkrama, suaraya nyaring  di telinga yang kudengar dari bilik kamar bambu, rumah yang sederhana dari kayu diujung kampung dekat sawah.

Suara khas perkampungan yang tak asing kudengar, kesunyianya masih kental di kampung ini meski gubuk sederhana ini sudah lama kutinggalkan, semua tetap tak ada yang berubah, perbatannya berada pada tempatnya, rumah yang sudah mengambil segalanya dari hidupku, sebuah kampung dimana sang kehilangan ada didalamnya.

Terakhir kali aku melihat rumah ini, hatiku bergejolak tak karuan, sedih, bahagia dan marah berkecamuk dalam emosi, dan kini aku seakan memutar kembali memori  enam tahun lalu, semua terasa sama bahwa kehilangan telah mengambil  bintang hati dalam hidup, merenggut kebahagiaanku membawa pergi ayah dan ibuku untuk selamanya.

Hatiku menolak untuk ditenangkan, ada perasaan marah yang tak terungkap mengumpal menjadi segenggam dendam, mengutuk diri sendiri, mengapa dulu kubiarkan kehilangan bertamu dalam rumah,

aku terbangun dari lamunan, kulangkahkan kaki ke ke kamar ibu dan bapak, mataku tertuju pada suatu benda, air mata tak kuasa untuk ku bendung, fikiranku melayang seakan kembali ke masa lalu,, perlahan ku mendekat pada benda itu, tiba-tiba.....

Bersambung......

 

  • view 119