Khawatir_Bag 4 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 19 Agustus 2017

"Segenggam Bekal Ke Surga"


Cahaya indah bertebaran diawal senja, malam menelisik mengintip kian menyapa, ketaatan pada Rabb-Nya kian romantis mengenggam harapan dua hati yang tak lama lagi menjelma menjadi sebuah keluarga.

Kategori Fiksi Remaja

607 Hak Cipta Terlindungi
Khawatir_Bag 4 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Masa-masa itu akan tiba, masa yang begitu menegangkan bagi seorang pemuda yang sudah siap dengan lembaran baru dalam kisah hidupnya. Masa dimana kita tak lagi sendiri melewati hari-hari kedepan, masa dimana saat itu kebahagiaan hadir menjelma menyelimuti kehidupan dalam sebuah rumah tangga dengan pasangan hidupnya.

            Masa dimana kita dengan gemetar menjabat erat  tangan ayah pasangan kita untuk menyerahkan tanggung jawab putrinya untuk kita tanggung dan jamin kehidupannya, hati berdebar dahsyat bercampur bahagia sebab pada hari itu  kita telah menyempurnakan setengah iman dan melanjutkan kehidupan bersama pasangan dalam suka maupun duka, yang tentu dengannya kita siap menanggung setiap konsekuensi yang akan kita dapatkan dikemudian hari. 

            Kita pun sudah menyadari bahwa kelak perjalanan setelah pernikahan sudah menunggu untuk kita lewati, sebuah perjalanan panjang kita dan keluarga kecil untuk mengarungi terjalnya jalan kehidupan, masalah yang sudah menanti juga diantara tumpukan pesan yang disampaikan mereka yang sudah berkeluarga, rasanya kekhawatiran itu kian nyata terasa, kita menyadari bahwa bekal dan pengalaman kita masih belum cukup untuk mengarungi kehidupan, namun inilah hidup, sebuah keluarga kecil harus mulai berjalan dengan perlahan, melewati terjalnya jalan dalam lembaran baru yang siap  kita tuliskan banyak cerita di dalamnya.  

            Sungguh bagi seorang lelaki akan selalu merasakan khawatir sebelum dan sesudah menikah, semua khawatir itu muncul entah dari mana asalnya,  khawatir dengan status barunya sebagai imam keluarga, bukan karena pasangannya akan berpaling, bukan pula akan meninggalkan, namun khawatir terbesar bagi seorang lelaki adalah pasangannya mengeluh dengan hidup yang dijalani dan tak seindah yang dibayangkan diawal bersama. Kita pun khawatir Jika kelak, kita membiasakan pola hidup sederhana pada keluarga kecil kita, apakah pasangan kita  akan berpaling dari mereka yang memiliki rumah megah dan kecukupan harta dari pada kita juga apakah engkaupun akan menutup mata dari mereka yang menceritakan penghasilan suami mereka yang lebih besar dariku, atau ketika itu aku pulang dengan membawa penghasilan pas-pasan dari kerja keras halalku untuk hari ini, apakah engkau akan tetap memandangiku dengan senyumu. Apakah engkau akan sabar mendukungku disaat istri-istri diluar sana bermewah-mewah dengan hartanya. Maka niatkanlah dengan kesungguhan dan kejernihan hati bahwa kesederhanaan itu suatu keniscayaan yang akan dialami setia insan.

             Lihatlah mereka diluar sana tempat tinggal pun sulit, kita ingin belajar berempati  dengan mereka yang terkadang untuk makan esok saja sudah sulit, kita ingin ingin mengajari keluarga kecil kita untuk bersyukur dengan yang kita punya, engkau pun tidak perlu cemas sebab engkau ada dalam tanggung jawabku, dan itu bukan alasanku untuk malas mencari rezeki , sebab aku akan senantiasa menjamin kehidupan mu, namun segala sesuatu bisa terjadi dalam kehidupan ini, sudah siapkah kita dengan kondisi dan konsekuensi itu.

Khawatir

            Sering kali kita khawatir dengan dunia yang sedang kita pijak saat ini, kita sering berangan dan mencemaskan masa depan, apakah kelak akan bahagia atau sebaliknya, mungkin itu bagian dari seribu pertanyaan yang senantiasa hadir dalam hidup, dan selalu meronta meminta jaminan kehidupan yang bahagia di kemudian hari.

            Saat ini kita melihat realita manusia lebih mencintai fisik dan segala sesuatu yang terindera mata, realita ini membuat manusia berlomba mengejar kebutuhan fisik dengan cara yang berbeda, dan membuat pemuda -pemuda yang sudah waktunya berumah tangga mengurungkan diri dengan tekanan yang memberatkan tak hayal perasaanpun dikorbankan.

            Dunia telah menghipnotis pandangan manusia  untuk lebih konsumtif dalam meraih sesuatu, sehingga wajar bila menghasilkan tradisi dan pemahaman, bahwa harta adalah pancaran kebahagiaan hidup,  padahal membuat manusia salah dalam menilai arti dari sebuah kebahagiaan menurut penilaian Allah  Swt.

            Kita harus senantiasa menyandarkan segala sesuatu dengan pandangan Allah, agar kita mampu memahami kehidupan yang singkat ini serta beritiba kepada kisah-kisah orang-orang sholeh yang bertabur iman, sehingga kita bisa mengambil banyak hikmah di dalamnya, sebagaimana kisah yang di sampaikan oleh zaid bin Arqam

            Dari zaid bin arqam bahwa abu bakar RA meminta minum, maka dia diberi segelas air bercampur madu. Dan ketika sudah dekat dengan mulutnya beliau menangis dan orang-orang disekitarnya menangis, beliau diam lalu merka pun diam, kemudian beliau kembali menangis lagi sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak sanggup bertanya kepadanya. Kemudian beliau mengusap wajahnya dan berhentilah tangisannya, kemudian mereka bertanya apa yang membuatmu menangis seperti ini? beliau menjawab aku pernah bersama Rasulullah, dan beliau menolak sesuatu dari diri beliau seraya berkata, menjauhlah dariku, menjauhlah dariku, padahal aku tidak melihat seorangpun bersama Rasulullah, akupun bertanya wahai Rasulullah aku melihatmu menolak sesuatu padahal aku tidak melihat seorangpun bersamamu, beliau menjawab : “Dunia ini diperlihatkan kepadaku dengan segala isinya, maka aku bekata, menjauhlah dariku, menjauhlah dariku, lalu iapun menjauh, dunia berkata demi Allah jika engkau menjauhi maka orang-orang seeninggalku tidak akan menjauhiku, oleh karena itu, aku khawatir jika dunia itu sudah sampai kepadaku dan itulah yang membuat aku menangis.

            Maka itulah hakikatnya khawatir bila dunia menjadi fitnah baginya setelah berpisah dengan kekasih terbaik Rasulullah SAW, tapi sungguh mengherankan sebab dunia, kita rela berdesak-desakan  menggapai bunga duniawi yang sarat dengan racun, jika matang akan menggoda dan membusuk  jika di simpan, dan menjadi berkurang, jika terlihat indah akan usang, jika didatangkan maka perlahan akan pergi, namun kita malah semakin rakus dengannya, padahal jika kita berkaca kita tidak akan mendapatakan bagian kecuali yang sudah Allah tuliskan untuk kita.

Bersambung.......

  • view 53