"Tamu Dalam Teras Hati" Bag 1_Segenggam Bekal Ke Surga

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Project
dipublikasikan 19 Agustus 2017

"Segenggam Bekal Ke Surga"


Cahaya indah bertebaran diawal senja, malam menelisik mengintip kian menyapa, ketaatan pada Rabb-Nya kian romantis mengenggam harapan dua hati yang tak lama lagi menjelma menjadi sebuah keluarga.

Kategori Fiksi Remaja

608 Hak Cipta Terlindungi

Orang yang hadir dalam dalam teras kehidupan kita hanyalah dua, yang datang untuk menggores luka serta melelehkan air mata dan menguji kesabaran. Yang datang membawa kegembiraan serta mengukir keceriaan hati supaya kita bersyukur dengannya dan kita hanya punya dua menu sabar dan menu syukur (Oemar Mita)

             Sekelumit ungkapan tentang hidup dan realita yang pernah hadir dalam teras hati. Hari berganti seperti biasa begitupun aku padamu biasa saja, tak ada yang melebihi perasaan dan prasangka  ku selama ini, selain engkau hanya sekedar lewat saja dalam hati, seperti yang lain yang pernah lewat mendahului, dan kini engkaupun akan segera pergi bersama perasaanmu tanpa ada sedikitpun untuk ditinggalkan. Akupun tidak berharap engkau hadir seperti hadirnya pagi dan  pergi seperti perginya terang yang lenyap oleh malam. Memang tak mudah untuk melepaskan, sebab ini masalah perasaan yang mudah untuk mengaitkan sesuatu dengan perasaan, bahkan terkadang menilai sesuatupun dengan modal perasaan.

            Kita memahami bahwa hakikat kehadiran seseorang tidaklah memberi manfaat dan kebaikan jika hanya sekedar bertamu dan berlalu berganti pada hati yang lain, hingga akhirnya kita mulai ragu dengan pertemuan ini sebab pemilik rumah tidak mengizinkan untuk singgah walau hanya sekedar mengetuk pintu, begitupun dengan mu takkan pernah bisa masuk sebelum meminta izin pada pemilik rumah, kitapun selalu resah dengan pemandangan sepanjang perjalanan yang dilalui, risau saat melihat suami-istri berjalan bersama dalam kebahagiaan berbalut indahnya romantika diantara mereka, disisi lain kitapun menjadi muak dengan pasangan muda-mudi berangkulan tangan sembarangan tanpa ada ikatan. Hingga akhirnya kita bisa memahami bahwa perasaan laksana api dan pernikahan adalah air yang mematikan api syahwat, yang kemudian menumbuhkan benih-benih kebaikan pada perasaan dan ketaqwaan pada Tuhan-Nya, lantas jalan manakah yang akan kita ambil agar kebahagiaan itu datang.

            Kita selalu merasakan hal sama tidak ada yang istimewa dari pertemuan ini, hanya sekedar bertemunya dua perasaan yang begitu sederhana namun menyesakkan, kala perasaan membuncah berangan-angan tentang rasa yang jauh dari fakta  bahkan berbanding terbalik dengan realita. kita merasa tersiksa dengan hadirnya rasa diantara kita sebab perlu persiapan dan tujuan matang untuk menemuimu, kita akan saling menyimpulkan satu sama lain, hingga akhirnya kita memutuskan tak akan saling bertemu tanpa niat dan kesungguhan yang nyata, sebab Allah takkan tersenyum jika ego diri memaksakannya.

            Masa remaja mungkin masa yang paling sibuk menata hati, entah kedewasaan yang belum labil atau mungkin rasa yang belum adil. Kita lelah membicarakan perasaan seperti manisnya merah jambu bertabur romantika dalam balutan haru-biru. Membuat kita lemah dan terbuai pada angan-angan yang kian menjauh. Allah mengajarkan bahwa yang kuasa mengendalikan perasaan manusia adalah Tuhan-Nya, maka tak perlulah engkau memberikan pesan pada teras hati sebab kita  tak perah kuasa menjamin sesuatu diluar daya manusia, begitupun denganku takkan membuka pintu sampai engkau serius untuk mengisi rumah hati, menerima kurang dan lebih dari pasangan kita yang belum sempat tersampaikan yang mungkin tak sebanding dengan kriteria dalam memilih pasangan. Siapapun itu tidak ingin hatinya hanya sebagai persinggahan orang-orang yang akan pergi tanpa menjadi pasangannya, sedang kitapun berharap ada yang bersinggah tanpa harus pergi menyakiti tapi yang selalu membuka mata, mencintai sepenuh hati dan tak menutup telinga dengan realita hidup yang semakin menggila.

            Satu titik waktu yang pada akhirnya kita harus saling merelakan lalu melepaskan jauh perasaan dari dunia hati.   Sebab tak mungkin untuk dipertahankan jika sebab tak serius yang diberi, beranjaklah pergi jika memang teras dan rumah ini bukan tujuan akhir, tak ingin diantara kita ada yang terluka karenanya, tergoyah oleh buaian hidup yang menggoda dengan materi semata, sebab perasaan kita memiliki hasrat yang sama untuk bersatu  namun bukan berarti harus dengan pertemuan kan? Sedang kita belum cukup kuasa untuk dewasa, Tak perlu harus bertemu agar ingin dilihat jutaan mata didunia atau mengabadikan pertemuan itu dalam media, tapi cukuplah dengan menyembunyikannya dalam doa, sebab bukankah tuhan kita mengatakan doa dalam diam itu lebih mustajab, maka  lebih bahagia jika diamnya perasaanmu bukan tak mampu mengucapkan namun keimanan menjadi kawan yang menemani dalam taat berbalut hangatnya iman. Serahkan semuanya pada Tuhan urusan hati ini jika kita belum mampu ber azam untuk saling melengkapi.

            Noda Pada teras Hati

             Hakikatnya yang tertulis ini adalah bagian dari penggalan episode kehidupan yang tak lain sekedar bergbagi pengalaman dari seorang hamba yang tak meminta banyak hal tentang ini, sedikit harapan bisa bergbagi syukur bisa memberi manfaat selama meniti kehidupan dipersinggahan dunia, itulah yang kita rasakan saat ini, kehadiran seseorang dalam teras hati bagian dari episode dalam panggung kehidupan yang sedang kita lalui, mereka hadir menjelma menjadi bayang fana yang terkadang pandanganpun sulit menerka rupa yang juga pikiranpun belum cukup dewasa untuk hanya sekedar menerka matang tentang rasa yang  mungkin kita pernah merasakannya.

               Berjalannya waktu hingga kita menyadari bahwa orang yang hadir dalam teras kehidupan tidak menjamin teguhnya hati dan hangatnya iman, terkadang dia menjadi kesedihan yang menitikan air mata, juga terkadang memberi warna bahagia daripadanya, maka sabar adalah penawar, sedang taat adalah pengganti kemana hati itu berlabuh, sebab hadirnya hanyalah sebuah ujian, maka percayalah diantara sekian banyak tamu yang hadir, kelak Allah ganti  dengan tamu yang menetap menjadi pendamping hidup, memberi rona bahagia sampai kita bersyukur karenanya, kitapun menyadari bahwa tak mesti diri selalu membuka perasaan pada seseorang, jikalah tidak serius untuk memiliki.

            Kita tidak pernah mengerti sebelum ini kita akan menjadi apa sekarang dan nanti bahwa mungkin jalan hidup yang kita keluhkan, kita khawatirkan adalah jalan yang membuat kita mendekat, kita tidak pernah menyangka kita menjadi satu, ingatkah sewaktu engkau bertanya-tanya saat sendiri tentang siapa yang akan menemani hidup hingga mati, dan kita begitu khawatir memikirkan segala kemungkinan termasuk pertanyaan bodoh tentang adakah seseorang yang bersedia hidup dengan diri kita seperti ini @gunandi

            Kitapun tak mesti diam dengan dengan hanya menunggu,  tapi menunggunya juga adalah mencari. Cobalah menunggu dengan kitapun mencari sebab tidaklah kebahagiaan itu hanya datang menghampiri tapi menjemputnya juga adalah bagian dari menunggu, carilah hati itu dibalik arakan awan-awan dilangit, diantara bunyi dersik angin dan diatara doa kita yang tak pernah putus. meski kita tahu bahagia yang dicari tak kunjung hadir, doa yang dipinta tak jua terjawab, namun kita tetap mencari, itulah namanya menunggu dengan kita jua mencari. Sebab mungkin disaat yang sama ada hati yang juga mencari hingga Allah mempertemukan kita dengan seseorang yang juga sedang mencari dan itulah sebaik-baiknya menanti.  Kita pun mungkin pernah mencari pendamping hati sampai letih menelusuri jalan kota hingga sudut gang nya dan dan kitapun sadar bahwa bahagia juga bukan disana. Hingga sampai lelahnya kita mencari bahagia yang sebenarnya tidak ada sebab kita mencari bukan dengan hati, tapi sebatas pandangan dunia yang sampai-sampai kita diburu waktu, yang akhirnya kita harus mencari kebahagiaan dalam doa yang senantiasa terucap dan diantara kalimat tanya yang kita sampaikan pada orang-orang yang hadir dalam ketaatan dan keimanan, disitulah kebahagiaan hati akan bertemu.

            kita tak ingin lebih mengenal lebih dalam, sebab semakin mengenal semakin tinggi pula kecenderungan hati, tak perlulah meminta untuk bertemu sebab kita akan kecewa jika perasaan harus di gugurkan dengan pertemuan pertama tapi tak sanggup untuk mengikat, bukankah syetan itu jeli memalingkan dan piawai menghasut rasa, jangan sampai lengah dan tetap menyadarkan semua urusan pada Allah. Disatu sisi kita harus belajar dengan kisah-kisah hamba Allah agar kita tahu bagaimana hakikatnya menempatkan, menilai, memahami dan mengamalkan perbuatan, kita hanya seorang faqir ilmu yang terkadang keimananpun goyah dengan mudah tertiup angin kehidupan yang menelisik namun mematikan rasa pada tuhan sang pemilik semesta.

            Kita tidak dilahirkan dari satu rahim yang sama lantas perasaanpun harus sama, bukan perkara suka atau tidak namun kadar iman kita masih jauh dari sempurna, maka  seharusnya kita tahu diri dan berkaca sudah rapi kah kita dengan keimanan itu, hingga pada kesadaran terdalam  bahwa orang yang pernah singgah dalam teras hati lalu pergi meninggalkan goresan dalam noda lalu pergi dengan air mata, itulah teguran Allah untuk kita selalu terus menapaki jalan yang singkat ini dengan menyandarkan diri kepada-Nya.

            Kita tidak ingin tergesa-gesa dengan perasaan yang terasa, kita harus tahu bahwa tak mesti semua yang  diinginkan harus dimiliki, dan tak semua angan lantas harus ikuti, begitupun kekaguman kita pada seseorang tidak lantas menjadikan kita harus segere memilikinya, sebab boleh jadi dia hanya hadir untuk pergi tidak lebih untuk dimiliki,  sebab  kita harus menilai dengan bijak dan memaknai segala sesuatu yang diinginkan naluri haruslah memastikan bahwa semuanya bukan karena syahwat duniawi semata.

            Sebab kita beragama dan mempercayainya adalah keimnanan yang tak pernah ragu dengan hati yang tulus menjadikan ibadah yang terus dilakukan tanpa adanya paksaan adalah buah hasil dari keikhlasan diri dalam menghamba. Sesibuk apapaun kehidupan dunia bagi hamba yang tulus mencintai Rabb-nya akan selalu hadir berserah diri  dengan ibadah yang khusyuk serta doa tulus yang tak pernah padam di penghuung senja. Maka ketaatan menjadi sebab baiknya seseorang mukmin, diri saja selalu dijaganya begitupun hati yang selalu terjaga dan terpatri.

            Maka ajaklah perasaan itu untuk bermuhasabah, dan merangkai muhasabah itu dengan menyandarkan segala kelumit hati pada Allah seraya terus memperindah dengan perbaikan, sebab tak ada yang lebih Allah sukai selain perbaikan diri, dan terjagalah diri ditengah terik panasnya opini dan realita orang-orang yang haus dunia diluar sana.  mereka menampakkan keindahan dan nikmatnya dunia mereka, kita memahami tidak mudah menjaganya perlu pengorbanan dan keikhlasan yang lebih tinggi, sebab ini masalah perasaan, sebab perasaan sangatlah rapuh melebihi dedaunan yang jatuh oleh hembusan angin.

            Kerana hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikkan serahkan rasa itu pada Yang Memberi dan Memilikinya biarkan DIA yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya "Barangsiapa yang menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga." (Umar Bin Khattab R.A)

            Bersabarlah dengan segala keputusan Rabb kita, sebab segala sesuatu yang terjadi dengan hidup adalah yang terbaik, kita sajalah yang mungkin selalu salah dalam memahami maksudnya. Bersabarlah sebagaimana Tuhan kita memberi jalan keluar atasnya

Allah SWT Berfirman : “Tuhan yang mengusasai langit dan bumi dan papa yang ada diatara keduanya maka sembahlah dia dan bersabarlah kepada-Nya apakah kami mengetahu ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)? (QS Maryam 19 ; 65)

            Sabar dalam ketaatan mencakup banyak hal termasuk menjaga perasan terhadap sesuatu yang kadang mata kita melihatnya begitu indah nan menawan, padahal jika akal melihat dengan ketaatan, akan tampak jelas perbuatan itu menayalahi fitrah seorang hamba

            Biarkanlah dia pergi bersama kenangan masa lalu yang  kita pernah jauh darinya, melupakan aturan Agama hanya untuk perasaan semata, keburukan yang pernah terbesit dan tersisa semakin terasa dalam hati menjadi sebab hati kita begitu rapuh dan mudah goyah. Maka tak usah menahannya jika kita tak mampu meyakinkanya, biarkan semua berlalu dengan kehendaknya sebab jika melarangnya kitapun tak mampu menjamin agar berubah menjadi kebaikan, sebab mengungkapkan perasaan tak mesti harus tampil bak pahlawan disaat dia membutuhkan, dan berjuangpun tak mesti harus dengan fisik, jika kita merasa belum cukup kuasa mengatakannya. Maka, jagalah dia dengan kita menjaga perasaan kita sendiri. Jangan lah mengutarakan namanya sembarangan sebab itu bisa menjatuhkan kehormatan, itu bisa menjatuhkan perasaanya dan berasumsi tentang kita, jika mau, kita cukup diam, tapi tetaplah kita bergerak, sebab cinta itu energi yang luar biasa untuk melakukan hal yang besar.

            Hingga pada satu kesadaran bahwa perasaanpun harus di didik supaya tahu bagaimana berucap atas segala yang terasa olehnya, mendidiknya perlu kesabaran supaya tumbuh dewasa menjadi perasaan yang tangguh dan tak mudah rapuh, sebab niat saja tidak cukup mewakili hasrat yang membuncah pada perasaan kita.

            Kelemahan dari perasaan adalah kadang berani mengutarakan namun tak sanggup mengikatnya, lebih baik sembunyi di tempat yang aman, dengan kita menjaganya untuk tetap aman, mudahkanlah urusannya dengan diam-diam dalam doa. Sebab jikalah memilih jalan lain, meski sekalipun melangkah paling hati-hati, kita yakin ada saatnya duri kecewa menjadi sebab langkah terhenti dalam penyesalan, maka pastikan kita terjaga dengannya dengan mendoakannya diam-diam.

            Benar petuah ulama bahwa hadirkan Allah dalam perjalanan kehidupan setiap manusia dan berserahlah dengan sabar karena-Nya, ini bukan soal akhir, bukan soal awal, bukan soal bagaimana memulainya dan bukan bagaimana cara mengakhiri namun bagaimana kita menyandarkan segala urusan kepada Allah.

            Kita percaya ini bukan soal waktu tapi tentang kesiapan kita mengutarakan perasaan dengan segudang konsekuensi yang hadir, sebab kita pandai menunggu, mungkin ini lebih dari sekedar menunggu, sebab Allah memberi kita sesuatu disaat kita betul-betul siap memilikinya, dan mungkin ada yang betul-betul belum siap saja menerima segalanya. Itulah manusia terkadang paing pintar menyalahkan keadaan saat salah dan mengakui jika hadir sebuah kebaikan. Bersabarlah kepada Rabb kita yang memiliki hati setiap yang hidup.

            sekian banyak episode kisah dalam panggung kehidupan manusia, hadir ditengah-tengah kita orang-orang yang menjaga hangatnya iman, memberikan warna yang beragam seperti rasa kita yang terkadang berubah-ubah, yang selama mata memandang tak pernah bosan melihatnya, sebab sebuah kesabaran saat ini kelak bebuah manis dan indah laksana bunga yang mekar dan siap ranum.

            Entahlah mungkin ini memang sudah direncanakan atau mungkin juga  hanya kebetulan yang terlalu dibesar-besarkan, walau dari kejauhan sudah bisa dirasakan bahwa itulah bahagia yang tak kita kenal dan bukan juga kita tak ingin saling menyapa, cukup senyum saja tanpa harus berucap sebab, saat tak sengaja bertemu pun kita tak punya kuasa untuk mendekat kita lebih aman saling menjaga dengan terikat pada Rabb kita, biarlah semua terlihat biasa sebab kau terlihat tapi belum mampu ku jangkau, terasa tapi tak tergenggam, beitulah agama ini menjagannya.

            Semakin islam di genggam erat, maka semakin sempit pula ruang bebas  yang mungkin biasa dilakukan sebab diri dir dulu jauh dari agama, maka Menagislah dengan kesyukuran dan harapan pada Rabb dalam balutan malam, menangislah sebab tak selamanya tangis mendefinisikan tentang rasa sakit, sebab air mata yang jatuh sebab ketaatan, perasaan yang bermuhasabah sekan menelisik alam sunyi akan naik kelangit bersama doa, menyadari diri penuh dengan kekurangan dan bersimpuh mengharap kepada sang pemilik semesta yang menguasai hati setiap manusia.

            Sebab seuntai doa diam-diam akan lebih mustajab untuk sebuah pertemuan kepada Rabbya dan rahasia dibalik rindu yang tertahan, yang namanya enggan disebut tapi gaduh jika mata mulai terpejam. Diam-diam dalam malam tak luput tersampaikan sebuah nama yang hatipun malu tuk mengucap.

            Ada banyak rindu yang tertahan dan banyak kisah yang tak sempat tersampaikan tentang perasaan kita kepada Rabb tentang cinta dan tentang segala yang melemahkan rasa,  doa yang selalu tertuang di awal senja seperti mengizinkan hadirnya sepotong rembulan yang menerangi malam. Kesyukuran kita bukanlah yang datang dengan segala kelebihannya tapi yang tidak pergi dengan kekurangan dalam diri kita.

            Tak perlulah menghalalkan yang tuhanmu larang patuhilah dan berserah dengan keputusannya, tidaklah bagi kita menghargai setiap perasaan yang terasa, jadikan ia kembali suci sebagaimana sucinya kehidupan orang-orang yang berserah diri kepada rabb-Nya, kita tak bisa melarang untuk dusta pada rasa, menyirami perasaanmu dengan perasaan yang lain yang akhirnya menjauhkan manusia dari fitrah yang suci.

            Jadilah perasaan dan ketaatan menjadi kawan, saling menjaga dan mengingatkan, fahamilah bahwa kemanapun kita membawa perasaan lari ke tempat aman, tapi jalan yang Rabb tak kita ambil niscaya bebatuan terjal berliku menjadi teman yang berakir dengan tangis penyesalan yang teramat.

            Sesungguhnya kehadiran tamu pada teras kehidupan adalah sebuah ujian,  sejauh mana kita mampu menilai karakter dan kedewasaan perasaan, apakah kala hadirnya seseorang dalam hidup membuat kita terluka dan bersabar karenanya, apakah akan menambah kesyukuran kita sebagaiman doa yang selalu terucap lantang kala harap belum terjawab.

             Akhirnya kita lebih suka untuk menyendiri, menenangkan perasaan dari mereka yang sudah menikah  dan getol mempromosikan manisnya pernikahan, disi lain kita khawatir dengan mereka yang terbawa arus media yang gencar mengopinikan manisnya romantika pernikahan, gharizah semakin membuncah menelisik dengan khayalan tentang mereka yang sudah berkeluarga, aku pun menyadari diluar sana banyak kompor-kompor panas yang memercikan opini seakan yang masih sendiri tidak lebih dari seorang yang menyiksa hati dengan mengubur perasaan.

            Kita tidak ingin terbuai dalam opini untuk segera menikah sedang diri kita tidak atau belum siap menikah, sebab masa depan kita bukan tanggung jawab orang lain bahkan masa depan keluarga pun orang lain tak peduli, maka fikirkanlah dengan matang sebab perkara ini bukan sekedar melihat kemesraan orang lain tanpa berkaca diri, dan bukan sekedar akad namun sebuah pertanggung jawaban dan janji kepada Rabbmu. Maka pantaskan dan siapkan ketaatan dan kedewasaan sampai kita benar-benar siap untuk menikah.

            Melihat realita saat ini pemuda semakin menampakan aktifitas berdasarkan perasaan padahal perasaan tak mampu digenggam dan di simpan pada hati seseorang, sekuat apapun kita menggengang perasaan, maka dengan sendirinya akan berubah. Bersabarlah sejatinya pasangan hidup adalah sebagai teman berjuang, berjuang bersama mendayuh mengarungi panggung kehidupan menuju ridho Allah Swt.

            Tahanlah emosi naluri yang menggebu itu, mungkin lamanya penantian dan kekhawatiran karena kerikil dosa yang belum sempat ditaubatkan dan mungkin lalai tidak bersegera bersyariat kepada-Nya secara sempurna, maka irilah dengan diri yang masih lalai bermuhasabah memperbaiki dengan segala khilaf yang terlintas mewarnai kehidupan.

            Ketahuilah semakin kita dewasa maka tanggung jawab akan hidup terserah pada diri, mau seperti apa diri hak dan keputusan ada pada dirimu, menentukan rezeki kita yang lebih faham, kesiapanmu dalam berumah tangga kita memiliki mafhum untuk mengukur diri sejauh mana kesiapan itu. maka fokuslah pada perjalanan tentang bekal dan persiapam menentukan hidup, sebab kelak orang kita tak selamanya bersama, tak lagi memberi uang saku dan tak lagi memikirkan kondisi bukan karena status sudah berkeluarga tapi usia semakin lajut dan kulit yang tak lagi muda, maka hilangkanlah beban orang tua dengan berproses menjadi baik dengan diri dan taat pada Allah semata.

            Buatlah orang tuamu tersenyum lepas ditengah usia yang senja, melihat anaknya yang menjelma dewasa menjadi sosok tangguh sebagai anak lelaki ataupun perempuannya, maka mendekatlah kepada Tuhanmu dan serahkan segalanya kepada Allah  dengan sabar, bersabar bukan sebatas diam dan menanti namun sabar dalam ketaatan menjadi yang terbaik dalam keluarga dan harapan pada ummat, berfikirlah dengan cermat disetiap langkah kehidupan, sebab kelak setiap langkah akan menjadi saksi atas setiap perjalanan kita di panggung kehidupan ini.

  • view 95