Hujan Bulan Maret_Bag 4 (Relung Senja)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 24 Agustus 2017

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

826 Hak Cipta Terlindungi
Hujan Bulan Maret_Bag 4 (Relung Senja)

Tak ada yang lebih sabar dari hujan bulan maret, sedang dan setia menemani lembaran hari seperti kesetiaan rindu seperti saat ini masih setia terjaga pada diri insan rapuh yang percaya bahwa hujan akan menyapa pada jiwa yang dirindu  dari sebrang rantau kota tua.

            tak ada yang lebih bijak selain hujan dibulan maret sebab semua jejak tentang pedihnya penantian dan kecewanya perlahan terkikis habis bersama air di sepanjang perjalanan yang terlewati oleh kisah dan segudang kenangan pedih yang sukar dan sayang jika harus dilupakan.

            Tak ada yang lebih ikhlas selain hujan bulan maret sebab semua keluh kesah kehidupan tentang kekecewaan, kebencian dan kebahagiaan melebur menjadi satu dalam lautan muara yang mewakili jutaan rasa yang terluka, juga tentang jiwa yang tersiksa oleh kata, maka hujan menjadi pelipur lara saat diri tak mampu berucap pada dunia.

            Namun hujan bisa menjelma menjadi mahkluk yang berbahaya, sebab rasa tak pernah sama bahagia duka saling menyapa namun bertentangga, terkadang saling menjaga juga saling memberi luka yang lahir pada rasa curiga dalam bahtera hidup diantara mereka.

            Hujan bulan maret mengajarkan kita kesabaran tentang menanti, tentang hidup yang sedang dijalani dan tentang jalan yang perlahan ditapaki, hujan menyapa memaksa diri untuk menepi menunggu semuanya berhenti, hingga pada satu titik saat sabar tak lagi menjadi alasan sebab jika hanya menanti dan tak ada kabar pasti, hingga pada akhirnya hanya ada dua jalan yang mesti di jajaki tetap menanti hujan reda atau menerjang kesabaran dengan berlari dengan konsekuensi yang akan didapatkan kemudian hari.

            Hingga akhirnya kita putuskan untuk berlari menerjang hujan yang tak mau berhenti, meski diri basah kuyup dengan kekecewaan yang didapat, lebih baik berlalri daripada menanti namun tak pasti, hingga kita menyadari bahwa kita sudah siap untuk merelakan, melepaskan dan memutuskan untuk melupakan setiap penantian ditengah  hujan rindu yang tak pernah bertamu dan mungkin selamanya tidak akan pernah terjadi pertemuan itu.

            Aku benci pada hujan sebab hadir dan pergi tanpa kepastian, hadir menyapa dengan kejenuhan untuk menanti, dan pergi sesuka hati menoreh luka tak terkira pada jutaan rasa yang terluka karenanya, jika aku bisa dan berdaya akan ku hentikan hujan sebab mentari yang indah merindukanku disebrang sana, akan ku hadirkan kabut pagi perlahan menyambut mentari indah diujung mata memandang,            Hujan bulan maret tak lebih seperti rasa yang acuh memahami, bahwa belum cukup dewasa untuk menerka, engkau hanyalah penghambat dalam dunia untuk melakukan banyak hal untuk dijalani, hujan seperti lelaki tanpa komitmen datang berjanji lalu pergi dan tak pernah kembali.

Bersambung...

  • view 57