Air Mata Surga_Bag 2 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 19 Agustus 2017

"Hujan Bahagia"


Cahaya indah bertebaran diawal senja, malam menelisik mengintip kian menyapa, ketaatan pada Rabb-Nya kian romantis mengenggam harapan dua hati yang tak lama lagi menjelma menjadi sebuah keluarga.

Kategori Fiksi Remaja

2.3 K Hak Cipta Terlindungi
Air Mata Surga_Bag 2 (Segenggam Bekal Ke Surga)

Allah tidak menitipkan lautan yang bergelombang dan air disungai yang mengalir, tapi allah menyelipkan dibelakang kelopak mata kita yang terus menetes memberi faedah manis bahwa bahagia sebagai hamba beriman tidaklah diukur dengan banyaknya harta dan keluarga yang sejahtera namun kebahagiaan hakiki bagi seorang yang beriman adalah air mata yang selalu menetes mengharap kebahagiaan akhirat yang kekal yanitu dikampung syurga (Hud 108)

            Barangkali kita lupa bahwa fase kehidupan manusia dihadirkan baginya dua hakikat kehidupan yaitu pertemuan dan perpisahan. Siapapun ia kaya atau miskin, muda atau tua pasti akan menjumpai salah satu episode kehidupan yaitu ijtima’un wa furqatun (pertemuan/kebersamaan dan perpisahan) sebab kehidupan bukanlah episode yang tidak berakhir. Pastilah di dalamnya ada pertemuan dan akan diakhiri dengan suatu perpisahan.

            Pertemuan dengan orang yang kita cinta menumbuhkan benih-benih bunga kebahagiaan yang senantiasa dijaga dengan hangatnya romantika keluarga dan melepas usia bersama hingga tua, keluarga hadir menjadi warna kehidupan paling indah menyusuri kehidupan di dunia.

            Terdapat hal terpenting yang harus kita fahami dari episode pertemuan dan perpisahan ini, yaitu memahami hakekat pertemuan dan perpisahan sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Agar kita mengerti bagaimana sikap ketika kita bertemu dan sikap ketika kita berpisah, pada akhirnya kekasih yang selalu  setia menemani setiap kebahagiaan dan kesedihan bahkan selalu menguatkan, lambat laun Allah ambil dari genggaman sebagai bukti bahwa tak ada tempat yang paling pantas untuk di cintai adalah Allah sedang manusia hanyalah perantara supaya cinta kepada Allah kian berarti.

            Luka dan kesedihan ibarat alarm yang membangunkan dan menyadarkan saat diri kita terlalu lelap tertidur, kekecewaan menjelma menjadi guru dalam perjalanan kehidupan, kita sebagai hamba Allah senantiasa ada dan tak  akan luput dari sebuah ujian Allah, cobaan dan ujian bukan berarti dia membiarkan kita dan tidak menyayangi, tetapi kecintaan Allah disampaikan kepada hambanya dengan menguji cinta.

            Sebagaimana Rabb kita telah menyampaikannya dalam kitab nan agung. Allah SWT Berfirman

            Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan (QS al Anbiya 21/35)

            Sudah sepantasnya kita menjalani hidup ini dengan memahami bahwa kesedihan, kekecewaan itu tak lain sebagai tolak ukur kecintaan kita pada Allah, dan sejauh mana kita bersabar dengan cintanya, jika kita bersabar kecintaan dan kasih sayang akan melekat  laksana sebuah ukiran yang akan terus abadi dengan kuat.

            Kekecewaan pada ralita dan kehidupan yang menurut kita terkadang tidak berpihak pada kehidupan yang dijalani dengan kebaikan tapi tetap saja Allah menguji kita, lantas kitapun mengeluh karenanya, maka seseungguhnya kita telah menujukan kelemahan iman, kita perlu melihat bagaimana kekasih-kekasih Allah diuji dengan kesusahan dan mereka tersenyum dengan kesabaran sebab kecintaan kepada Rabb-Nya melebihi kecintaanya pada panggung dunia.

            Percayalah bahwa kekecewaan dan tangis yang terurai dari mata kita sesungguhnya adalah teguran kasih sayang Allah agar sepanjang perjalanan hidup di dunia ini senantiasa bertabur muhasabah dan kepasrahan diri kepada Allah sang pemilik cinta, seraya diri ini selalu merenungi dan mengambil hikmah dibalik kejadian-kejadian sebagai bekal untuk lebih mencintai sang pemilik seluruh cinta.

            Semua kekecewaan yang menghampiri dalam ruang kehidupan tidaklain akan menguatkan kesabaran, seperti pepatah mereka yang sudah lama menjalani hidup bahwa semakin banyak cobaan semakin kuat pulan keimanan seorang hamba, bukankah tujuan dari hidup adalah keimanan yang indah dan hangatnya ketakwaan.

            Dengan sifat ini Allah akan melipatgandakan balasan kebaikan bagi yang bersabar, sebab Allah akan memperlakukan kita bergantung pada prasangka kita kepada Allah, sebagai mana firman Allah :

            “Aku (akan memperlakukan hambaku) sesuai dengan prasangkanya (7)

            Maknanya Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuiai dengan prasangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan dia akan berbuat baik kepada hambanya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka cukuplah bagi kita prasangka baik selau dihadirkan dalam perjalanan ini kepada sang pemilik kehidupan.

Ada kisah menarik yang coba penulis sampaikan  di kisahkan oleh imam ibnu Qayyim rahimahullah tentang gambaran kehidupan guru beliau di jamannya yaitu syaikhul Islam ibnu taimiyyah rahimahullah. Kisah ini memberikan pesan bagi kita bagaimana seharusnya seorang mukmin menghadapi cobaan bahkan kekecewaan yang Allah taala berikan kepadanya, ibnu qoyim rahimahullah berkata :

            “Dan Allah taala yang maha mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih berharga dari pada beliau (syaikhul Islam ibnu taimiyyah rahimahullah). Padahal kondisi kehidupan beliau begitu sulit dan susah jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi bahkan sangat memprihatinkan. Tak cukup dengan itu siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan allah taala, berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau), tapi disisi lain aku mendapati beliau termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.

            Terpancar dari wajahnya sinar keindahan dan senyum merona cahaya keindahan dan nikmatnya hidup yang beliau rasakan. Dan kami murid-murid jika ditimpkan kepada kami dengan perasaan takut yang berlebihan, akan timbuk dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasihat.

            Dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehatnya maka hilanglah semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang tegar yakin dan tenang, semua nasehat itu tidak lain karena iman dan ketaqwaan dan keikhlasan orang-orang sholeh.

            Maka tak perlulah kecewanya kita dengan orang yang pernah mampir dalam lembaran kisah hidup  ataupun dengan ujian Allah kepada kita tak perlu kita sampaikan ke dnia maya yang tak memberikan faedah yang yang baik justru akan membuat orang lain menilai sesuatu tentang kita dengan tidak ahsan.

            Tak perlu juga kita diam seribu bahasa menahan kesedihan seakan kita tegar dengan dengan keadaan dan tak usah pula kita menyembunyikannya dari Allah dengan sebab Allah lebih mengetahui yang kita tutupi bakan kita memikirkan apapun Allah mengetahuinya

            Maka menangislah dengan muhasabah diri sebab kadang kita terlalu sombong untuk menangis, padahal Allah menciptakan airmata bukan hanya untuk bahagia namun air mata adalah ungkapan kata dari perasaan sebab terkadang ungkapan kata tak mampu menyampaikan seluruh gundah hati, maka air mata menjadi perkataan hati mewakili rasa.

  • view 234