Akad_Bag 5 (Relung Senja)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 25 Agustus 2017

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

3.6 K Hak Cipta Terlindungi
Akad_Bag 5 (Relung Senja)

Penyair itu kode hati sedang bulan adalah refleksi dari suatu kode, refleksi yang menoreh berkas dengan tautan pensil yang menari. Gerak jemari mengalur mengikuti imajinasi yang berkelana, Menyusuri tiap sudut kehidupan, menerjang semu kearifan si pemilik tahta dunia. Yang memalingkan kesucian demi cinta Pada dunia yang meraja. Tertawa berlari dari kewajiban. Bisanya hanya terjerat dalam lelap yang berjalan dalam angan, diantara doa yang terpahat ada harap yang tersirat bahwa hati masih rapuh jika harus menerka sedang dia tak pernah peka, rasanya lebih baik diam dan duduk Bersama senja dipantai itu, jika harus mengaguminya sebab pengharapan tak kunjung berbalas.

            Ketika refleksi semakin menjadi primadona alam, kita tenggelam dalam muhasabah senja yang berlalu. Cinta-Nya membuat kita  berlayar pada telaga kedamaian. Menyiram segumpal merah antara rusuku yang  penuh sesak dan amarah. Balut gundah dalam rangkai tasbih. Kita mengkokohkan jiwa dengan seribu kalimat tauhid. Keyakinan bergema takbir dihati insan berkalang harap. Tak ada yang tahu rasa apa yang dirasa, serinci apapun menjelaskan cinta, rasapun tak bisa menerka. Sujud panjang menyatukan cinta, rasa yang dulu ada dari jarak yang terjaga,  mengucil diri dalam pekatnya dunia melewati jalan bersama bahtera keluarga. Bahasa jiwa hanya insan dan pemilik-Nya yang paham. Semua berputar pada poros dan lintasan yang akhirnya akan kembali melalui garis-Nya pertemuan. Pembelaan terhadap takdir tak berujung pelangi. Takdir-Nya indah namun keterbalikan akan logika kembali luluh oleh takwa, hati ini bermunajat kala gundah menerpa raga, berdoa bermuhasabah sebab yang diri memohon menjadi indah dalam keluarga.

            Butuh waktu untuk belajar bersabar sebab, menunggu bukan tentang siapa yang menunggu tapi kesabaran dan keyakinan bahwa semuanya butuh proses untuk sampai pada posisi siap dengan segala kemungkinan pada setiap penantian, barangkali bagi setiap orang yang sedang berjuang meraih, karir, pasangan hidup dan yang lainnya, akan selalu berada pada dua pilihan saat perjuangan dan penantian itu harus cukup sabar untuk datang. Sebagaimana resahnya jiwa kala janji tak kunjung terbukti, kala rindu harus rela bertandang sebab yang di harap tak kunjung datang, baginya penantian adalah bagian dari ujian sedang perhatian adalah virus hati yang akan melayukan berjuta harapan pada hati yang lain, seperti pagi yang menyapa dengan hangatnya rindu dan pergi di penghujung hari dengan luka, mereka yang bersabar kian di uji oleh sepatah pengharapan, meski doa tak pernah surut tercurah, harap yang masih berdiri istiqomah, dan hati yang tersenyum pasrah sebab dari semua itu tak lain bahwa hati ini sudah merasa lelah.

            Sebab semuanya butuh waktu termasuk bersanding dengan mu ini bukan ukuran kesiapan diri, bukan pula tentang bagaimana kita hidup, sebab islam menyapa dengan ibadah, pernikahan tidak harus menunggu mapan, atau kesiapan materi, sebab pernikahan adalah ibadah sedang mapan, lulus kuliah dan kerja adalah materi dunia, begitulah ibadah tak ada kaitannya dengan dunia, tanpa ada materi dunia ibadah harus tetap di laksanakan, terlepas dari semua itu ada hal yang memaksa diri menunda-nunda berkeluarga sebab diri masih proses memperbaiki ketaatan, juga jodoh yang tak kunjung datang. Barangkali saat ini ada yang sedang menunggu temukanlah diriku dalam setiap usahamu memperbaiki diri, dalam setiap perbaikan diri yang  kau lakukan dan pekerjaan yang kau cintai, pada hari-hari yang kau lalui, dan pada doa yang kau istiqomahkan, sebab semua itu adalah jalan bagi segala hal yang ku jadikan tujuan menuju penantianmu.

            Semuanya lebih baik di simpan dulu dengan kita terus memperbaiki diri, sebab segala resah di dada takkan pernah lelah jika hanya sebatas di ikuti ego yang kian menerka, lebih baik di jaga sebab tak semua yang dharap harus dilakukan dengan kata, perjuangan tak mesti dengan fisik, cukup kita memperhatikannya dengan jarak yang terjaga, mendoakannya dalam diam, sebab hati adalah penjelajah kadang tiba-tiba, padahal dulu pergi setelah datang menyapa, berjanji lalu pergi seakan hati berhak untuknya di kasihi, tak ada luka yang menusuk dada jika hati tak cukup kuasa untuk menerka, mungkin mereka yang terluka telalu tulus pada perasaan yang tak terjaga, Agama menjadi mahkota kala diri ingin mendapat bahagia, itulah manusia kadang suka mengorbankan banyak hal sia-sia dalam hidupnya termasuk memberi cinta pada orang yang tak memiliki nilai Agama.

            Sedang kita saat ini masih sama saling mejaga, meski sembari memperbaiki diri, tak apa jika diam nya kita adalah memperbaiki, sebagiamana doa yang selalu setia pada setiap sujud yang tak pernah putus, dan harapa yang masih tersimpan pada selembar kertas 4 tahun yang lalu bahwa tak ada yang lebig baik dari pasangan hidup kecuali ketaatannya melebihi pandanganya pada dunia,.

            Tak ada yang paling indah selain pertemuan menuju ketaatan, sebagaimana pertemuan yang selama ini kita rindukan, pertemuan menuju hidup baru, yang darinya kita akan memutuskan banyak hal menuju ketaatan, juga banyak cerita indah yang akan kita hadirkan di penghujung senja bersama secangkir teh manis, seperti manisnya dirimu yang selalu hadir menemani setiap langkah hidup, menghapus rasa di setia lelah, juga setia pada jalan dakwah dan ketaatan yang menjadi sebab kita bersatu, dari semua itu butuh waktu untuk menujunya, perlu kesabaran menjemputnya, dan perlu kesiapan bahwa kita sudah siap untuk berjuang menuju syurganya, sebab kelak semua akan berubah, ada manis, pahit dan asam nya nilai kehidupan menghembuskan ujian pada rasa kita, ketaatan menjadi obat dari segala masalah kecil kita nanti, sebab kelak perjuangan mu tak sendiri lagi , semua kan di bagi bersama, di setiap rasa lelahmu, aku bersedia sandaran tubuhmu, bagilah segala gundah itu yang tak bisa kau tenangkan sendiri, kita kan urai sepanjang hari bersama ketaatan yang selalu menyertai, kau tak perlu takut melepas segala kisahmu Allah hadirkan aku sebagai penenang untuk segala risau dan gundahmu, tak perlu jauh mencari bahagia, sebab berkeluarga adalah jalan kita menuju surga. Oleh karenanya sabar adalah penjaganya, jangan menjauh hanya karena aku terlihat abai pada rindumu, terkadang semua perhatian mu tak mesti aku tanggapi, sebab kita belum cukup kuasa untuk bersama, cukup dengan diam dan berdoa adalah cara yang Allah suka, tak perlu mengabarkan kepada dunia tentang kita, tanpa di minta untuk tahu Allah sudah tahu, jika kita suka dengan siapa dan ingin menjadi pasangan siapa, tanpa di beritahu bahwa kita memiliki rasa yang sama, maka buatlah Allah tersenyum untuk kita sebab kita saling menjaga dalam diam karena ketaatan pada sang pemilik rasa.

Bersambung.....

  • view 165