Cahaya Asing_Bag 8 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 20 Agustus 2017

"Segenggam Bekal Ke Surga"


Cahaya indah bertebaran diawal senja, malam menelisik mengintip kian menyapa, ketaatan pada Rabb-Nya kian romantis mengenggam harapan dua hati yang tak lama lagi menjelma menjadi sebuah keluarga.

Kategori Fiksi Remaja

730 Hak Cipta Terlindungi
Cahaya Asing_Bag 8 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Banyak cerita dan realita kehidupan mewarnai perjalanan yang semakin hari semakin cepat dan begitu singkat, banyak kisah yang mewarnai kehidupan bersama orang-orang yang hadir dan pergi berlalu meninggalkan kenangan dengan senyuman dan terkadang pula pergi dengan menyisakan luka berbalut derai air mata.

            Rasa kian memudar sebab rindu tak kunjung bersandar, lelah tak lagi peka kala hati dan rasa harus siap terluka, memang tak mudah jika hanya sebatas menerka sebab rasa bukanlah prasangka, atau juga hanya sebatas pelipur lara semata, tapi inilah rasa yang bersembunyi dibalik riak awan sore itu, berharap hujan menjadi pelantara, bahwa dibalik ke acuhanmu itu ada rindu tak bermakna, yang akhirnya semua sama seperti yang lain, hanya sebatas menyapa lewat awan lalu pergi bersama luka, dunia penantian pun kian tandus sebab hujan rindu tak lagi sudi bertamu.

            Mari sejenak merenungi perjalanan hidup ini, banyak orang yang mengandaikan hidup seperti roda pedati ataupun seperti air yang mengalir dan masih banyak lagi perumpamaan tentang hidup ini, putaran episode kehidupan yang kita lalui berlalu tanpa terasa, padahal rasanya baru kemarin kita  mengawali menginjakan kaki di kampus impian dengan hati dan perasaan bangga namun tanpa terasa saat ini kita akan meninggalkannya, sama seperti kita datang dengan perasaan bahagia sebagaimana kita memiliki kisah yang sama tentang rasa seperti senja merona yang luluh oleh hujan kala itu.

            Sebuah kisah yang kita baru menyadari bahwa kita memiliki nasib yang sama dibalik perjalanan kita kala itu, saat takdir mempertemukan saat kita kehujanan pulang kuliah sore itu, tak ada yang istimewa dari pertemuan itu sebab kita hanya kebetulan kehujanan tak ada yang lebih di istimewakan selain berharap hujan segera reda, tapi hujan semakin deras, kita terjebak bersama hujan ysng kian menyapa, meski hanya sekedar menerka menelisik untuk sebuah pertanda, ini bukan soal rasa yang meminta, sebab mata mencoba mememandang sekeliling selasar masjid tak ada yang lain selain kita memiliki nasib yang sama dipertemukan oleh hujan, kita berada pada teras yang sama, tak saling kenal terlebih saling menjaga jarak, tapi kita menunggu hal yang sama, sama-sama berharap hujan segera reda, tak ada yang lain dari pertemuan kita meski hujan memaksa untuk bertemu, meski akhirnya kita sering bertemu meski tak saling menyapa, sebab tak ada alasan untuk menyapa selama tak ada niat untuk bersama, kita masih berharap meski dari jarak yang terjaga yaitu doa sebab hujan mempertemukan kita meski tak saling menyapa.

            Mata tak bisa lagi terpejam berpaling dengan realita yang terus berubah kitapun tak dan harus bisa bijaksana dengan diri  meskipun terkadang belum mampu dewasa saat hati dipertemukan dengan pilihan tentang perasaan dan kebijaksanaan.

            Kita pun menyadari bahwa diri tak lagi sama dengan putaran watku yang telah berlalu, manja dengan keluarga, hidup terjamin dan segala kebutuhan senantiasa ada, seakan tak ada duka semua hadir disaat kita butuh, rasanya tak ingin meninggalkan masa indah itu, namun masa itu harus segera pergi dan merelelakannya, sebab diri tak lagi pantas dengan masa itu sebab harus beranjak memasuki masa berikutnya.

            Kedewasaan mengajarkan kita pada arti hidup, lambat laun kita menyadari dan berfikir tentang masa depan dan bagaimana menjalani hidup dengan orang-orang yang kita cintai, kitapun dituntut untuk dewasa dan bebas memilih dengan banyak pilihan jalan kehidupan, semua yang kita jalani akan menentukan perjalanan, baik ataupun tidak, begitupun kita menentukan pasangan untuk menjalani hidup bersama suka dan duka semua ditentukan dengan pilihan dan pilihan itu tak bisa kita hindari sedikitpun.

            Tidak lama lagi kita akan menjadi manusia dewasa dengan segala cerita tentang kehidupan diseberang sana, hidup yang mengukir pengalaman dan pelajar tentang perasaan, meski terkadang rasa rindu pada kampung halaman yang menelisik pada relung hati kian menjadi, mata yang enggan tepejam sebab asa bersemi di sebrang sana, mungkin kondisi ini biasa bagi mereka yang dekat dengan yang dirindu dan senantiasa bersama dalam hangatnya keluarga.

  • view 59