Bersemi Dalam Doa_Bag 6 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 19 Agustus 2017

"Segenggam Bekal Ke Surga"


Cahaya indah bertebaran diawal senja, malam menelisik mengintip kian menyapa, ketaatan pada Rabb-Nya kian romantis mengenggam harapan dua hati yang tak lama lagi menjelma menjadi sebuah keluarga.

Kategori Fiksi Remaja

624 Hak Cipta Terlindungi
Bersemi Dalam Doa_Bag 6 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Bagaimana bisa kita meraih mutiara hanya dengan menatapi laut, jika kau menginginkan mutiara, jadilah penyelam. Seorang penyelam harus memiliki kualitas diri, kita harus memercayai talinya dan memercayakan hidupnya ke tangan sang teman, kita harus berhenti bernafas dan kita harus melompat.

            Segala kejadian yang kita lalui di dunia ini merupakan bagian dari sunnatullah yang Allah hadirkan di sela sela nafas kita, terkadang kehidupan memberikan banyak pelajaran berharga,  yang darinya dapat kita ambil sebagai bahan evaluasi dan muhasabah diri kepada Allah yang memiliki segala kekuatan dan kuasa, apapun yang hadir dalam kehidupan ini selayaknya menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa berhati-hati dalam melangkah, sebab setiap langkah yang kita ayunkan, memiliki pertanggung jawaban tentang apa yang telah kita lakukan selama menginjakan kaki dibumi.

            Kita bisa menyaksikan banyak manusia berlomba-lomba mengejar dunia dengan menjual akhirat untuk kebahagiaan semata, mereka menghabiskan waktu muda dengan menyianyiakan diri. keberkahan dan nikmat yang telah Allah hadirkan, dunia saat ini membuat kita merasa takut dengan kondisi zaman yang semakin menggila, godaan dunia semakin besar dan  seakan sulit membedakan antara kebaikan dan keburukan.

            Banyak ujian hadir silih berganti yang Allah berikan kepada kita sebagaimana Allah hadirkan ujian itu kepada kekasih-kekasinya sebagai bukti cinta dan keagungan Allah kepada hambanya, tapi banyak sekali diantara hambanya yang mengeluh dengan ujian yang Allah berikan, begitupun dengan kita terkadang mengeluh dengan segala  yang Allah hadirkan berupa rezeki yang kurang atau kita iri melihat kebahagiaan orang lain yang lebih dari kita.

            Sesungguhnya segala yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita tidak akan Allah bebankan kepada hambanya sebagaimana Khalifah Ali bin Abi thalib pernah berkata : dia yang mendambakan surga akan bergegas melakukan amal baik, dia yang gentar akan neraka akan menghenetikan perbuatan-perbuatan buruknya, dia yang yakin seyakin-yakinnya akan kepastian datangnya dan benar-benar mengenal  dunia akan menganggap segala bencana ringan saja.

            Dia yang mengenal dunia akan menganggap segala ringan saja apa maksud beliau dengan kalimat ini? kita harus mengkaji kata-kata bijak menantu Rasulullah kita ini, suami siti fatimah, dan juga salah seorang pendamping Rasulullah yang dijamin masuk surga.

            Nah Dunya atau dunia ini adalah tempat tinggal sementara, dan tidak akan kekal, dunia adalah tempat untuk menguji orang-orang beriman dan memisahkan yang taat dan orang-orang yang membangkang. Semakin tinggi iman seseorang semakin semakin berat pula ujian itu. Tak ada di dunia ini yang kekal, dan akan ada hari dimana dunia ini kan hancur tak tersisa, semua akan kembali kepada Allah dan melanjutkan kehidupan yang kekal di akhirat kelak.

Tak heran jika khalifah Ali berkata demikian, sekarang kita memahami, jika kita meyakini hal ini, maka apapun yang kita hadapi saat ini, betapapun beratnya bencana, semuanya itu hanya sementara. Bersabarlah dalam ketaatan dari segala ujian, insha Allah kita akan mendapat rezeki dan pahala-Nya disebuah tempat yang kelak , abadi.

            Mari kta simak firman Allah SWT :

            Apakah kamu akan masuk surga sedangkan belum nyata bagi Allah siapa yang berjihad diantara kamu dan siapa yang menunjukkan kesabaran (QS. Ali Imran 3: 142)

            Jadi Allah memberikan kita cobaan sebenarnya untuk melihat keimanan kita, apakah sudah memenuhi syarat untuk memasuki surga-Nya atau belum. Persis seperti kita ikut ujian sebelum diterima di sebuah perusahaan atau kampus bergengsi, maka kita akan mengikuti ujian untuk memenuhi syarat, masuk atau tidak tergantung dari ujian yang kita terima dan kita kerjakan.

            Kita tersadar bahwa cara berfikir yang menarik, semakin kita pikirkan, semakin kita memahami terlepas dari kata kata bijak khalifah Ali, perasaan cemas sebenarnya sangat merusak. Sebab kecemasan dan kekhawatiran dapat membuat seseorang meiliki perasaan yang rapuh , tidak mampu berfikir jernih ketika syaitan berhasil menghasut, maka orang  itu akan melakukan perbuatan yang jauh dari kebaikan bagi dirinya.

            Kecemasan yang terus dipelihara tidak akan menghilangkan kesedihan di hari esok, tetapi akan melemahkan diri dan iman pada hati manusia,  sehingga kita harus bisa menjaga diri dengan hangatnya iman ketika ada ujian maka iman akan mampu menjaga ketaatan dan selalu berhusnudzan kepada Allah SWT.

Bersambung........

  • view 49