Sederhana_Bag 5 ( Relung Senja)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 02 September 2017

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

402 Hak Cipta Terlindungi
Sederhana_Bag 5 ( Relung Senja)

Semakin jauh jarak yang di tempuh, semakin panjang waktu yang di jalani , semakin terasa bahwa apa-apa yang dulu tidak dipahami perlahan menjadi mengerti, melihat bagaimana waktu berputar, menyaksikan bagaimana orang-orang mondar-mandir kesana-kemari mencari penghidupan tanpa henti siang malam terasa begitu singkat terlewati.

            Dulu sebelum lulus kuliah, ingin ini dan itu, banyak sekali, melihat kepemilikan orang lain, hati ingin memilikinya, melihat teman yang sudah lulus dan bekerja, melihat apa yang dimiliki rasanya tidak berharga, ingin rasanya seperti mereka lulus kuliah kemudian kerja lalu berkeluarga, rasanya semua begitu sederhana tanpa ada beban dari kehidupan yang mereka muat di media sosial.

            Setelah lulus kuliah, semuanya nampak jelas dan semakin mengerti bahwa hidup yang sesungguhnya tidak sepeti apa yang terlihat di instagram, kita melihat rasanya tidak ada orang yang miskin, semua nampak berada kondisi normal dan tak ada masalah, nyatanya tidak, rupanya semua hanya pencitraan, kita harus bekerja keras dan lebih berhati-hati agar tidak terjebak pada kehidupan semu.

            Semua akan terasa barangkali ketika nanti sudah berkeluarga, baru akan kita rasakan betapa tidak mudahnya berjuang untuk mencari nafkah untuk keluarga, yang dari segala ke susahan itu, ada hal yang mengikat bahwa pada setiap genggam rezeki yang kita dapatkan, halal menjadi syarat kita mencari, wajar jika mencari nafkah menjadi pahala  jihad bagi laki-laki, barangkali saat kelak kita di hadapkan pada aneka biaya hidup, biaya persalinan saat istri kita melahirkan, biaya untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan papan, pendidikan, dan segala sesuatu yang akan terjadi kelak, yang sekarang menjadi ke khawatiran kita sebagai lelaki.

            Kini kita perlahan mengerti betapa susahnya mencari penghidupan untuk keluarga, juga kebutuhan hidup kita sebagaimana segala sesuatu yang mungkin kita saat ini masih bergantung pada orang tua, nanti kita akan mencukupinya sendiri, kita baru memahami bahwa pola hidup yang berlebihan adalah racun yang akan menjauhkan diri kita dari sifat qonaah dan lebih mencintai dunia, jika rezeki kita lebih, kebahagiaan kita lebih, mari kita belajar untuk berempati, berbagi dengan sesama yang kurang dari rezeki, barangkali dengan saling  memberi, menanamkan pola hidup sederhana dalam rumah tangga, yang darinya kita akan selalu bersyukur dan menjadi amalan terbaik yang hanya kita dengan Allah yang tahu.

            Perjalanan memang harus terlus dilanjutkan, entah bagaimanapun kita menjalaninya, meskipun jalan yang dilalui tak sama, aa yang menanjuak, terjal dan berliku, ada juga yang terseok seok menjalaninya, begitulah kehidupan setiap manusia memiliki alur cerita dari setiap keputusan yang diambilnya, kita menyadari bahwa hidup tidak seperti air yang mengalir, sebab kehidupan kita tidak selalu tenang, ada yang harus terjun, ada yang tersesat, bahkan ada yang harus menguap menjadi awan dan di turunkan di waktu lain berperan sebagi hujan, selepas kuliah dan benar-benar keluar dari dunia perkualiahan kemudian menjadi warga masyarakat, bertetangga, berumah tangga, kita menjadi semakin banyak belajar tentang kehidupan saat kembali ke masyarakat. Sewaktu dikampus banyak sekali bentukan label yang disematkan kepada mahasiswa hanya dinilai dari apa yag di lakukannya, misal menjadi aktivis kampus atuh statunya sebagai pengemban dakwah juga rohis yang orang bilang paling romantis, dan ketika berada di masyarakat, terjun langsung kita akan menemukan fakta bahwa tidak akan ada yang bertanya kita lulusan mana dan sebagainya, tapi bagaimana sifat dan sikap kita di masyarakat itu sendiri, apakah kita menjadi tentangga yang baik, bagaimana kita saling mengenal dan membaur dengan masyarakat pedesaan dan mengambil peran di masyarakat .

Bersambung......

  • view 50