Hilang Bersama senja_Bag 3 (Segenggam Bekal Ke Surga))

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 19 Agustus 2017

"Segenggam Bekal Ke Surga"


Cahaya indah bertebaran diawal senja, malam menelisik mengintip kian menyapa, ketaatan pada Rabb-Nya kian romantis mengenggam harapan dua hati yang tak lama lagi menjelma menjadi sebuah keluarga.

Kategori Fiksi Remaja

762 Hak Cipta Terlindungi
Hilang Bersama senja_Bag 3 (Segenggam Bekal Ke Surga))

Kisah ini tentang sebuah waktu. Tentang seorang laki-laki yang tenggelam dalam lautan memori dan tentang perasaan yang belum siap untuk terluka lagi. Ini kisah haru sedih dan bahagia. Tentang luka yang mungkin bisa sembuh namun tak bisa hilang. Tentang kekuatan rasa yang selalu diuji keacuhan. Tentang perasaan yang selalu siap untuk dikorbankan.

            Ini tentang perjalanan rasa yang mungkin tidak orang lain ketahui, sebab  kitapun mungkin belum siap untuk mengerti, kita memahami bahwa mengorbankan adalah tentang keikhlasan hati, juga tentang ketabahan diri, rasa selalu menjadi yang pertama terluka buah dari sepatah kata yang tak bermakna.

            Disatu senja kita duduk bersama gemuruh ombak menemani berlalunya hari ini, perlahan senja mulai berlalu, bersama jutaan kisah manusia hari ini, kita menatap senja yang kian menjauh seperti rasa dan kisah kita saat ini perlahan menepi meninggalkan jauh bersama kepingan luka menutup hari ini.

            Tak akan pernah ada yang mengaku terang-terangan bahwa pergi adalah sebuah tujuan, sebab dia tahu sejatinya rasa itu tak mesti disampaikan hanya untuk alasan pergi, penyangkalan adalah kelihaian lisan dan hati yang selalu ditampakan, seolah hati dan rasa menjadi yang patut untuk dikasihi dan pada akhirnya rasa kita menuntun menjadi pihak yang paling pantas disalahkan.

Selama kau terus berpaling dan melihat kearah lain, selama itu pula kita masih setia berada dibelakang dan saling memperhatikan dari jarak yang selalu terjaga, mengkhawatirkan rasa pada harapan meski terkadang lelah menjadi rasa yang kian bertandang.

            Kita dapat melihat begitu banyak rasa yang siap menyapa, merayu dan bahkan memaksa untuk semakin berpaling pada yang lain, kubiarkan mereka berkata apapun tentang arti sabar, kubiarkan mereka menilai, menelaah dan menyimpulkan sesuatu tentang semua yang terlihat. tapi soal rasa tak mungkin mereka merasakan hal yang sama.

            Tiada yang hilang dalam senja, doa yang selalu terucap, pinta yang tak kunjung menancap, dan rasa yang jatuh pada lautan sedih, terombang-ambing bersama buih yang tak berarah, harapan orang-orang yang patah hatinya memaksa membuka apa yang disembunyikan pada retak langit menunggu dikabulkan atau diabaikan.

            Dewasa yang terasa, semuanya jelas bahwa kita sudah saling memahami tentang rasa, tatkala dua orang yang dengan mudah membuat orang lain bahagia dengan apa yang kita bagikan, tenaga pemikiran, kisah dan setiap lembar cerita kehidupan yang kita temukan setiap detik, pada setiap pagi yang tak diinginkan untuk setiap ingatan, sedang malam yang kian melarut dan dunia yang semakin terpejam, tinggalah kita terbangun pada setiap kebahagiaan yang orang lain rasakan sedang kita menyiksa diri dengan saling menutup rasa dan membiarkannya berlalu tanpa sisa.

Selama ini  banyak kenangan yang berhasil terabadikan dalam lembaran hidup yang sedang berjalan, ada banyak memori yang sempat tertulis, tentang kita, tentang rindu yang memecah waktu dan tawa yang terhalang jarak. jika untuk mengaku rindu sebenarnya kita sangat mampu, namun, kita lebih senang tak membuat semesta tahu sebab segala hal tak mesti harus diucapkan agar tidak berkurang nilainya dan tak hilang rasanya.

            Senja di penghujung hari menjadi pelampiasan setiap hati yang terluka, jiwa yang merana dan penantian yang sia-sia, ini tentang waktu dan tentang rasa yang terabai pada setiap perpisahan yang terbingkai, angan berimajinasi tentang bahagia walau hati sedang marah dan tak mau ditanya, akhirnya jemari mengalur mengukir mengikuti imajinasi dan berkelana menjadi teman dalam sesal dan air mata yang berderai.

Ini tentang rasa yang salah, dan tentang pengorbanan yang sia-sia pada setiap kisah yang terpatah, melawan arus fitrah yang tercurah, akhirnya luka menjadi kawan sedang bahagia menjadi musuh bijak yang dipalingkan rasa. Hingga akhirnya jiwa menjadi lupa tentang diri yang bertahta pada rasa.

            Memang sulit memahami rasa, dia selalu berhasil memalingkan menuju pada yang disuka, benci berubah menjadi cinta, dan cinta menjadi malapetaka jiwa, rasa paling pandai dalam memahami diri wajar jika rasa sering menggelayut menjadi penyamar hati pada setiap kata yang tertuang dalam sebuah aksara.

 Perasaan yang tak pernah sama menjadikan kita selalu curiga dan mungkin tersimpan segudang tanya yang sulit ditafsirkan oleh kata dan diterka oleh rasa, dulu kita selalu berkata bahwa rasa dan hati adalah keindahan yang tak bisa di tunda, hati begitu mudahnya berubah dan selalu mencari hasrat diri yang semakin dituruti semakin menggila, namun itu dulu sebab saat ini kita saling memahami bahwa, tuhan dan kuasanya menjadikan kita memahami untuk saling bersabar dengan jarak yang selalu terjaga, sebab siapa lah kita tidak ada satu alasanpun untuk saling menyapa sebelum agama mengikat kita dengan ridho Tuhannya.

            Sekarang kita memahami bahwa rasa harus selalu dijaga, saat diri belum kuasa mengutarakannya, kita memahami bahwa awal dari menjaga rasa tak lain adalah sebuah ketersiksaan bagi ikwan akhwat yang terbuai oleh gharizah sedang diri memutuskan untuk berhijrah, namun saat ini kita bisa membuktikan pada lelaki-lelaki yang faqir komitmen dan perempuan-perempuan pengemis rasa bahwa saat ini kita terbiasa tidak bermain dengan rasa bahkan kita bisa mendidik perasaan untuk lebih tau diri tentang gezolak rasa yang menerpa setiap relung jiwa.

            mungkin dulu saat muda, kita banyak bebicara tentang rasa dan terkadang membuat kesimpulan diantara kita, pernah jua setuju bahwa wanita yang imajinatif suka membuat prolog didalam pikirannya penuh dengan kerangka monolog sedang lelaki pemenang adalah yang mampu menyusunnya menjadi sebuah dialog serta memberi gambaran cerita indah sebagai epilog.

Kitapun sering mengira bahwa ungkapan rasa adalah dengan berucap indah nan manis, yang tak mampu berkata tidak layak dikata romantis, itulah kita dimasa lalu yang masih lugu dalam memahami arti sebuah rasa pada kalbu, dan kini kita menjadi tahu bahwa mencari bukan tentang menunggunya hati, bukan pula tentang rapuhnya jiwa atau terlukanya rasa namun tentang memahami untuk saling terjaga.

            Tidak mudah memang menjaga rasa untuk tetap setia pada yang kuasa, sebab adhwa hanyalah seorang ikhwan yang terkadang keimanan goyah dihempas hembusan angin kehidupan, situasi hati yang tak pernah pasti terkadang setuju tentang apa hati mau, ada yang terjerat oleh rasa ada yang terbuntu oleh rindu, ada yang terseok-seok akan luka masa lalu, juga ada yang senyum-senyum bahagia, sebab semua yang digenggamnya taklain adalah cinta.

            Karena iman ibarat gelombang, datang silih berganti terkadang menerjang dan menggetarkan iman, namun tak jarang pula hadir dengan tenang   juga terkadang kalah oleh karang duniawi, menghempas jauh membawa pada pusaran rasa ditengah lautan doa yang selalu terbaca.

            Keluhnya kepedihan batin, memaksa jiwa untuk menerka bahwa luka adalah bagian dari cara tentang bagaimana menerima, merelakan bahkan melepaskan, tak jera meski berulang tersakiti, bukan tentang dilupakan dan dikecewakan tapi berharap pada angan yang tinggi dari hasrat yang tak terbaca oleh penerka rasa dan diantara jutaan hati yang siap terluka sebab rasa yang salah memahami dirinya dalam menerka tentang apa yang disebut kecewa.

Akhirnya juga kita harus merelakan, tentang artinya kehilangan meski segala rasa telah diberikan tak hanya berbalut kekurangan, tak apa jika semua yang terbaik untuk menghargai rasa yang selalu salah memaknai pesan dari yang kau tuliskan lewat sajak diantara barisan kata yang mengukir dan menyapa hati.

            Aku suka gayamu mengukir kata, dengan kejujuranmu dalam tulisan dan yang kau curahkan tentang perasaanmu aku selalu membaca, tanpa harus bertemu aku sudah mampu menerka pemikiran dan kedewasaanmu, dan aku suka ketulusanmu pada tulisan yang kau jadikan teman pelepas penatnya rasa dan sesaknya jiwa. Namun akupun sadar diri bahwa setiap bait indah yang kau tulis memiliki makna tersirat menjadi penyamar rasa hatimu untuk seseorang dan aku tidak kuasa dengan itu.

            kita hanya mampu membaca yang tampak oleh mata dan dari apa yang terlihat saja, hanya itulah yang bisa kita baca dari kehidupan seseorang yang dikagumi saat ini, kita saling mengawasi dari jarak yang selalu terjaga, jauh dari pandang mata hingga kita sadar bahwa kelak kita akan terluka, meski terkadang rasa menerka untuk berucap ditengah kecamuk bimbang.

            Rasa pun terabai oleh keraguan, ternaiaya sunyi pada sepertiga malam, mencoba meyakinkan bahwa rasa akan bias oleh harapan semu yang perlahan larut dalam kabut malam, terhempas bersama angin kesedihan yang menjelma menjadi ribuan rasa yang tak pernah dewasa bahwa memendam adalah menyakiti dan mengutarakan rasa, menjadi bukti jiwa belum dewasa, maka seharusnya kita lepaskan segala rasa yang menerka tak beretika meski akan lekang oleh waktu.

            Terkadang rasa datang dan pergi tak peduli situasi hati, sering memang perasaan harus terbagi pada harapan tentang diri dengan mimpi yang sudah di ukir jauh hari, di satu sisi diri dihadapkan pada realita yang terkadang belum mampu dewasa untuk menilai dan memahami tentang bagaimana mendewasakan rasa saat luka menerpa.

            Hanya keikhlasan dalam palung  jiwa yang terkadang mengetuk menjadi sandaran dan menjadi penyejuk saat semua harapan layu, saat semua penantian tak lagi berarti dan saat jiwa tak lagi mampu menerka tentang derai air mata yang terurai, terhimpit keluhnya kepedihan dan rapuhnya jiwa jika hanya rasa yang selalu bersalah.

            Mungkin inilah perjalanan, terkadang jiwa jatuh pada kesalahan yang sama, sebab rasa hanya menerka pada apa yang tersentuh oleh jiwa dan terhembus oleh prasangka, terkadang manusia tak berfikir jernih untuk sekedar memahami bahwa segalanya tidak harus dengan menerima dan melupakan juga tidak harus dengan merelakan.

            Hingga akhirnya perjalanan hidup harus dilanjutkan selama diri masih ada waktu untuk berbenah bekal sembari menunggu tentang hati yang tak kunjung bertamu, tentang hati yang tak jua bahagia dan jiwa yang belum mampu dewasa serta rasa yang sulit untuk bijaksana.

            perlahan jalan kehidupan terlewati, begitupun dengan orang-orang yang pernah hadir mewarnai perjalanan meski hanya sekedar bersama kemudian pergi, tak perlu dijelaskan sebab alasan pergi semua memahami bahwa semua alasan telah pergi bersama selembar kenangan yang pernah singgah lalu pergi dibawa merpati.

            Untaian setiap kalimat yang terucap terkadang tidak mewakili dengan apa yang dirasa hati, justru mungkin akan berbanding terbalik dari raut wajah yang selalu berpaling pada setiap keadaan yang membutuhkan hati untuk menerka.

            Alunan rindu menggelayut dalam relung jiwa dari panasnya rasa, angan berhalusinasi pada sebuah titik yang tak berujung diantara banyaknya jalan yang terbentang, ini tentang rasa dan tentang seorang manusia yang kecewa, juga tentang kesabaran untuk perempuan yang selalu menunggu meski sudah tau akan terluka. Ini tentang komitmen untuk lelaki bahwa hati akan ragu jika engkau hadir tanpa pasti.

            Dengan begitu kedewasaan rasa pada diri menjadi bukti bahwa yang pasti adalah yang datang menyapa dengan hati, tak perlu banyak dalih untuk memahami sebab ketulusan dan keseriusan tidak memerlukan banyak puisi tentang rasa, atau banyaknya alasan untuk membaca, namun kepastian hadir saat jiwa dan rasa berpadu menjelma menjadi bait sajak yang indah diantara deretan baris setiap kalimat yang tertulis dan komitmen yang pasti.

            Memang sulit untuk melepaskan, lebih baik menunggu jika harus merelakan. Larut dalam kesendirian bersama kertas usang yang tak bertuan, diantara deretan harapan dan kerinduan yang melebur menjadi benci terselip doa yang tak pernah sepi dari wanita yang tersakiti sebab yang ditunggu tak kunjung hadir meski sudah berjanji.

Mungkin jika waktu itu tak ada pertemuan diantara kita, bahagia dan tak bersedih seperti ini, engkau pergi bersama kesedihan yang tak bertuan dan bersama sesal sebab kita terlalu yakin dengan perasaan padahal dia begitu rapuh untuk dijadikan sandaran, tapi kita hilap bahwa Allah adalah tempat yang tepat untuk bersandar, yang akhirnya kini hanya penyesalan yang mungkin tak lagi berarti.

            kitapun memahami bahwa segalanya tak harus sama, sebab diantara kita memiliki naluri dan perasaan yang juga tak mungkin sama, namun entah apa yang coba hati rasa sebab perlahan raut wajah bahagia itu kian memudar dan berpaling pada sosok baru dalam hidup, kita menyadari perubahan dalam diri kita perlahan mulai memahami satu sama lain jika disandarkan pada penilaian Allah dalam memilih pendamping hidup.

            Bumi terlelap bersama kisah yang tergores dalam lembar cerita yang dulu pernah kita rangkai menjadi satu mimpi bersama senja sore itu, jiwa tak lagi terasa nyata dan mungkin tak akan pernah nyata sebab jiwa yang terluka mungkin akan lama untuk tersenyum kembali seperti awal saat berjumpa.

            Hingga akhirnya kita memahami bahwa kita belum dewasa dengan rasa yang orang bilang mudah di kata dan disuka sembarang hati, tapi ternyata jiwapun belum cukup dewasa dalam menerka pada setiap hati yang menyapa, hingga kita menjadi saksi bagian dari perempuan-perempuan didunia ini yang terluka karena rasa.

            Diantara malam yang lelap, dalam setiap hela nafas yang terlewat dan diantara jutaan perempuan yang jatuh cinta, sejatinya sudah cukup untuk menilai pria, bahwa tanpa ikatan semuanya akan tersiksa dan kecewa, sialnya perempuan takluk pada rasa yang dibawa lelaki bersama berjuta kata mutiara, yang pada isinya adalah racun yang akan diteguk oleh keikhlasan cinta seorang wanita sebab terbuai dan tak pernah curiga bahwa gelagak tawa bahagia akan berakhir dengan segenggam luka teriring air mata.

            Diantara banyaknya cerita yang terlewati, diantara penatnya hidup yang dijalani dan diantara lelahnya menanti, maka keputusan untuk mengawali membuka hati pada yang lain dengan keseriusan dan keikhlasan untuk bersama adalah jalan terbaik untuk saling menyemai benih baru dalam gubuk sederhana dan jauh dari kebisingan dunia.

kita ingin lebih sederhana dalam menjalani hidup kelak, menikmati sejuk setiap hembusan angin yang setia menemani dan menyapa relung jiwa, bersama orang-orang yang juga sederhana dalam dawai rasa, mungkin lebih tenang jika kita menjalani hidup bersama dalam ketenangan desa menikmati hari tua berbalut suka yang kian terasa.

            Cahaya indah bertebaran diawal senja, malam menelisik mengintip kian menyapa, ketaatan pada Rabb-Nya kian romantis mengenggam harapan dua hati yang tak lama lagi menjelma menjadi sebuah keluarga.

            Ini cerita tentang keihlasan hidup juga tentang pedihnya menanti dan trauma duka seorang permempuan yang sering kecewa namun tak pernah jera, ternyata bukan soal luka namun tentang rasa yang terjaga sementara meski pada akhirnya lenyap bersama senja.

            Sebesar apapun perjuangan kita mengejar kebahagiaan, dan setulus apapun kita mencintai sesuatu jika jalan dosa yang di tapaki maka tak mungkin kebahagiaan dan cinta sejati itu kan dimiliki, bahkan bukan bahagia yang didapat tapi duka dan kecewa yang menanti, yang salah bukanlah hati namun diri enggan memahami bahwa hidup tidaklah sendiri tapi jauh dari Allah menjadi sebab tersakiti.

Bersambung...

  • view 66