#Muhasabah

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Agustus 2017
#Muhasabah

Manusia tidaklah bisa hidup sendiri. Kita akan bergantung satu sama lain dan itu kita akui bersama bahwasanya ada ketergantungan antara diri kita dengan orang lain, baik itu lingkup masyarakat ataupun bernegara, jika kita kerucutkan kepada kehiduan dunia ini dan kita mengamati apa yang ada dalam semesta ini pastilah ada yang menciptakan yaitu Allah SWT  dan  yang diciptakan mempunyai tugas masing-masing dari apa yang telah Allah ciptakan termasuk diri kita, sudah sepantasnya kita menjadikan diri ini sebagai hamba yang selalu merenungkan kehidupan yang begitu singkat, maka jelaslah kehiupan kita didunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Alqurán surah Az-Dzariat ayat 56 yang artinya : “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” dari ayat ini jelaslah bahwa saat ini tugas kita hanyalah beribadah kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian jelas sudah fungsi dan tujuan kita hidup didunia ini hanyalah untuk beribadah tunduk dan patuh akan aturan Allah, namun lain keadaan saat ii dimana banyak orang berlomba-lomba mengejar kepuasan dunia dan menyibukan diri dengan mengumpulkan harta demi kepuasan semata, inilah salah satu dampak dari sekulerisme yang menjadi panutan dalam mengahapi kehidupan sehingga materi menjadi tujuan yang secara sadar takkan ada habisnya jika terus dikejar selama hidup ini, jika kita bercermin pada tauladan nabi kita yang begitu luarbiasa ketaatan kepada Allah, sampai-sampai tak ada yang menandingi ketaatan kepada Allah selain ada pada diri rasulullah SAW.

Saudaraku…. Mari kita merenung sejenak bahwasanya manusia memiliki siklus kehidupan ysng terus berputar dan itu mutlak terjadi pada diri manusia dimana ada  fase dalam hidup yang melekat pada manusia saat didunia, dari mulai kita balita, sampai dengan tua rentah semuanya terjadi dan melekat pada manusia, ibaratnya suatu benda memiliki masa tertentu dan fungsi masng-masing.

Berikut adalah kitipan dari Dr. Umar al-Asyqar menjelaskan bahwa tujuan dari pada hidup manusia ialah beribadah, yaitu badah setiap mukallaf hanya berujung kepada satu tujuan: Allah, bukan yang lain. Setiap amal yang tidak ditujukan kepada Allah tidak akan memiliki nilai apa-apa. Setiap orang yang mempelajari Al-qur’an dan hadits pasti mengetahui bahwa inilah satu-satunya tujuan yang diakui islam. Isi al-qur’an pun sesungguhnya menjelaskan bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.

Al-qur’an menyebut tujuan ini sebagai ikhlas. Pengertian ikhlas disini bukanlah menghadap kepada  Allah dalam satu perbuatan saja. Ikhlas disini adalah ketika seorang mukalaf menghadapkan seluruh perbuatannya kepada Allah semata, bukan kepada yang lain. Seluruh ibadah yang dilakukannya tidak ditujukan kepada malaikat ataupun raja; ia tidak beribadah kepada pohon, batu, matahari atau bulan. Makna ihklas adalah memusatkan seluruh perbuatan  hatinhanya kepada Allah, bersesuaian dengan perbuaan-perbuatan lahir.

Ikhlas merupakan ajaran yang menjadi dasar diutusnya semua rasul Allah. Ikhlas adalah pusat dan inti dakwah mereka. Setiap nabi dan rasul dituntut untuk mengajarkan ikhlas kepada umat mereka masing-masing. Allah berfirman: padahala mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus(8)

Setiap rasul menyeru kepada kaumnya : sembahlah Allah tidak ada tuhanmu selain Dia(9) kenyataan ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya :

Dan tidaklah kami utus seorang rasul pun sebelum kamu, kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain aku maka sembahlah aku!(10)

Dan sungguh telah kami utus kepada setiap kaum seorang rasul (untuk menyerukan): “sembahlah Allah dan jauhilh tagut!(11)

            Definisi ikhlas yang dikemukakann para ulama tidak berbeda jauh. Intinya adalah menunjukan seluruh ibadah kepada Allah, bukan kepada yang lain. Al-Rghid berkata dalam kitab mufradat: “ikhlas adalah menyingkirkan segala sesuatu selain Allah” .(12)

Abu al-Qasim al-Qusyairi(13) menyatakan bahwa seorang yang ikhlas  ialah yang berkeinginan untuk menegkkan hak-hak Allah SWT. Dalam setiap perbuatan ketaatannya. Dengan ketaatannya itu ia ingin mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada yang lain. Ia berbuat bukan untuk makhluk, bukan untuk mendapat pujian manusia, atau sanjungan dari siapa pun satu-satunya yang ia harapkan ialah kedekatan kepada Allah SWT.(14)

Jelaslah sudah bahwa penghambaan hidup ini hanyalah untuk Allah dan akan kembali kembali kepada Allah, sangat disayangkan jika dalam perjalanan hidup ini sangat sedikit waktu yang kita sempatkan untuk bermunajat kepada Allah dan bersimpuh dalam ketaatan kepada-Nya, seringkali banyak waktu yang kita gunakan hanya untuk kegiatan yang sia-sia dan tidak berguna, padahal Allah dalam firman-Nya telah mengingatkan kita agar selalu mengingat kemian dan tempat kembali kita  hanyalah kepada allah.

Pasti dalam diri kita pernah bertanya mengapa Allah yang harus kita sembah bukan yang lain(50) ? jawabannya sungguh keliru jika penegasan dan pemantapan keyakinan bahwa Allahlah satu-satunya tujuan hidup manusia, bukan yang lain, dianggap tidak masuk akal dan tidak factual, berikut kitipan dari Dr. Umar al-Asyqar bahwa akal dan hati manusia tidak mungkin menerima begitu saja pemahaman yang tidak dimiliki dasar penalaran yang jelas yang didukung oleh fakta-fakta nyata yang sudah terbukti kebenarannya.

Keyakinan kita harus dibangun di atas landasan yang kokoh, tidak akan goyang ketika di tiup angin, tidak akan remuk ketika diterpa badai. Maka, jika landasannya kuat, keimanan yang dibangun diatasnya pun akan kkokoh, sekokoh karang, bahkan jauh lebih kokoh lagi. Keimanan yang seperti apa, agar iman kita kokoh? Keimanan yang didapat melalui proses berpikir, dengan menggunakan Akal,Mengapa akal, karena : Menurut Imam Syafi’i, kewajiban pertama, ingat pertama kali bagi orang yang mukallaf (orang yang terkena taklif hukum atau sudah baligh), adalah berfikir.” Alasan kedua, karena akal merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk-makhluk Allah yang lain. Misalnya : hewan makan. Manusia juga makan. Tapi, jika hewan, tidak melihat apa yang di makan itu barang2 yang halal atau haram. Sedangkan manusia bisa, babi itu haram, darah itu haram, nasi itu halal. Kenapa tahu, karena akal yang membedakan manusia dengan hewan dan mahkluk yang lainnya.

Mungkin sebagian kalangan akan menolak. Karena bagi mereka, keimanan bukanlah sesuatu yang harus dibahas dengan akal. Keimanan adalah pembenaran yang bersifat pasti. Tidak peduli logika bisa menerimanya atau tidak. Jika iman bertentangan dengan akal, maka akal harus dikalahkan. Begitu kata mereka.

Bahwa keimanan adalah pembenaran yang bersifat pasti dan tak ada keraguan didalamnya, tentu kita sepakat. Masalahnya, bagaimana mungkin kita bisa menemukan pembenaran yang bersifat pasti, jika kita dipaksa meyakini tanpa disertai pembuktian. Kalau keimanan tak perlu pembuktian logis, maka akan sangat banyak bermunculan keyakinan baru yang tidak bisa diterima akal. Dan kita memvonis aliran itu sesat karena tidak bisa diterima akal, apa jadinya jika mereka menjawab dengan jawaban yang sama “Keimanan adalah pembenaran yang bersifat pasti, tak perlu logika bias menerimanya atau tidak” Karena itu, dengan standar yang universal, tentu siapapun akan mengakui keimanan mana yang benar dan keimanan mana yang keliru. Standar universal itu adalah AKAL kita.

Dari kutipan ini kita fahami  bahwa Sesuatu yang tidak bisa di lihat belum tentu tidak ada. Contoh : Arus Listrik dan Grafitasi. Apakah kita pernah melihat grafitasi, bahgaimana bentuknya? Tapi, kita tahu bahwagravitasi itu ada. Dari mana kita tahu bahwa grafitasi ada? Dari : benda-benda yang kita lemparkan ke atas, akan jatuh ke bawah, mengapa bisa jatuh, karena ada gaya grafitasi. Itulah buktinya.

Bahkan ada cerita Rasulullah dengan seorang badwi :

“Bagaimana caramu membuktikan keberadaan Allah” (tanya  Nabi)

“Adanya Tahi Unta menunjukkan adanya Unta” (Jawab Lelaki badwi itu dengan lugu)

sangat sedehana. Seseorang beriman berdasarkan taraf berpikirnya, begitupun dalam mengambil permisalan, dia menjadikan kotoran unta sebagai sarana untuk membuktikan keberadaan Allah. Ini bukan sebentuk penghinaan. Memisalkannya dengan kotoran unta adalah sebuah analogi cerdas. Adanya kotoran unta, tentu menujukkan adanya unta itu sendiri. Jejak. Itulah yang bias kita jadikan bukti untuk mengetahui keberadaan sesuatu. bukti Allah itu ada, dari penciptaan Alam Semesta, kehidupan, dan manusia itu.

Allah SWT berfirman

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (TQS. Al-Ghasiyyah;17-20)

kita bisa meneliti secara mendalam tentang ciptan-ciptaanNya. Contohnya Manusia. Antara yang diciptakan pasti memiliki sifat yang berbeda yang Menciptakan.

Coba kita teliti, gimana sifat-sifat dasar manusia. Ada tiga karakter khas manusia yang tidak akan pernah berubah, meski zaman silih berganti. Tiga karakter itu adalah lemah, terbatas, dan tergantung.

                Manusia tidak bias menentukan sesuatu apapun atas dirinya, apalagi di luar dirinya. Kita tidak tahu kenapa kita lahir sebagai sseorang laki-laki atau perempuan. Yang kita tahu, kita terlahir seperti ini, tanpa ada kuasa kita menentukannya. Jika untuk menentukan nasib diri kita saja kita tidak bias, apalagi menentukan nasib orang di luar kita? Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia memang lemah?

                Manusia juga selalu membutuhkan sesuatu diluar dirinya. Manusia butuh bernafas, ia tergantung pada udara. Manusia butuh makan, ia tergantung pada nasi, buah, dan lainnya. Ini semua menunjukkan ketergantungan manusia pada sesuatu diluar dirinya. Manusia tidak bias hidup tanpa yang lain.

                Manusia pun memiliki batas-batas tertentu atas dirinya. Kita tak bias tumbuh melebihi kadar yang ada. Kita tak bias seenaknya menambah atau mengurangi umur kita. Bulu mata kita tumbuh tak pernah melebihi rambut kepala. Begitulah kadar-kada yang ditentukan atas kita. Manusia terbatas.

                Karena manusia memiliki sifat dasar lemah, tergantung, dan terbatas. Tidak mungkin ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan. Pencipta itulah yang kita sebut Tuhan. Tuhan tidak bolehmemiliki sifat lemah, tergantung, dan terbatas. Karenanya, tidak mungkin kita mengganggap patung itu sebagai Tuhan, manusia sebagai Tuhan.

Tuhan harus Esa. Kenapa Tuhan harus Esa? Jika Tuhan lebih dari satu, berarti dia tergantung, dia masih memerlukan tuhan-tuhan lainnya untuk menciptakan, memelihara, atau memusnahkan manusia.Mungkin ada yang mengklaim bahwa standar ini adalah standar yang tidak fair, karena jelas-jelas Islam mengakui Ke-Esaan Tuhan. Tapi, kalo kita kaji lebih jernih, stndar ini adalah standar universal yang bisa dipertanggung jawabkan. Tuhan harus Esa. Kenapa Tuhan harus Esa? Jika Tuhan lebih dari satu, berarti dia tergantung, dia masih memerlukan tuhan-tuhan lainnya untuk menciptakan, memelihara, atau memusnahkan manusia. Mungkin ada yang mengklaim bahwa standar ini adalah standar yang tidak fair, karena jelas-jelas Islam mengakui Ke-Esaan Tuhan. Tapi, kalo kita kaji lebih jernih, stndar ini adalah standar universal yang bisa dipertanggung jawabkan. demikian lah bahwa tuhan yang wajib kita sembha adalah Allah SWT. Dan utusannya adalah Muhammad SAW sebagai rasulullah

Dengan demikian kita wajib beriman kepada apa yang ada sebelum kehidupan dunia, yaitu Allah SWT; dan kepada kehidupan setelah dunia, yaitu Hari Akhirat. Bila sudah diketahui bahwa penciptaan dan perintah-perintah Allah merupakan pokok pangkal adanya kehidupan dunia, sedangkan perhitungan amal perbuatan manusia atas apa yang dikerjakannya di dunia merupakan mata rantai dengan kehidupan setelah dunia, maka kehidupan dunia ini harus dihubungkan dengan apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Manusia harus terikat dengan hubungan tersebut. Karena itu, manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah, dan wajib meyakini bahwa ia akan di-hisab di hari kiamat nanti atas seluruh perbuatan yang dilakukannya di dunia.

Dari penjelasan di atas kita fahami bahwa kehidupan ini adalah milik Allah dan kita wajib tunduk patuh akan aturan Allah baik berupa larangan dan perintah Allah, dan inilah tujuan kita hidup di dunia hanya untuk beribadah kepada Allah SWT

  • view 61