Jalan Pengharapan_Bag 7_Relung senja

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2017

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

700 Hak Cipta Terlindungi
Jalan Pengharapan_Bag 7_Relung senja

Gemercik hujan menghujam jutaan rindu yang tertanam dalam hati, mengukir kembali kenangan  yang lama tertimbun oleh luka dan rapuhnya pengharapan, sudah lama hati ini dalam duka, kecewa yang tak berujung pilu, mengunci segala asa yang kian hari kian menyapa seakan semua hidup dan jalan ini kian sia-sia, perlahan tiap rindu itu meresap dalam dada, membuka gembok rasa kala engkau hadir dengan pengharapan yang baru.

            Kerinduan. Jika kau kelak bertemu dengannya, katakan, aku ingin bertemu, aku ingin bertemu dengan orang-orang yang dulu pernah ku sia-siakan, kenangan yang pernah kulewatkan, sudah lama rindu ini menghujam, menelisik memaksa untuk mencari arti dari sebuah rasa rindu, sejak duka mengambil merenggut ereka semua, meninggalkanku sendiri pada jalan sepi, diantara riak awan yang gelap dan persimpangan jalan tanpa arah.

            Kehilangan, begitulah aku memanggilnya, aku bertemu pertama kali dengannya, kala hitungan usiaku masih cukup belia untuk belajar menerka rasa, dan sejak awal kehadiranku didunia ini, kehilangan mengetuk pintu rumah dengan hangat, membukanya dengan rasa, menyapaku dengan senyuman, dia ibu dan ayah ku, kehilangan menyapanya dengan santun, tak ada yang ku khawatirkan dari semuanya sebab mereka selalu tersenyum menyambutnya, dan kubiarkan kehilangan bertemu ayah dan ibu.

            Malam pun hadir, gelap kian pekat kala itu, kehilangan telah pulang pada peraduannya, hujan masih sabar turun mebasahi bumi, dan pepohonan dan daun disekitar pekarangan rumah, hewan kecilpun asyik saling bersapa, terdengar jelas suara jangkrik yang nyaring menemaniku malam itu, semua saling bersautan tak ketinggalan suara kodok yang selalu terdengar di dekat perairan, maklum rumah kami di kampung dan dekat dengan persawahan, wajar jika pemandangan ini menjadikanmu asing kala berkunjung ke gubuk sederhana kami.

            Inilah kehidupan sederhana kami, tak ada barang mahal seperti yang dimiliki tetangga sebelah atau pun kendaraan mewah, hanya tinggal perabotan sederhana yang kami pakai setiap hari, semuanya biasa saja tetapi kami memiliki sumber-sumber kebahagiaan dan ketenangan yang selalu kami dapatkan saat berkunjung bersama ke persawahan, ya” semuanya begitu sederhana.

            Ada banyak jalan dalam kehidupan diluarsana, diperkotaan melhat orang hilir mudik melangkah tanpa lelah, membuat diri semakin penat dengan segala hiruk pikuk nya, seakan tak ada waktu untuk tenang, kita melihat bagaimana yang bekerja keras mencari kebahagiaan sampai-sampai diburu waktu, kehidupan yang konsumtif menjadikan diri semakin lupa bahwa ada yang hilang dalam diri kita yaitu ketenangan dan kebahagiaan.

            Hidup adalah perjalanan pendek, tak ada yang bisa lama bertahan hidup, semua berjalan pada batasnya, bagaimana tidak kita melihat satu persatu teman kita pergi meninggalkan dunia ini, sedang kita seakan menunggu giliran sebab datangya tak memberi kabar, kita seperti berada pada antrian. Maka tak ada jalan pengharapan kita selain mempersembahkan apa yang kita miliki untuk ketaatan.

  • view 28