Permainan Gharizah_Bag 10 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 24 Agustus 2017

"Segenggam Bekal Ke Surga"


Cahaya indah bertebaran diawal senja, malam menelisik mengintip kian menyapa, ketaatan pada Rabb-Nya kian romantis mengenggam harapan dua hati yang tak lama lagi menjelma menjadi sebuah keluarga.

Kategori Fiksi Remaja

602 Hak Cipta Terlindungi
Permainan Gharizah_Bag 10 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Wahai yang tak bergeming karena terhalang darimu kebaikan, rombomgan petobat telah melintas di depanmu. Megapa air matamu tidak berbinang ? kenapa tidak ada desah penyesalan? tampaknya engkau memang terusir. Bersiaplah, wahai penerima peringatan! Uban telah mengingatkan saat kepergian. Betapa malasnya engkau, betapa banyaknya kelalaianmu, berapapun dan apapun alasanmu, tidak ada lagi maaf pada hari hisab. Tempat menjalin hubungan telah musnah, sedangkan tempat kembalimu telah ditetapkan. Bersegeralah semoga engkau bisa pulih dan segera bertobat. Bersujudlah menjelang fajar agar kau selamat dari bencana. (Ibn Al-Jawzi 597 H)

            Sungguh beruntung orang-orang yang penuh dzikir kepada Allah, setiap langkah kehidupan yang ditempuh tiada lain adalah dzikir. Muhasabah diri mereka lakukan sepanjang hari seraya mensucikan hati dari debu-debu dunia dan membasuhnya dengan kesucian akhirat, setiap waktu terisi dengan bermunajat kepada Allah, tidak ada yang keluar dari lisannya selain kebaikan dan ketaatan kepada kekasihnya.

            Sudah sepantasnya kita menanamkan dalam diri kita kesungguhan dalam beribadah dan menjadi seorang hamba yang memiliki kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan kepada selainnya. Banyak mereka diluar sana mengatakan kecintaan mereka kepada sang pencipta dengan lisan manis, padahal ucapan lisan saja tidak cukup mewakili dan membuktikan dari ucapan tersebut, semua harus dibuktikan dengan kasat mata kecintaan seorang kepada Allah. Begitupun dengan kita, Allah akan memberikan ujian kepada mahkluknya untuk membuktikan kecintaan hambanya dengan sebuah ujian entah itu berupa kesenangan ataupun kesedihan. Selain itu orang yang mencintai Allah setiap langkah kehidupan yang dijalani akan selalu bersadar dan mengingat Allah dan kondisi apapun dan dimanapun, kecintaannya kepada Allah berada pada posisi yang tinggi dalam dirinya, dia akan selalu wara ketika dihadapkan pada sebuah pilihan dan akan mengambil keputusan untuk memilih sesuatu tidak lain dikembalikan kepada Allah SWT.

            Ada sebuah kisah menarik yang di ceritakan oleh Ibn Al jawzi tentang seorang fuqaha baghdad yang menjadi rujukan ilmu dan kesalehan, ia merupakan seorang syekh besar yang ternama, ketika ingin pergi haji ke baitullah dan berziarah ke makan Rasulullah SAW, ia mengajak murid-muridnya. Mereka pergi bersama dengan bertawakal kepada Allah SWT.

            Dalam perjalanan, mereka melihat biara nashrani. Saat itu mereka kepanasan dan kehausan. Mereka mengusulkan, “wahai guru, bagaimana kalau kita berteduh sejenak dibiara itu sampai cuaca dingin ? setelah itu, baru kita berangkat lagi insha Allah.” Sang guru berkata, “ lakukanlah apa yang kalian mau!” merekapun berjalan menuju biara itu lalu bersandar di temboknya. Tidak lama kemudian mereka tertidur, sedangkan sang syekh tetap terjaga.

            Ia membiarkan mereka tidur, kemudian mencari Air untuk berwudlu. Ketika sedang berjalan disekitar biara untuk mencari air, ia meliha seorang gadis muda dengan wajah cerah bak mentari bersinar. Iblispun menggoda hatinya, sehingga ia mencari air dan ber wudlu. Dan yang ada di benaknya hanyalah sigadis jelita itu.

            Lalu ia mengetuk pintu dengan keras. Seorag pendeta menemuinya seraya bertanya, “ siapa anda? ” saya adalah fulan, ulama dari negeri anu, “ jawab syekh itu memperkenalkan diri. “ Apa yang kau inginkan wahai ulama kaum muslim?” tanya pendeta. Syekh menjawab, wahai pendeta siapa gadis muda diatas biara itu?” pendeta menjawab ia putriku. Mengapa engkau bertanya?” aku ingin menikahinya, ujar syekh.

            Pendeta itu berkata agama kami tidak membolehkan. Seandainya boleh, tentu akan menikahkannya denganmu tanpa perlu berunding. Kami pun telah berjanji pada putriku untuk tidak menikahkannya kecuali dengan orang yang ia senangi. Tetapi, aku akan coba menemui dan mengabarkan hal ini. Jika ia rela aku aka menikahkanmu dengannya” dengan senang hati” timpal syekh.

Bersambung........

  • view 29