Dapur Keluarga_Bag 6_Relung Senja

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 16 September 2017

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

398 Hak Cipta Terlindungi
Dapur Keluarga_Bag 6_Relung Senja

Takaran seseorang dalam memilih kebahagiaan akan berbeda dengan penilaian orang lain, semua akan berbeda tak ada yang sama sebab kita memiliki jalan dan kehidupan yang berbeda, juga demikian saat kita menentukan pilihan mencari pendamping hidup, banyak ragam pilihan dan kriteria memilih dan memilah tergantung pada apa yang di fahami saat itu, semakin bertambahnya usia, semakin diri mengerti yang dulu sangat sukar di fahami, tentang perubahan pemikiran, perasaan, yang setiap waktu kian bertambah dan berubah.

            Masih teringat dulu saat masih menjadi remaja tanggung, sebagai laki-laki yang sedang tumbuh remaja, kita selalu menyukai perempuan lantaran parasnya yang cantik nan manis, suranya merdu, kulitnya indah dan bersinar aduhai, juga matanya yang berbinar tajam menusuk-nusuk ulu hati, semua menjadi syarat untuk kita tertarik padanya, kita tidak tahu kala itu, bahwa suka semacam itu hanyalah suka yang belum matang, usianya tidak lebih lama dari paket kuota internet yang tak bertahan lama setelah habis diganti dengan yang baru, kita tidak tahu bahwa kulit itu bisa gosong akibat terik matahari, wajah cantik dan tampan akan keriput seiring waktu, suara itu bisa melengking menyakitkan ketika marah, dasar remaja sih ya, pikirannya masih masih standar menyukai segala hal hanya karena apa yang tampak oleh mata.

            Dulu sewaktu kita belum tahu tentang itu, kita masih menilai bahwa standar kebahagiaan kita adalah segala hal yang bersifat materi, dan mungkinsaat ini kita masih mengalaminya, kita masih tersipu pada kecantikan dan ketampanan, memang pandangan pertama selalu berhasil memembuat terhanyut dan nikmat, pandangan kedua adalah maksiat, tapi kita selalu menikmati maksiat tersebut sampai-sampai kita lupa bahwa pandangan kita yang mungkin saat ini masih sama pada materi, kita lupa bahwa malaikat sedang mencatat segala pandangan kita yang salah, jika kecantikan dan ketampanan yang membuat kita menyukai seseorang dan memilihnya sebagai teman hidup, bisa jadi umurnya tidak akan lebih lama, kulitnya yang halus dan parasnya yang indah akan mengkerut dan menjadi jelak, mata itu akan sayup, suara itu akan menjadi keras, lalu apa yang kita cari sebab kecantikan dan ketampanan itu akan hilang dimakan waktu.

            Maka kitapun sadar bahwa kecantikan dan ketampanan tu bukan terletak pada paras yan indah, bukan pada peragaan dan postur yang gagah,bukan pada senyum yang manis mendayu, tapi ketaatan kepada Allah melebihi segala perasaanya pada dunia, yang menjadikannya banyak bemuhasabah dengan menyandarkan pada keimanan dan segala hal dalam hidup, rasanya wawasan ilmu kita masih dangkal anyak hal yang belum kita tahu, ada yang tahu tapi belum bisa kita fahami dan amalkan, ada yang salah dalam sudut pandang kita pada dunia, penilaian hidup yang masih bergantung pada materi, tolak ukur masih salah, padahal Rasulullah mengajarkan banyak hal tanpa tersisa sedikitpun tentang hidup berdasarkan aturan Rabb kita.

            Kita akan selalu berada pada dua pilihan hidup, apakah akan memilih jalan kebaikan atu jalan keburukan, akal berperan sebagai hakim yang akan menentukan banyak hal serta konsekuensi yang akan didapatkan dikemudian hari, seseorang tidak akan mendaptkan cintanya Allah jika dia masih mengikuti segala hawa nafsu yang mengiringnya pada kecintaan dunia, hawa nafsu akan jadi sesuatu yang buruk jika dari smeua itu mengajak manusia pada keburukan dan kehinaan unuk diri dan orang lain di sekitarnya, barangkali pendidikan, lingkungan mmenjadi guru yang berhasil merubah pola fikir kita bahwa segala hal di dunia harus dengan materi, jika ingin bahagia maka perbanyak harta, semakin tinggi jabatan semakin luas kebahagiaan, pemahaman ini menjadikan kita lupa bagaimana memposisikan pilihan pada sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya, sesuatu yang salah tapi dirubah menjadi sudut pandang yang seakan baik padahal merugikan.

            Kita terperangkap pada kehidupan yang salah, kehidupan yang hanya menganggap segalanya bisa dipenuhi dengan materi, harga diri dengan jabatan, dan kehidupan yang selalu bersandar pada kepuasa ekonomi, menjadikan hidup menjadi konsumtif dengan banyak hal, keluarga diajarkan untuk cinta materi bukan isi, menganggumi harta bukan taat, semua telah berubah saat banyak yang mengeluh dengan hidup, kebutuhan ekonomi yang terasa kurang dan bahagia yang tak kunjung datang. Ada saja yang kurang padahal dulu sebelum mendapatkan apa yang di inginkan, akan menjamin kepuasan hidup, nyatanya tidak, setelah meiliki ini lalu ingin itu, terus seperti itu tak ada hentinya. Kebutuhan semakin bertambah setiap tahunnya, kehidupan semakin kontras merusak akal dan menjadikan kita sampai diburu waktu bersaing dengan dunia, banyak kebutuhan yang tak kunjung usai, kini kta harus mulai memikirkan bukan hanya tentang kebutuhan hidup pribadi tetapi juga kebutuhan lain yang lebig banyak setelah berkeluarga. Ada hal yang mungkin kini tidak difikirkan, ada yang masih biasa-biasa saja, tapi nanti semua yang biasa itu menjadi faham dan semakin mengerti bahwa ada hal yang harus dipersiapkan sedari dulu, hal-hal yang mengganggu fikiran kita kelak dalam keluarga, segala hal yang kelak akan disesali sebagai seorang suami juga istri, bekal yang tak ada dalam lingkup perkuliahan, sesuatu yang bernilai berharga yang akan menentukan jelan hidup dan kebahagiaan dalam keluarga kecil yaitu kesabara dan ketaatan, nanti kita akan dihadapkan pada fakta bahwa kita adalah orang yang paling malas untuk membekali diri dengan kedewasaan dan kebaikan, malas mengupgrade diri dengan berjuta ilmu kehidupan, kita lebih sibuk menumpuk dan mengejar materi tanpa memperkaya dengan wawasan islami, wajar jika segala kekhawatiran itu hadir kala kita hendak memasuki dunia keluarga dan pekerjaan, semua akan terasa saat kita hidup di masyarakat kita menjadi kaku, tenrnyata masih banyak yang belum sempat dipelajari.

Bersambung.....

  • view 32