Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 6 Agustus 2017   08:16 WIB
Kepastian Rasa_Bag 1 (Relung Senja)

            Selembar daun, luruh pada tanah yang basah. Lenyap terbata-bata menahan seluruh angin dingin, tabah dalam ribuan tanya yang menggeletar di jiwa, ini tentang seorang hamba yang penuh dosa berharap Allah kembali merangkulnya dengan cinta sebab dosa yang pernah tergores oleh khilaf.

            Daun itu adalah bayangmu yang tak penah mampu kupahami sebagai bahagia atau airmata, detik waktu terus berdetak hingga malam melarut, sudut mataku dikepung gelisah yang tak juga surut. Tidak pernah ada yang salah, hanya terlalu banyak air mata sebab sesal yang tak biasa lagi untuk menerka. Biarkan aku memejamkan waktu, agar segala tunggu tak menjadi rindu yang mengganggu.

            Terkadang kita membisu pada malam yang menyapa, mencoba menerka tentang apa yang terjadi seolah biasa, malam pun pergi menjadi terang diesok hari, berulang terjadi dan akupun merasakan jenuh  yang dijalani, bukan tentang kurangnya kesyukuran pada Tuhan, namun pada perjalanan hidup yang terjal, hati yang tergoreskan luka dengan banyak sayatan oleh perasaan yang  tak tau diri hadir kemudian pergi. adalah kehilangan, serupa ombak yang menghempas karang harapan seketika itu mampu goyah, atau dengan isyarat demi isyarat bahwa iman ini masih rapuh untuk bertahan.

            Tiba-tiba malam pecah menjadi rindu yang abai, kesunyian dihujam kenangan yang membadai, mengingatmu serupa mengamini duka perih, namun tiada pernah jera bahkan selalu terasa.

Senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat sujud pada malam yang syahdu. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

kita tidak pernah membayangkan tentang kehidupan orang-orang yang kecukupan rezekinya jauh dibawah kehidupan kita, tidak pernah juga membayangkan tentang ingin memiliki segala kelebihan materi dalam hidup, sebab kita menyadari bahwa segala yang diharapkan itu terlalu berlebihan kiranya  sedang saudara kita dalam kekurangan.

            Kita sering berharap banyak namun, benci dengan kekecewaan, padahal semua yang hadir satu paket dengan akibat, waktu terus berputar menyeret kita pada satu kesadaran bahwa kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan datang dikemudian hari, kekecewaan, kebahagiaan kesedihan menjadi pewarna dalam langkah kehidupan kita.

            Terkadang kita lebih memilih untuk pergi, setelah semuanya kita pahami, juga akan tiba saatnya pulang untuk kembali lagi, ketika rasa tak lagi berati, meyakini hati yang tak lagi mau mengerti, kita berfikir mungkin tidak lagi harus bersama sebab kita tak lagi satu arah, aku lebih suka duduk bersama gemuruh ombak disatu senja menanti terbenamnya mentari bersama kesedihkanku padamu, sedang engkau tidak pernah sama, akupun tidak bisa lagi berkata sebab perkataanku hanya akan membuatmu semakin curiga, tentang rasa yang sulit untuk difahami.

            kita tidak pandai mengutarakan perasaan lewat kata, sebab nyaliku tidak cukup tangguh untuk mengutarakan, aku lebih pandai dalam memendam rasa bahkan untuk waktu yang lama, meskipun jika harus disampaikan, semuanya akan sia-sia sebab engkaupun mungkin tidak pernah memahaminya. mungkin cukup kata yang mewakili semuanya dan itu lebih dari sekedar cukup.

Kita akan lebih leluasa mengutarakannya tanpa ada yang tersisa, rindu, kesal, sedih dan segala rasa menjadi sebuah tinta yang siap mengukir banyak hal tentang perasaan kita, setiap rasa tentangmu berkecamuk dalam hati, aku tidak ragu untuk menghadirkanmu diantara setiap sajak bait dan setiap penggalan baris tulisanku. Karena bagiku kata adalah seorang teman hati yang pada setiap senja, aku dan kata-kata saling bercengkrama tentang kenangan, tentang rindu dan tentang ingatan yang mengkisahkan sebuah rasa juga tentang perjalanan hidup.

            Itulah batas kuasa atas rasaku padamu, sebab aku tidak mungkin mengatakannya hanya dengan bertemu, sedang Rabb kita tidak merelakan jika pertemuan diantara kita tanpa dasar dan ikatan yang tepat. kita tidak pernah cemburu dengan mereka diluarsana mabuk dengan rasa saling bergandeng  tangan sembarangan tanpa ada ikatan.

            Itulah yang mampu aku lakukan saat ini, aku tak berdaya jika lisan harus berucap tanpa pikir matang, sebab dengan ucapanku engkau akan menilai tentang diriku. Lewat sebuah kata yang tertulis engkau bisa mengenalku sebab dalam setiap sajak kalimat yang kau baca adalah perasaan dan pikiranku  saat ini.

            Rasa kita bisa menjelma menjadi sebuah kata dan kalimat yang indah untukmu, aku bisa menjadi pertanyaan dan juga sebuah jawaban atas keraguanmu selama ini, sebab alur pikir dan bagaimana aku menyelesaikan masalah semuanya ku tuangkan dalam aksara yang  jujur dan tulus mewakili rasa.

            Kita menyadari bahwa lambat laun kedewasaan mulai menyapa dalam setiap putaran waktu yang berlalu, semua terasa singkat bahkan terkadang kita lupa tentang hari yang sering kita lewati, terkadang kita lupa  diri tentang tempat yang sedang dipijak, tentang masa yang terus beranjak, kita mencoba mengulur waktu dan tetap berada dalam barisan kisah manis dengan rasa yang tersenyum waktu itu.

            Rasa itu dekat dalam hati wanita, segala yang hadir dalam kehidupanya, disapa dengan perasaan, tak peduli sebuah tawa ataupun derai air mata. Berbeda dengan lelaki yang berdiri dengan pemikiran, dan terkadang ego pun tak tertahan meletup bersama tindakan, mungkin wajar jika lelaki kurang pandai dalam menerka, sedang wanita selalu ingin dibaca, dan pada satu kesimpulan wanita tak pernah salah dan lelaki tak pernah peka,lelaki mudah minta maaf, walau sulit merasa bersalah, sedang wanita mudah memberi maaf walau sulit untuk melupakan.  

            Adapun sekalinya lelaki mengandalkan rasa kala diri dibenturkan pada situasi hidup dengan segudang tanggung jawab, rasa khawatir apa yang akan dilalui kedepan esok hari, kekhawatiran seorang lelaki disaat dia harus memilih memikul tanggung jawab hidup yang berat, dan kekhawatiran perempuan adalah saat diri semakin dewasa namun belum ada yang mengetuk pintu mengikat tanggungjawab. Semua terlihat jelas kekhawatiran itu dalam benak, bukan karena sering menghafal namun disepanjang perjalanan yang  kita lalui, semua menampakkan hal yang sama tentang rasa dan pikiran yang sama-sama belum dewasa. Setidaknya itu sedikit yang terlintas dalam benak kita saat ini.

            Rasanya kita lebih indah untuk menyendiri dan mengukir sebuah cerita syahdu untuk pergi sejenak di penghujung akhir pekan ini, menyediri dari penatnya rutunitas melodi kehidupan yang melelahkan sendi, menghilang dari sesaknya kehidupan orang-orang trendi, kita ingin bertamu pada gubuk kecil tak berpenghuni, menyusuri kembali setiap kenangan masa lalu yang sempat lama bersemi.

             Supaya lebih indah lebih baik pergi seorang diri menapaki setiap jalan yang dulu pernah terlewati, jalan yang tak lagi berpenghuni namun masih terlihat jejak kehidupan yang tertutup rumput  yang sudah dewasa dan tetap setia pada masa, sejauh mata memandang tak kutemui sebuah kehidupan yang menyambut ataupun menyapa kedatangan, meskipun harus diakui bahwa kenangan itu  terlalu indah jika harus dilupakan bahkan  masih berharap pada masa lalu yang telah pergi. Aku tidak pernah sungkan untuk mengabdikan sebuah kenangan, sebab aku percaya bahwa untuk merelakan tidak harus melupakan.

            Kisah indah memang manis jika dikenang namun sakit jika harus mengulang, untungnya semua berada dibelakang semua tentang  orang yang pernah tersakiti, bahkan diri yang masih jauh dari Agama, sehingga kita tak lagi melihatnya didepan, mensyukurinya adalah kebahagiaan sebab segala yang akan terjadi esok adalah sebuah misteri, sehingga kita selalu bisa bermimpi merangkai hari esok lebih dari sekedar kebahagiaan, tapi bagaimana aktivitas adalah keridoan-Nya.

            Kitapun harus selalu bijak menilai sesuatu, sebab banyak menilai namun tidak memahami, banyak yang memahami namun enggan melakukan, kehidupan ibarat jalan pulang, semakin berjalan semakin dekat  pada tujuan, diamnya diri waktu terus berjalan diri semakin beruban dan kendaraan kehidupan terus berjalan diantara diamnya diri, dipenghujung jalan sudah menanti pertanggung jawaban atas sebuah kepergian.

            Lemahnya iman dalam diri seringkali goyah dengan hadirnya berbagai masalah kehidupan dan terkadang pula terseok-seok oleh dalam hidup, sering kali terhempas dalam kesedihan dan derai air mata yang tiada henti, hati menjadi korban pertama dari setiap masalah, dia siap menerima dengan apa yang hadir dalam kehidupan setiap insan yang begitu rapuh dengan segala yang dibebankan atas kita.

            Hati yang tidak pernah istiqomah menjadikan penyair-penyair untuk menelaah dan tak jarang untuk menerka, sehingga setiap tulisaanya terkadang mewakili kondisi setiap manusia tentang definisi rasa,  penyair  itu mahluk paling handal berkarya lewat derita. luka dijadikan kata-kata, musibah dijadikan risalah, sedikit saja kau menyakitinya keburukanpun padanya menjelma menjadi karya sastra meskipun pada akhirnya dia tidak pernah memahami tentang rasa yang hadir padanya.

            Mungkin jika mengkaji tentang rasa, maka perempuanlah yang memahaminya, sebab semua yang hadir padanya senantiasa disambut dengan perasaan, tidak heran kesedihan dan kesedihan yang menghamipirinya air mata mewakili kondisi hatinya, wajar juga jika perempuan ingin selalu dibaca dan difahami disetiap kondisi meski lelaki gengsi untuk sekedar membaca terlebih memahami.

            Begitupun dengan perasaan lelaki, tidak terlalu penting untuk ditanggapi apalagi untuk dimengerti, asa menjadi penyempurna dikala harus saling memahami, selebihnya rasa akan disimpan dalam hati maka wajar jika lelaki lebih terpikat dari apa yang menarik oleh mata, lebih dari apa yang menarik hati, itulah mengapa wanita lebih sering mempercantik wajah bukan memperkaya hati dan akidah, wajar bila lelaki pandang fisik lupa isi, kaya sanjungan dan ungkapan namun miskin iman, wajar jika islam menjadi penawar atas segala penyakit lelaki dan perempuan, dan wajar jika islam menjadi tempat meluruskan setiap masalah tentang rasa yang terkadang sulit dibaca.

Rasa  selalu piawai dalam merangkai dirinya, hingga kita larut dalam ketabahan akan lukanya pada cinta, terkadang rasa bisa menjelma menjadi mahkluk yang paling manis untuk dibaca. Sesekali menjadi mahkluk paling berbahaya untuk menafsirkan dirinya.

            Rasa selalu punya beribu wajah untuk digambarkan hingga cerita bahagia dan dukanya terkadang sulit untuk dibedakan seperti yang dikhawatirkan para perempuan yang lalai atau hati yang selalu terabai, mengantungkan pada hati manusia yang lemah dan terkadang tak pernah istiqomah.

            kita selalu merasa cukup pada rasa, untuk segala kebahagiaan yang pernah disematkan dalam hati, kita pun merasa cukup pada  malam yang menyapa dengan rembulan yang pernah tersenyum mewakili rasa, tentang bahagia atas hadirmu yang perlahan menjadi candu dan untuk semua rasa padamu aku merasa cukup untuk tidak melanjutkan.

            Terkadang kita lebih benci pada rasa, yang datang tanpa menyapa, terpaksa diri menerka walau harus siap terluka, datang dengan bahagia lalu pergi tanpa kata, wajar jika perempuan sulit untuk melupakan luka sedang lelaki dengan fasih nya mudah meminta maaf tanpa rasa bersalah.

            Korban dari sebuah rasa adalah mengikhlaskan, sebab rasa adalah tentang apa yang hati tak bisa menjelaskan, tentang jiwa yang sulit menerka, maka merelakan, mengikhlaskan pada jalan yang harus dijajaki adalah kepastian, sebab rasa tidak pernah memberi janji untuk setia pada hati, lebih baik menyendiri sembari berbenah, seraya menanti yang pasti.

            sesungguhnya, aku, engkau dan kita semua sedang berada pada situasi bersitegang terhadap kata, sebab, kata adalah alat yang paling ampuh untuk saling memahami jiwa yang terkubur oleh luka, untuk hati yang rapuh bersama derita, dan rasa yang tak mampu menyapa maka kata adalah penyempurna yang mewakili rasa.

            Biarkanlah semua rasa mengalir bersama air menuju penghujung muara, beriak mengikuti hembusan angin dan menyapa ketenangan pada jiwa-jiwa yang terluka, biarkan semuanya terhempas hingga sampai pada satu titik dimana kita akan saling memahami bahwa hati adalah mahkota dari semua rasa.

            Tinggalah waktu dan doa memainkan perannya sebagai penyembuh luka, sebab ketabahan adalah jalan melupakan dengan cara merelakan, membiarkannya pergi bersama lembaran kisah yang tertulis pada kata dan pada keping luka yang terhempas ombak menerjang karang kenangan tentang rasa kecewa pada manusia.

            Mungki ini tentang kesabaran jiwa, seperti hujan yang membasahi sebagian raga, berteduh pada rasa yang menjaga dari basahnya air mata yang terluka, menunggu sejenak hingga reda untuk kembali melanjutkan perjalanan panjang berharap tak ada lagi kecewa.

            Mungkin suatu hari kisah kita akan menjelma menjadi lembaran catatan yang terbatas untuk mengisahkan semuanya. Semua keraguan dan kecemasan yang kita lalui, semua senyum dan tawa yang terderai, semua tangis pilu yang tercurah, dan semua yang pernah kita relakan cukup menjadi alasan untuk bersama dalam ketaatan dan menjadi pengalalaman tentang rasa yang menjelma menjadi suka dan duka bersama masa yang tak tergantikan Bersambung...

Karya : Hafidz Ridwan R