Dawai Rasa

Hafidz Ridwan R
Karya Hafidz Ridwan R Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Juli 2017
Dawai Rasa

Selembar daun, luruh pada tanah yang basah. Lesap terbata-bata menahan seluruh angin dingin, tabah dalam ribuan tanya yang menggeletar di dada

            Daun itu adalah bayangmu yang tak penah mampu kupahami sebagai bahagia atau airmata, detik waktu terus berdetak higga malam melarut, sudut mataku dikepung gelisah yang tak juga surut. Tidak pernah ada yang salah, hanya terlalu banyak air mata sebab sesal yang tak biasa lagi untuk di seka. Biarkan aku memejamkan waktu, agar segala tunggu tak menjadi rindu yang mengganggu.

            Terkadang aku membisu pada malam yang menyapa, mencoba menerka tentang apa yang terjadi seolah biasa, malam pun pergi menjadi terang diesok hari, berulang terjadi dan akupun merasakan bosan dengan yang dijalani, bukan tentang kurangnya kesyukuran pada Tuhan, namun pada perjalanan hidup yang terjal, hati yang yang tergoreskan luka dengan banyak sayatan oleh perasaan yang  tak tau diri hadir kemudian pergi. adalah kehilangan, serupa ombak yang menghempas karang harapan seketika itu mampu goyah, atau dengan isyarat demi isyarat.

            Tiba-tiba malam pecah menjelma rindu yang abai, kesunyian dihujam kenangan yang membadai, mengingatmu serupa mengamini duka perih, namun tiada pernah jera.

Senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat aku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Aku tidak pernah membayangkan tentang kehidupan orang-orang yang kecukupan rezekinya jauh dibawah kehidupanku, tidak pernah juga aku membayangkan tentang ingin memiliki segala kelebihan materi dalam hidup, sebab aku menyadari bahwa segala yang diharapkan itu terlalu tinggi, aku tidak siap untuk jatuh dan sakit.

            Kita sering berharap banyak namun, benci dengan kekecewaan, padahal semua yang hadir satu paket dengan akibat, waktu terus berputar menyeret kita pada satu kesadaran bahwa kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan datang dikemudian hari, kekecewaan, kebahagiaan kesedihan menjadi pewarna dalam langkah kehidupan kita.

            Terkadang kita lebih memilih untuk pergi, setelah semuanya kita pahami, juga akan tiba saatnya pulang untuk kembali lagi, ketika rasa tak lagi berati, meyakini hati yang tak lagi mau mengerti, aku berfikir mungkin kita tidak lagi harus bersama sebab kita tak lagi satu arah, aku lebih suka duduk bersama gemuruh ombak disatu senja menanti terbenamnya mentari bersama kesedihkanku padamu, sedang engkau tidak pernah sama, akupun tidak bisa lagi berkata sebab perkataanku hanya akan membuatmu semakin curiga, tentang rasa yang sulit untuk difahami.

            Aku tidak pandai mengutarakan perasaan lewat kata, sebab nyaliku tidak cukup tangguh untuk mengutarakan, aku lebih pandai dalam memendam rasa bahkan untuk waktu yang lama, tahukah engkau bahwa akupun mampu menutarakannya meski pada akhirnya engkaupun mungkin tidak akan memahami. aku lebih berani mengutarakan rasa pada hati lewat sebuah kata dari pena yang menari menjelma menjadi sebuah aksara yang mewakili rasa.

            Aku lebih leluasa mengutarakannya tanpa ada yang tersisa, rindu, kesal, sedih dan segala rasa menjadi sebuah tinta yang siap mengukir banyak hal tentang rasaku padamu, setiap rasa tentangmu berkecamuk dalam hati, aku tidak ragu untuk menghadirkanmu diantara setiap saja bait dan setiap penggalan baris tulisanku. Karena bagiku kata adalah seorang teman hati yang pada setiap senja, aku dan kata-kata saling bercengkrama tentang kenangan, tentang rindu dan tentang ingatan yang mengkisahkan sebuah rasa.

Itulah batas kuasa atas rasaku padamu, sebab aku tidak mungkin mengatakannya kepada dengan bertemu, sedang Rabb kita tidak merelakan jika pertemuan diantara kita tanpa dasar dan ikatan yang tepat. Aku tidak pernah cemburu dengan mereka diluarsana mabuk dengan rasa saling bergandeng  tangan sembarangan.

Itulah yang mampu aku lakukan saat ini, aku tak berdaya jika lisan harus berucap tanpa pikir matang, sebab dengan ucapanku engkau akan menilai tentang diriku. Lewat sebuah kata yang tertulis engkau bisa mengenalku sebab dalam setiap sajak kalimat yang kau baca adalah perasaan dan pikiranku  saat ini.

            Aku bisa menjelma menjadi sebuah kata dan kalimat yang indah untukmu, aku bisa menjadi pertanyaan dan juga sebuah jawaban atas keraguanmu selama ini, sebab alur pikir dan bagaimana aku menyelesaikan masalah semuanya ku tuangkan dalam aksara yang  jujur dan tulus mewakili rasa.

            Kita menyadari bahwa lambat laun kedewasaan mulai menyapa dalam setiap putaran waktu yang berlalu, semua terasa singkat bahkan terkadang kita pula tentang hari yang sering kita lewati, terkadang kita lupa  diri tentang tempat yang sedang dipijak tentang masa yang terus beranjak, aku mencoba mengulur waktu dan tetap berada dalam baian kisah manis dengan rasa yng tersenyum waktu itu.

            Rasa itu dekat dalam hati wanita, segala yang hadir dalam kehidupanya, disapa dengan perasaan, tak peduli sebuah tawa ataupun derai air mata. Berbeda dengan lelaki yang berdiri dengan pemikiran, dan terkadang ego pun tak tertahan meletup bersama tindakan, mungkin wajar jika lelaki kurang pandai dalam menerka, sedang wanita selalu ingin dibaca, dan pada satu kesimpulan wanita tak pernah salah dan lelaki tak pernah peka,lelaki mudah minta maaf, walau sulit merasa bersalah, sedang wanita mudah memberi maaf walau sulit untuk melupakan.  

            Adapun sekalinya lelaki mengandalkan rasa kala diri dibenturkan pada situasi kehidupan dengan segudang tanggung jawab, rasa khawatir apa yang akan dilalui kedepan esok, kekhawatiran seorang lelaki disaat dia harus memilih memikul tanggung jawab hidup yang berat, dan kekhawatiran perempuan adalah disaat diri semakin dewasa namun belum ada yang mengetuk pintu mengikat tanggungjawab. Semua terlihat jelas kekhawatiran itu dalam benak, buan karena sering menghafal namun disepanjang perjalanan yang kulalui semua menampakkan hal yang sama tentang rasa dan pikiran yang sama-sama belum dewasa. Setidaknya itu sedikit yang terlintas dalam benakku saat ini.

            Aku ingin pergi sejenak di penghujung akhir pekan ini, menyediri dari penatnya rutunitas melodi kehidupan yang membosankan dan melelahkan sendi, menghilang dari sesaknya dari kehidupan orang-orang trendi, aku akan bertamu pada gubuk kecil tak berpenghuni, menyusuri kembali setiap kenangan masa lalu yang sempat lama bersemi.

            akupun pergi seorang diri menapakai setiap jalan yang dulu pernah terlewati, jalan yang tak lagi berpenghuni namun masih terlihat jejak kehidupan yang tertutup rumput  dewasa dan tetap setia pada masa, sejauh mata memandang tak kutemui sebuah kehidupan yang menyambut ataupun menyapa kedatanganku, meskipun kesadaranku mengakui bahwa aku terlalu berharap pada masa lalu yang telah pergi. Aku tidak pernah sungkan untuk mengabdikan sebuah kenangan, sebab aku percaya bahwa untuk merelakan tidak harus melupakan.

            Kisah indah memang manis jika dikenang namun sakit jika harus mengulang, untungnya semua berada dibelakang sehingga akupun tak lagi melihatmu didepan, aku mensyukuri bahwa segala yang akan terjadi esok adalah sebuah misteri, sehingga aku dengan leluasa bisa bermimpi menrangkai hari esok lebih dari sekedar kebahagiaan, namun akupun harus tau diri bahwa apapun akan terjadi, bahkan sejauh nalar manerka sejauh itu pula apapun akan terjadi, entah kebahagiaan ataupun kesedihan dan air mata yang selama ini setia menemani.

            Kitapun harus selalu bijak menilai sesuatu, sebab banyak menilai namun tidak memahami, banyak yang memahami namun enggan melakukan, kehidupan ibarat jalan pulang, semakin berjalan semakin dekat dengan tujuan, diamnya diri waktu terus berjalan diri semakin beruban dan kendaraan kehidupan terus berjalan diantara diamnya diri, dipenghujung jalan sudah menanti pertanggung jawaban atas sebuah kepergian.

            Lemahnya iman dalam diri seringkali goyah dengan hadirnya berbagai masalah kehidupan dan terkadang pula terseok-seok oleh kondisi dan sering kali terhempas dalam kesedihan dan derai ai mata yang tiada henti, hati menjadi korban pertama dari setiap masalah, dia siap menerima dengan apa yang hadir dalam kehidupan setiap insan yang begitu rapu dengan segala yang dibebankan atas kita.

Hati yang tidak pernah istiqomah menjadikan penyair-penyair untuk menelaah dan tak jarang untuk menerka, sehingga setiap tulisaanya terkadang mewakili kondisi setiap manusia tentang definisi rasa,  penyair  itu mahluk paling handal berkarya lewat derita. luka dijadikan kata-kata, musibah dijadikan risalah, sedikit saja kau menyakitinya keburukanpun padanya menjelma menjadi karya sastra meskipun pada akhirnya dia tidak pernah memahami tentang rasa yang hadir padanya.

            Mungkin jika mengkaji tentang rasa, maka perempuanlah yang memahaminya, sebab semua yang hadir padanya senantiasa disambut dengan perasaan, tidak heran kesedihan dan kesedihan yang menghamipirinya air mata mewakili kondisi hatinya, wajar juga jika perempuan ingin selalu dibaca dan difahami disetiap kondisi meski lelaki gengsi untuk sekedar membaca terlebih memahami.

            Begitupun dengan perasaan lelaki, tidak terlalu penting untuk ditanggapi apalagi untuk dimengerti, asa menjadi penyempurna dikala harus saling memahami, selebihnya rasa akn disimpan dalam hati maka wajar jika lelaki lelaki terpikat dari apa yang menarik oleh mata, lebih dari apa yang menarik hati, itulah mengapa wanita lebih sering mempercantik wajah bukan memperkaya akidah, wajar bila lelaki pandang fisik lupa isi, kaya sanjungan dan ungkapan namun miskin iman dan faqir komitmen, wajar jika islam menjadi penawar atas segala penyakit lelaki dan perempuan, dan wajar jika islam menjadi tempat meluruskan setiap masalah tentang rasa yang terkadang sulit dibaca.

Rasa  selalu piawai dalam merangkai dirinya, hingga aku larut dalam ketabahan akan lukanya pada cinta, terkadang rasa bisa menjelma menjadi mahkluk yang paling manis untuk dibaca. Sesekali menjadi mahkluk paling berbahaya untuk menafsirkan dirinya.

            Rasa selalu punya beribu wajah untuk digambarkan hingga cerita bahagia dan dukanya terkadang sulit untuk dibedakan seperti yang dikhawatirkan para perempuan yang lalai atau hati yang selalu terabai, mengantungkan pada hati manusia yang lemah dan terkadang tak pernah istiqomah.

            Aku selalu merasa cukup pada rasa, untuk segala kebahagiaan yang pernah disematkan dalam hati, akupun merasa cukup pada  malam yang menyapa dengan rembulan yang pernah tersenyum mewakili rasa tentang bahagia atas hadirmu yang perlahan menjadi candu dan untuk semua rasaku padamu aku merasa cukup untuk tidak melanjutkan.

            Terkadang aku benci pada rasa, yang datang tanpa menyapa, terpaksa diri menerka walau harus siap terluka, datang dengan bahagia lalu pergi tanpa kata, wajar jika perempuan sulit untuk melupakan luka sedang lelaki dengan fasih nya mudah meminta maaf.

            Korban dari sebuah rasa adalah mengikhlaskan, sebab rasa adalah tentang apa yang hati tak bisa menjelaskan, tentang jiwa yang sulit menerka, maka merelakan, mengikhlaskan pada jalan yang harus dijajaki, sebab rasa tidak pernah memberi janji untuk setia pada hati, lebih baik menyendiri sembari berbenah, seraya menanti yang pasti.

            sesungguhnya, aku, engkau dan kita semua sedang berada pada situasi bersitegang terhadap kata, sebab, kata adalah alat yang paling ampuh untuk saling memahami jiwa yang terkubur oleh luka, untuk hati yang rapuh bersama derita, dan rasa yang tak mampu menyapa maka kata adalah penyempurna yang mewakili rasa.

            Biarkanlah semua rasa mengalir bersama air menuju penghujung muara, beriak mengikuti hembusan angin dan menyapa ketenangan pada jiwa-jiwa yang terluka, biarkan semuanya terhempas hingga sampai pada satu titik dimana kita akan saling memahami bahwa hati adalah mahkota dari semua rasa.

            Tinggalah waktu dan doa memainkan perannya sebagai penyembuh luka, sebab ketabahan adalah jalan melupakan dengan cara merelakan, membiarkannya pergi bersama lembaran kisah yang tertulis pada kata dan pada kepingan luka yang herhempas ombak yang menerjang karang kenangan tentang sebuah rasa.

            Mungki ini tentang kesabaran jiwa, seperti hujan yang membasahi sebagian raga, berteduh pada rasa yang menjaga dari basahnya air mata yang terluka, menunggu sejenak hingga reda untuk kembali melanjutkan perjalanan panjang dan berliku terjal.

            Dan mungkin suatu hari kisah kita akan menjelma menjadi lembaran catatan yang terbatas untuk mengisahkan semuanya. Semua keraguan dan kecemasan yang kita lalui, semua senyum dan tawa yang terderai, semua tangis pilu yang tercurah, dan semua yang pernah kia relakan cukup menjadi alasan untuk bersama dan menjadi pengalalaman tentang kata dan rasa yang menjelma menjadi suka dan duka bersama bersama masa yang tak tergantikan.


  • abdullah Hasym
    abdullah Hasym
    1 bulan yang lalu.
    kita berharap banyak namun, benci dengan kekecewaan, padahal semua yang hadir satu paket dengan akibat, waktu terus berputar menyeret kita pada satu kesadaran bahwa kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan datang dikemudian hari, kekecewaan, kebahagiaan kesedihan menjadi pewarna dalam langkah kehidupan kita.

    tulisan yang menarik