Bersilaturahmi dengan Kenangan_Bag 3 (Relung Senja)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 22 Agustus 2017

"Relung Senja"


Buku tentang rasa yang bersama senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada Rabb ku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Kategori Fiksi Remaja

979 Hak Cipta Terlindungi
Bersilaturahmi dengan Kenangan_Bag 3 (Relung Senja)

“” Bersilaturahmi dengan kenagan"

Sebuah kisah sedih tapi juga bahagia bahwa, tentang masa remaja kian hari kian terasa bahwa dulu semuanya begitu sia-sia sebab yang di tunggu tak lagi rindu bukan tak ingin rindu tapi memang dirinya sudah berkeluarga, itulah masa SMA, kini lebih indah bersilaturahmi  dengan kenangan tanpa harus menjadi bagiannya, cukup di hayati menjadi bumbu indah dalam setiap karangan selamat membaca....

Ka Andi........, Ka Andi.......” sebuah suara terdengar di telinga memanggilku. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Aku baru selesai mengisi  pelajaran agama di kelas santri putri. sebuah pelajaran yang di wariskan dari seorang ustadz yang pernah menajar di pesantren ini. ntetapi berhenti. aku yang meneruskannya. pengetahuan agama adalah pengetahuan tentang sejarah islam di seluruh dunia.

Aku melihat tak ada satupun orang di sekitar situ. hanya ada rerumputan tinggi yang melambai di tiup angin pagi di  belakang deretan kelas. dalam keadaan tertentu, angin memang dapat terdengar seperti suara, dan dalam klimaks tertentu menyerupai nama orang.

Tetapi saat ku berniat mengacuhkan suara tadi...tiba-tiba dua kerudung putih muncul dari balik papan-papan kelas paling ujung. mereka melambaikan tangan dengan kaku kali ini tanpa memanggil ataupun menimbulkan suara.

            Aku melihat sekelilingku, apa yang di katakan orang jika aku bertiga bersama dengan dua orang remaja putri di belakang kelas? Memang tak ada orang lain di sekitarku saat itu,tapi aku masih ragu dengan keadaan ini. ku memcoba menenangkan hati.

             Aku berusaha biasa agar tidak terlihat gugup di hadapan  mereka. hati kecilku mengatakan bahwa aku harus mendatangi dua gadis remaja itu. lagi pula jania dan anita itu, apa mereka tidak ada gurunya hari ini? setelah kurapikan peci yang ku pakai, segera ku mendekati mereka.

“ini kenapa tidak masuk kelas?? Tanyaku dengan tenang sembbar ku tundukan pandangan ke bawah

Dua gadis didepanku tampak ragu juga, tapi jania segera maju dan tesenyum.

Aku jadi tidak ingat apa yang aku katakan barusan.

Aku tak ingat apakah aku masih memerlukan jawaban atas pertanyaan itu??.

Gadis-gadis ini sudah mengalahkanku hanya dengan senyumannya.

Hmm.. tidak ada guru tadi, ustadz. Pelajaran bahasa arab bu aisyah keluar desa,”kata jania, ia berbicara tanpa menengadah ke arahku,tapi sibuk menarik sesuatu dari belakang tas...sebuah surat.

“ini, kak. ada yang minta di sampaikan untuk ustadz. . .,” kata jania hati-hati dengan cepat. Ia sedikit gelisah dan memperhatikan sekeliling.

            Aku menerima dengan  ragu, aku coba menyelidik ke arah jania dan anita, tapi yang terbaca disana hanya membuatku ingin cepat pulang ke asrama dan mebuka surat yang bersampul merah muda ini.

Terima kasih  kata ku sambil berlalu, aku sungguh tak ingin mendengar siapa yang menitipkan surat ini, sebab aku takut jania  mengatakan nama yang salah, nama yang hanya dia yang tau tapi hanya sebatas suka, ku sisipkan segera  surat ini dalam kantong kamejaku.

Di kamar asrama,,entah kenapa dadaku semakin menjadi..” kututup segera pintu asrama lalu ku kunci untuk berjaga-jaga, karena biasanya ada saja santri yang mengunjungi kamarku.

            Dengan hati-hati, perlahan kubuka surat berwarna merah muda ini. Aroma yang ditimbulkan dari spucuk surat ini begitu indah terhirup olehku, dalam kondisi normal, aku pasti bertanya. ”sebenarnya apa bedanya dari bau harum dan tidak.?? Unsur apa  dari bagian tubuhku yang membedakan begitu rinci??. Tapi tidak saat seperti ini. aku tidak mau disibukan dengan pikiran apapun.

            “tetapi  tak urung,aku heran juga akan satu hal.

“mengapa aku bisa segembira ini?? Ujarku lirih.

Tapi siapa yang peduli? Aku langsung membuka surat yang disampulnya tak tertulis apa pun itu.

 

Teruntuk: ka Andy

Saya tidak tahu kenapa saya mengirimkan surat ini.saya juga tidak tahu apa yang saya ingin tulis

Kaka pernah bilang kan kalo cinta itu anugrah dari Allah dan kita harus menjaganya dengan baik,mungkin alasan itulah saya tuliskan perasaan ini untuk kaka, maaf kak jika saya kurang sopa. jika kaka belum beli makan tinggal bilang saja ke anak-anak nanti saya masakan.

Salam...Anisa

Aku tak bergerak dari duduku,, lama ku menahan nafas, begitu kutarik nafas yang kuhirup ternyata sejuta keharuman. Ketika kutatap keluar jendela yang terlihat bunga-bunga berjatuhan perlahan.hmm....desahku dalam hati.

Kubaca surat itu kembali, hanya beberapa kalimat,tapi kubaca berkali-kali setiap hurupnya menguap masuk dalam relung hati.

Ah apalah aku ini, hanya seorang pemuda normal. Yang juga suka gugup seandainya di hadapkan dengan keadaan seperti tadi. Aku juga seorang guru tetapi juga seorang manusia, dan sekarang aku sedang menjadi seorang pengajar yang terpaksa harus menunda sekolah dan melanjutkan di tahun depan

Suratnya masih ku pegang, tulisan bersambung yang elegan tanpa ada tanda setipan, pastilah ada kekuatan ajaib dalam diri si penulis sehingga dapat meredam getaran tangannya saat menuliskan kata demi kata kalimat indah ini, aku mengerti dalam suasana hati yang bagaimana Anisa menuliskan surat ini. Sekali lagi, sebuah rasa aneh menyelinap  diam-diam merasuk tubuh  menyisakan hembusan perasaan bahagia. Perasaanku bahagia.

Lalu,  Apa?? Aku tertunduk. Benar . lalu, Apa?? Kalau Anisa benar-benar telah memiliki perasaan erhadapku, lalu apa?? Ku bertanya pada diri seraya membatin.

Aku tidak menduga akan seperti ini. Tadinya, ku mencoba  perlahan ku mulai hapus bayangannya dari pikiranku. Kini,sudah hampir tidak mungkin lagi untuk menghapusnya, inilah yang aku takutkan, aku duduk  pada bangku yang diduduki zaenudin seperti film tenggelamnya kapal van  der wijk.

Aku bimbang, bagaimana harus bersikap dan menanggapinya? Sebab aku juga memahami bahwa tak ada ikatan lain untuk bersama kecuali dengan pernikahan, sedang diri masih dalam prose penjajakan dalam perbaikan

Di luar sana , Anisa begitu kuat dan bisa jadi dirinya sendiri. Sedangkan aku masih terlalu lemah, bahkan untuk mengeja arti tanggung jawab saja masih tertaih-tatih, Ku rasakan itu kondisi ini sangat tidak adil.

Tapi ya Allah,,ujarku dalam doa dan shalat sunah ketika matahari sepenggalan naik.

Berkahilah apa pun yang hamba buat. Jangan beri hamba perasaan yang bahkan hamba tidak sanggup menyebutnya.

Kilauan sinar dari sela-sela  jendela kamar jatuh lurus di sajadahku. Ku terpana memandanginya.  Kurasakan diriku saat ini begitu kecil. Aku merasa angkuh aku telah menyudutkan cinta sebagai hal biasa. Tapi sekarang betapa besarnya makna perasaan itu, saat kau uji hamba tak bisa apa-apa.

Lonceng berbunyi. Jadwal saat ini sangat ku ingat. Karena sebenarnya selalu ku tunggu-tunggu setiap minggu. Namun kali ini tak seperti biasanya. Aku tak semangat mengajar di kelas itu. Jika ada yang mengatakan cinta itu menguatkan, harusnya perlu dikoreksi lagi. Tak kutemukan kebenarannya sama sekali, bahkan aku tak mampu untuk bangkit dari sajadah. Aku takut tak bisa menyembunyikan diri jika bertemu dengannya. Untuk sementara aku tak ingin bertemu dengannya.

Hei tidaklah kau sadar apa yang kamu lakukan ini? Pikiran logisku merajuk.

Hanya sepucuk surat dan kamu hampir mati? Yang benar saja. Pemuda macam apa yang bisa di bunuh oleh perasaan semata

Segera ku bangkit dan mengambil buku pelajaran. Namun begitu kulangkahkan kaki, entah mengapa. Aku merasa ada yang tertinggal, ku lihat buku lengkap. Pulpen intuk mengabsen ada di kamejaku. Tapi aku merasa ingin bercermin dahulu. Masih terasa konyol, tapi biarlah mungkin inilah rasanya kala perasaan di uji. Terakhir, sebuah semprotan wangi  ku  semprotkan ke tubuh. Setelah menggulung lengan kemeja, ku melangkah keluar pintu terlihat bunga-bunga yang ternyata daun nangka yang berguguran.

Assalamualaikum. . . . .”  jawaban salamnya wajar, tapi bagiku tedengar aneh.

Segera ku masuk ke dalam kelas.

Wajah jania dan anita yang mengantarkan surat kepadaku tadi pagi tampak tersenyum penuh arti. Aku tak ingi melihat wajah dua gadis itu berlama –lama.  segera ku buka buku  dan ku mulai pelajaran. Tapi betapa susahnya setiap gerakan yang kulakukan terasa tak perlu kulakukan. Semua menjadi berlebihan, padahal aku bersikap sewajarnya.

Setelah beberapa lama ketika ku sapukan pandangan ini ke seisi ruang kelas, pandanganku menyisakan seoang gadis yang duduk di bangku tengah agak sudut. Anisa sedang menatapku lurus-lurus sesekali ia menudukan pandanganya. Dan. . .” buku yang ku pegang terjatuh.

Atmosfer kelas terhenti seketika, seakan-akan buku yang terjatuh ini adalah tombol off dari mesin waktu. Hening.

“Apa arti kalimat tadi hamid” tanyaku sambil memungut buku yang terjatuh. Suaraku bergetar gugup kali ini bukan  hanya perasaan saja.

“kalimat yang mana kak, kan belum nulis..tanyanya heran” aku tersadar padahal dari sejak aku masuk belum nulis apa-apa. Aku bingung harus melakukan apa agar mereka tidak tahu kalo aku sedang grogi.

Segera ku palingkan temanya  “ arti kalimat salam yang tadi ustadz ucapkan tanyaku aman”

Syukur aku bisa mengantisipasinya..sungguh baru kali nini aku uji oleh perasaan.

gadis itu tesenyum simpul menatapku, sepertinya dia tahu kalo aku sedang gugup.

Segalanya menjadi sangat sulit. seakan mati gaya.

Astagfirullah . . . ., kata ku dalam hati berkali-kali .ku ambil kapur. Lalu kutuliskan pelajaran dan sebisa mungkin berlama-lama.

Ku tuliskan sejarah penaklukan konstantinopel oleh kaum muslimin sekaligus memberi tugas untuk minggu depan supaya aku tidak gugup lagi.

 Lonceng berbunyi. Aku masih menulis berlama-lama. Segalanya tidak boleh terlalu nampak. Aku harus tetap mengesankan seorang guru yang ingin berlama-lama mengajarkan ilmu pada muridnya. Perlahan kuletakan kapur di meja dan kuambil buku pelajaran di meja.

Dari sebuah meja diujug kelas sebuah wajah berkerudung tertunduk. Cemas dan hampa. Telah lama mungkin dia memperhatikan ku dia sering cerita kepada temannya tentang kesederhanaanku. Anisa merasa bahagia jika aku bersamanya dan tak ada yang lain. Tapi, apa mungkin??

Anisa tidak ingin menahan perasaanya terlalu lama. Anisa akhirnya menulis surat untuk menenangkan  hati. Memang tidak langsung mengutarakan isi hatinya.  Tetapi,  cukuplah agar aku mengerti  dia memperhatikanku. Ia sendiri rela memasakan makan untukku jika memang ku kehendaki.

Anisa menunggu.  Hingga beberapa hari berlalu,  Bahkan beberapa minggu tak ada satupun tanggapan dariku. Anisa pasti kecewa jikalah aku tak menghiraukannya.

Aku bingung jikalah semua belanjut, bagaimana pandangan orang terhadapku seorang ustadz memiliki hubungan dengan siswinya, Aku juga merasakan hal yang sama dengan Anisa semua tak boleh berlanjut jika tnpa ada ikatan Agama yang menjamin nya , Dia gadis sholehah, faham agama, sederhana Qonaah dalam memandang dunia keanggunannya terhiasi akan hijab yang indah . . . sungguh pemuda mana yang tak ingin  dengannya.

Setiap aku mengajar, Anisa selalu mencermati apa yang aku sampaikan. Bahkan disaat teman siswinya tidur dia bangun malam lalu meghafalkannya

Setelah shalat isya ku coba tuk berdiam diri dalam masjid memohon kepada Allah dengan sembahyang istkharah. meratap diri memohon petunjuk diantara yang terbaik

Ya allah berilah hamba yang terbaik dalam hidup ini, jikalah dia yang kelak akan melengkapi sebagian imanku untuk selalu taat kepadamu. Berilah hamba pilihan yang baik. Hamba menyadari kekurangan ini maka berilah aku petunjuk. Amiin.

Setelah selesai ku shalat segera kumasuk dalam kamar, namun entah apa yang terjadi hati ini merasa tenang, rasa bahagia menyelimutiku rasa bimbang perlahan hilang entah kemana.

Alhamdulillah ya Allah kau telah menunjukan yang terbaik untukku.  Segera ku ambil secarcik kertas dan pulpen lalu kutuliskan untuknya.

Assalamualaikum wr.wb.

Teruntuk  : de Anisa

Dengan basmalah ku tulis dan ku kirim sepucuk surat ini untuk de Anisa
 rasa  yang selalu mengagumi dalam setiap rangkaian bunga yang  mekar

Hati  yang selalu mengagumimu dengan kelembutan bahasamu
 kata yang tak mampu berterus terang kepadamu tentang apa yang sedang dirasa
Tentang rasa yang datang karena Sang Pencipta rasa ini yang menjatuhkannya
Yang mampu merubah menjadi makhluk-Nya yang lebih baik dari waktu dulu
Ku kumpulkan keberanianku tuk mengungkapkan rasa yang tertanam dalam singgasana hati

Betapa bahagia hati ini disaat kubaca surat berisikan kalimat indah yang hanya lewat tulisan isyarat. Allah memberikan rasa yang sama dalam hati ini

Jikalah memang memiliki niatan baik dengan saya. Biarlah Allah menerima kesederhanaan ini. Dan biarlah menjadi tanggung jawab kaka dunia akhirat. Satu tahun sudah saya menimba ilmu, perlu waktu panjang dalam perjalanan ini untuk mencapai semuanya. Jikalah berkenan untuk menunggu hingga selesai dan menyerahkan segalanya kepada. Pasti kita kan di pertemukan kembali dan itu jauh lebih indah.

Salam

Ka Andy

Kulipat rapi surat ini.  perlahan ku masukan dalam amplop yang telah kurangkai indah, segera ku berbaring di kasur. Rasanya ingin segera pagi untuk memberikan surat ini untuk Anisa..

Seperti biasa gadis ini ini selalu murung kala bertemu. seakan menunggu-nunggu kabar dariku bagikan pungguk merindukan bulan. Selesai mengajar  Anisa keluar paling terakhir karena bangkunya paling ujung, hingga tinggalah Anisa seorang hendak keluar mengais buku di dadanya.

De nisa..??..segera ku sapa gadis ini...”ada apa kak jawabnya”  dia hanya tertunduk di hadapanku sungguh ketaatan begitu indah hingga mampu menjaga pandangannya sekalipun dengan orang yang dia sukai.. tanpa harus menunggu lama segera ku ambil surat dari kemejaku. Ini untuk dek nisa” entah kenapa tanganku bergetar ketika di hadapkan dengan keadaan seperti ini lagi..perlahan di ambilnya surat ini.. terima kasih kak.. Assalamualaikum....tak lama kemudian gadis itu berlalu..

Hmm......rasanya ingin segera malam untuk shalat tahajud......tapi niatku tetap untuk Allah karena dia yang memberikan rasa ini untukku...biarlah ibadah ini sebagai jalan memohon perlindungan

Rasa penasaran menyelimuti ku bagaimana jika gadis itu tidak suka dengan keputusanku ,dan  sudah menemukan pendampingnya??  Ya sudahlah biar Allah yang menentukannya...aku membatin.

Allahu Akbar. . . .segera ku fokuskan hatik hanya untuk Allah. Ku memulai shalat ku sendiri karena biasanya tahajjud paling khusyu jika dilakukan sendiri.

 Di satu sisi aku kecewa sebab biasanya dia adalah orang yang paling awal datang ke mesjid untuk shalat, dan kali ini dia tidak biasanya datang terlambat.

            Selesai shalat ku angkat kedua tanganku lagi-lagi air mata ini banjir ketika ku bacakan kalimat-kalimat tauhid yang indah. Seorang gadis sedang berdoa liri di balik kain hijab yang menjadi penghalang antara kami rupanya dia  ikut shalat bersama. Entah apa yang terasa diri tenggelam dalam muhasabah senja yang berlalu. Cinta-Nya membuat kami  berlayar pada telaga kedamaian. Menyiram segumpal merah antara rusuk penuh sesak dan amarah. Balut gundahku melebur sudah dalam rangkai tasbih. Kokohkan jiwa dengan seribu kalimat tauhid. Keyakinan bergema takbir dihati insan berkalang cerca.

 Tak ada yang tahu rasa apa yang dirasa, serinci apapun menjelaskan, karibpun tidakkan bisa merasa. Sujud panjang menyatu cinta diantara dua insan, mengucil diri dalam pekatnya dunia. Bahasa jiwa hanya insan dan pemilik-Nya yang paham.

 Di penghujung doa  kututup doa dengan  kalimat tauhid dan syukur

Ya Allah terima kasihku untukmu,atas rasa ini yang menjadikan kami selalu dekat denganmu,  ya rabb ljadikanlah rasa ini sebagai rasa yang mendatangkan pahala bagi kami.

Ya Allah tanamakan dalam hati kami kesabaran dalam ketaatan kepadamu.

Sungguh rasa ini mendekatkan hati kepada allah. Dalam sujud ini dua insan bersaksi untuk selalu menjaga hati karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah. Sungguh tangis  bahagiaku melebur semua pahitnya hidup sebab kita percaya bahwa tak semua perasaan harus di jadikan raja..

Tak terasa waktu shubuh sudah dekat kami memutuskan untuk membaca Alquran dari jarak yang terjaga, tak ada pembicaraan saat itu meski berada pada tempat yang sama, sebari menunggu subuh, anisa tahu bahwa hari ini aku akan pulang, Ku putuskan untuk pulang pagi-pagi karena ada acara di kampus.

Setelah sholat subuh ku bergegas masuk kamar membereskan pakaian untuk di bawa pulang. “Loh kok cepat pulangnya”?? tanya ibu pondok.

 “Iya buk soalnya ada acara di kampus mendadak’’. Jawabku pelan.”

“Ya sudah hati-hati di jalan”. . . ujar ibu pondok.

Langkah demi langkah kaki ini menuju gerbang pesantren.

Ka andy...seseorang memangilku. Terlihat dari jauh seorang gadis tersenyum anggun, sebuah senyuman seakan mengatakan bahwa dia akan selalu menanti kembali untuk menjemputnya. Senyumanya mengantarkan setiap langkah ku meninggalkan gerbang hingga aku berlalu...

 

Bersambung.............

  • view 96