#Kaca yang Berlumut part1

Hafidz Mustanir
Karya Hafidz Mustanir Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Juni 2016
#Kaca yang  Berlumut  part1

 

Ka Andi........, Ka Andi.......” sebuah suara terdengar di telinga memanggilku. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Aku baru selesai mengisi  pelajaran agama di kelas santri putri.sebuah pelajaran yang di wariskan dari seorang ustadz yang pernah mengajar di pesantren ini.tetapi berhenti .aku yang meneruskannya.pengetahuan agama adalah pengetahuan tentang sejarah islam di seluruh dunia.

Aku melihat tak ada satupun orang di sekitar situ. hanya ada rerumputan tinggi yang melambai di tiup angin pagi di  belakang deretan kelas. dalam keadaan tertentu ,angin memang dapat terdengar seperti suara.dan dalam klimaks tertentu menyerupai nama orang.

Tetapi ketika ku berniat mengacuhkan suara tadi...tiba-tiba dua kerudung putih muncul dari balik papan-papan kelas paling ujung. merka melambaikan tangan dengan kaku kali ini tanpa memanggil ataupun menimbulkan suara.

            Aku melihat sekelilingku.apa yang di katakan orang jika aku bertiga bersama dengan dua orang remaja putri di belakang kelas? Memang tak ada orang lain di sekitarku saat itu,tapi aku masih ragu dengan keadaan ini. ku memcoba menenangkan hatiku.

             Aku berusaha biasa agar tidak terlihat gugup di hadapan  mereka.hati kecilku mengatakan bahwa aku harus mendatangi dua gadis remaja itu.lagi pula jania dan anita itu,apa mereka tidak ada gurunya hari ini?setelah kurapikan peci yang ku pakai.segera ku mendekati mereka.

“ini kenapa tidak masuk kelas?? Tanyaku dengan tenang.

Dua gadis didepanku tampak ragu juga.tapi jania segera maju dan tesenyum.

Aku jadi tidak ingat apa yang aku katakan barusan.

Aku tak ingat apakah aku masih memerlukan jawaban atas pertanyaan itu??.

Gadis-gadis ini sudah mengalahkanku hanya dengan senyumannya.

Hmm.tidak ada guru tadi,kak. Pelajaran bahasa arab bu aisyah keluar desa,”kata jania.ia berbicara tanpa menegdah ke arahku,tapi sibuk menarik sesuatu dari belakang rok panjangnya.sebuah surat.

“ini, kak. ada yang minta di sampaika`n ke kaka. . .,” kata jania hati-hati dengan cepat. Ia sedikit gelisah dan memperhatikan sekeliling.

            Aku menerima dengan  ragu.aku coba menyelidik ke arah jania dan anita.tapi yang terbaca disana hanya membuatku ingin cepat pulang ke asrama dan mebuka surat yang bersampul merah muda ini.

“cepat masuk,ya. Terima kasih  kata ku sambil berlalu.aku sungguh tak ingin mendengar siapa yang menitipkan surat ini.sebab aku takut jania  mengatakan nama yang salah,nama yang hanya dia yang tau tapi hanya sebatas suka.ku sisipkan segera  surat ini dalam kantong kamejaku.

Di kamr asrama,,entah kenapa dadaku semakin menjadi..” kututup segera pintu asrama lalu ku kunci untuk berjaga-jaga, keran biasanya ada saja santri yang mengunjungi kamarku.

            Dengan hati-hati,perlahan kubuka surat berwarna merah muda ini. Aroma yang ditimbulkan dari spucuk surat ini begitu indah terhirup olehku.dalam kondisi normal,aku pasti bertanya. ”sebenarnya apa bedanya dari bau harum dan tidak.?? Unsur apa  dari bagian tubuhku yang membedakan begitu rinci??. Tapi tidak saat seperti ini. aku tidak mau disibukan dengan pikiran apapun.

            “tetapi  tak urung,aku heran juga akan satu hal.

“mengapa aku bisa segembira ini?? Ujarku lirih.

Tapi siapa yang peduli? Aku langsung membuka surat yang disampulnya tak tertulis apa pun itu.

 

Teruntuk: ka Andy

Saya tidak tahu kenapa saya mengirimkan surat ini.saya juga tidak tahu apa yang saya ingin tulis

Kaka pernah bilang kan kalo cinta itu anugrah dari Allah dan kita harus menjaganya dengan baik,mungkin alasan itulah saya tuliskan perasaan ini untuk kaka, maaf kak jika saya kurang sopa. jika kaka belum beli makan tinggal bilang saja ke anak-anak nanti saya masakan.

 

Salam

Anisa

Aku tak bergerak dari duduku.lama kumenahan nafas.begitu kutarik nafas yang kuhirup ternyata sejuta keharuman. Ketika kutatap keluar jendela yang terlihat bunga-bunga berjatuhan perlahan.hmm....desahku dalam hati.

Kubaca surat itu kembali.hanya beberapa kalimat,tapi kubaca berkali-kali setiap hurupnya mnguap masuk dalam relung hatiku.

Ah apalah aku ini.hanya seorang pemuda normal. Yang juga suka gugup seandainya di hadapkan dengan keadaan seperti tadi. Aku juga seorang guru tetapi juga seorang manusia.dan sekarang aku sedang menjadi seorang pria

Suratnya masih ku pegang.tulisan bersambung yang elegan.tanpa ada tanda setipan.pastilah ada kekuatan ajaib dalam di si penulis sehingga dapat meredam getaran tangannya saat menuliskan kata demi kata kalimat indah ini.aku mengerti dalam suasana hati yang bagaimana Anisa menuliskan surat ini. Sekali lagi, sebuah rasa anrh menyelinap  diam-diam merasuk tubuhku  menyisakan hembusan cinta dalam hati. Perasaanku bahagia.

Lalu,  Apa?? Aku tertunduk. Benar . lalu, Apa?? Kalau Anisa benar-benar telah mencintaiku, lalu apa?? Ku bertanya pada diri ini.

Aku tidak menduga akan seperti ini. Tadinya, ku mencoba  perlahan ku mulai hapus bayangan Anisa dari pikiranku. Kini,sudah hampir tidak mungkin lagi untuk menghapusnya.inilah yang aku takutkan.aku duduk  pada bangku yang diduduki romeo seperti film asmara lainnya.

Aku bimbang.bagaimana harus bersikap dan menanggapinya? Aku juga cinta. Tetapi rasa cinta sering berbeda dengan wujudnya.

Di luar sana , Anisa begitu kuat dan bisa jadi dirinya sendiri. Sedangkan aku masih terlalu lemah, bahkan untuk mengeja arti cinta.aku tahu itu. Ku rasakan itu .ini sangat tidak adil.

Tapi ya Allah.ujarku dalam sembahyang sunah ketika matahari sepenggalan naik.

Berkahilah apa pun yang hamba buat. Jangan beri hamba cinta yang bahkan hamba tidak sanggup menyebutnya.

Kilauan sinar dari sela-sela  jendela kamar jatuh lurus di sajadahku. Ku terpana memandanginya.  Kurasakan diriku saat ini begitu kecil. Aku merasa angkuh aku telah menyudutkan cinta sebagai hal biasa. Tapi sekarang betapa besarnya arti cinta itu,hingga aku sungguh tak berdaya.

Lonceng berbunyi. Jadwal sat ini sangat ku ingat. Karena sebenarnya selalu ku tunggu-tunggu setiap minggu. Namun kali ini tak seperti biasanya. Aku tak semangat mengajar di kelas itu. Jika ada yang mengatakan cinta itu menguatkan, harusnya perlu dikoreksi lagi. Tak kutemikan kebenarannya sama sekali.bahkan aku tak mampu untuk bangkit dari sajadah. Aku takut tak bisa menyembunyikan diri dan hatiku dari Anisa. Untuk sementar aku tak ingin bertemu dengannya.

Hei tidaklah kau sadar apa yang kamu lakukan ini? Pikiran logisku merajuk.

Hanya sepucuk surat dan kamu hampir mati? Yang benar saja. Pemuda macam apa yang bisa di bunuh oleh cinta di hari pertama.

Segera ku bangkit dan mengambil buku pelajaran. Namun begitu kulangkahkan kaki, entah mengapa. Aku merasa ada yang tertinggal.ku lihat buku lengkap. Pulpen intuk mengabsen ada di kamejaku. Tapi aku merasa ingin bercermin dahulu. Masi terasa konyol, tapi biarlah mungkin inilah rasanya ketika di landa cinta. Terakhir, sebuah semprotan wangi  ku  semprotkan ke tubuhku. Setelah menggulung lengan kemeja. Ku melangka keluar pintu terlihat bunga-bunga yang ternyata daun nangka yang berguguran.

Assalamualaikum. . . . .”  jawaban salamnya wajar, tapi bagiku tedengar aneh.

Segera kumasuk ke dalam kelas.

Wajah jania dan anita yang mengantarkan surat kepadaku tadi pagi tampak tersenyum penuh arti. Aku tak ingi melihat wajah dua gadis itu berlam –lama.  segera ku buka buku  dan ku mulai pelajaran. Tapi betapa susahnya. Setiap gerakan yang kulakukan teasa tak perlu kulakukan. Semua menjadi berlebihan, padahal aku bersikap sewajarnya.

Setelah beberapa lama ketika ku sapukan pandangan ini ke seisi ruang kelas, pandanganku menyisakan seoang gadis cantik yang duduk di bangku tengah agak sudut. Anisa sedang menatapku lurus-lurus. Dalam. Dan. . .” buku yang ku pegang terjatuh.

Atmosfer kelas terhenti seketika. Seakan-akan buku yang terjatuh ini adalah tombol off dari mesin waktu. Hening.

“Apa arti kalimat tadi hamid” tanyaku sambil memungut buku yang terjatuh. Suaraku bergetar gugup kali ini bukan  hanya perasaanku saja.

“kalimat yang mana kak, kan belum nulis..tanyanya heran” aku tersadar padahal dari sejak aku masuk belum nulis apa-apa. Aku bingung harus melakukan apa agar mereka tidak tahu kalo aku sedang grogi.

Segera ku palingkan temanya  “ arti kalimat salam yang tadi kaka ucapkan tanyaku aman”

Syukur aku bisa mengantisipasinya..sungguh baru kali nini aku di mabuk cinta.

gadis cantik itu tesenyum simpul menatapku, sepertinya dia tahu kalo aku sedang gugup.

Segalanya menjadi sangat sulit. aku mati gaya.

Astagfirullah . . . ., kataka dalam hati berkali-kali .ku ambil kapur. Lalu kutuliskan pelajaran dan sebisa mungkin berlama-lama.

Ku tuliskan sejarah penaklikan konstantinopel oleh kaum muslimin sekaligus memberi tugas untuk minggu depan supaya aku tidak gugup lagi.

 Lonceng berbunyi. Aku masi menulis berlama-lama. Segalanya tidak boleh terlalu nampak. Aku harus tetap mengesankan seorang gur yang ingin berlama-lama mengajarkan ilmu pada muridnya. Perlahan kuletakan kapur di meja dan kuambil buku pelajaran di meja.

Dari sebuah meja diujug kelas sebuah wajah berkerudung tertunduk. Cemas dan hampa. Telah lama dia menyukaiku dia sering cerita tentangku kepada temannya tentang kesederhanaanku. Anisa merasa bahagia jika aku bersamanya dan tak ada yang lain. Tapi, apa mungkin??

Anisa tidak ingin menahan perasaanya terlalu lama. Anisa akhirnya menulis surat untuk menenangkan  hati. Memang tidak langsung mengutarakan isi hatinya.  Tetapi,  cukuplah agar aku mengerti  Anisa memperhatikanku. Ia sendiri rela memaskan makan untukku jika memang ku kehendaki.

Anisa menunggu.  Hingga bebrapa hari berlalu. Bahkan beberapa minggu. Tak ada satupun tanggapan dariku. Anisa pasti kecewa jikalah aku tak menghiraukannya.

Aku bingung jikalah semua belanjut. Bagaimana pandangan orang terhadapku seorang ustadz memiliki hubungan dengan siswinya..tetapi di lain sisi hatiku tak bisa mengelak akan rasa ini. Aku juga merasakan hal yang sama dengan Anisa. Dia gadis sholehah,sederhana Qonaah dalam memandang dunia kecantikannya terhiasi akan hijab yang indah . . . sungguh pemuda mana yang tak ingin  dengan Anisa.

Setiap aku mengajar. Anisa selalu mencermati apa yang ak sampaikan. Bahkan disaat teman siswinya tidur dia bangun malam lalu meghafalkannya

Setelah shalat isya ku coba tuk berdiam diri dalam masjid memohon kepada Allah dengan sembahyang istkharah. Ku menagis meratap diri memohon petunjuk diantara yang terbaik

Ya allah berilah hamba yang terbaik dalam hidup ini, jikalah dia yang kelak akan melengkapi sebagian imanku untuk selalu taat kepadamu. Berilah hamba pilihan yang baik. Hamba menyadari kekurangan ini makaa berilah aku petunjuk. Amiin.

Setelah selesai ku shalat segera kumasuk dalam kamar, namun entah apa yang terjadi hati ini merasa tenang, rasa bahagia menyelimutiku rasa bimbang perlahan hilang entah kemana.

Alhamdulillah ya Allah kau telah menunjukan yang terbaik untukku.  Segera ku ambil secarcik kertas dan pulpen lalu kutuliskan untuknya.

Assalamualaikum wr.wb.

Teruntuk  : de Anisa

Dengan basmalah ku tulis dan ku kirim sepucuk surat ini untu de Anisa
 rasa  yang selalu mengagumi dalam setiap rangkaian bunga yang  mekar

Hati  yang selalu mengagumimu dengan kelembutan bahasamu
 kata yang tak mampu berterus terang kepadamu tentang apa yang ku rasa
Tentang rasa yang datang karena Sang Pencipta rasa ini yang menjatuhkannya
Yang mampu merubah menjadi makhluk-Nya yang lebih baik dari waktu dulu
Ku kumpulkan keberanianku tuk mengungkapkan rasa yang tertanam dalam singgasana hati

Betapa bahagia hati ini disaat kubaca surat berisikan kalimat indah yang hanya lewat tulisan isyarat. Allah memberikan rasa yang sama dalam hati ini

Jikalah memang de iklas menjadi pendamping hidup kakak kelak. Biarlah Allah menerima kesederhanaan ini. Dan biarlah sholehah de  Anisa menjadi tanggung jawab kaka dunia akhirat. Satu tahun sudah kaka menimba ilmu, perlu waktu panjang dalam perjalanan ini untuk mencapai semuanya. Jikalah de anisa berkenan untuk menunggu kaka hingga selesai dan yakin dengan Allah. Pasti kita kan di pertemukan kembali dan itu jauh lebih indah.

 

Jikalah de anisa ikhlas menunggu kaka. Tak perlu balas surat ini. Insya Allah nanti malam kaka mau shalat thajjud di masjid. Jika de berkenan kita sholat bersama karena itu menunjukan de ikhlas menanti kaka karena  Allah.

 

Salam

Ka Andy

 

 

Kulipat rapi surat ini.  perlahan ku masukan dalam amplop yang telah kurangkai indah segera ku berbaring di kasur. Rasanya ingin segera pagi untuk memberikan surat ini untuk Anisa..

Seperti biasa gadis cantik ini selalu murung kala kutatap wajahnya.seakan menunggu-nunggu kabar dariku bagikan pungguk merindukan bulan. Selesai mengajar  Anisa keluar paling terakhir karena bangkunya paling ujung. Hingga tinggalah Anisa seorang hendak keluar mengais buku di dadanya.

De nisa..??..segera ku sapa gadis ini...”ada apa kak jawabnya”  dia hanya tertunduk di hadapanku sungguh gadis yang indah dia mampu menjaga pandangannya sekalipun dengan orang yang dia sukai.. tanpa harus menunggu lama segera ku ambil surat dari kemejaku. Ini untuk dek nisa” entah kenapa tanganku bergetar ketika di hadapkan denga keadaan seperti ini lagi..perlahan di ambilnya surat ini.. terima kasih kak.. de pamit dulu Assalamualaikum....tak lama kemudian gadis itu berlalu..

 

Hmm......rasanya ingin segera malam untuk shalat tahajud......tapi niatku tetap untuk Allah karena dia yang memberikan rasa ini untukku dan Anisa...biarlah ibadah ini sebagai rasa syukurku atas anugrah terindah ini..

Rasa penasaran menyelimuti ku bagaimana jika gadis itu tidak mau menungguku,dan  sudah menemukan pendampingnya??  Ya sudahlah biar Allah yang menentukan jodohku...aku membatin.

 

Allahu Akbar. . . .segera ku fokuskan hatiku hanya untuk Allah. Ku memulai sembahyangku setelah beberapa menunggu seorang gadis  yang tak kunjung datang.

 Aku kecewa mungkin dia tidak mau menungguku terlalu lama untuk masalah perasaan hati tapi biarlah ku tetap melanjutkan shalatku. Ku baca surah Arrahman dalam tahajudku ku baca dengan nada liri entah kenapa air mataku banjir menghayati ayat ini.. hingga pada sujud terakhir kupasrahkan semuanya. Memohon yang terbaik.

Selesai shalat ku angkat kedua tanganku lagi-lagi air mata ini banjir ketika ku bacakan kalimat-kalimat tauhid yng indah.. hingga tiba-tiba terdengar suara tangisan di belakangku segera ku menoleh ke belakang. Betapa bahagia hati ini. Seorang gadis sedang menangis  di balik kain hijab yang menjadi penghalang antara kami rupanya dia  ikut shalat bersama ku.  Subhanallah Alangkah bahagia hati ini ya rabb. kami tenggelam dalam muhasabah senja yang berlalu. Cinta-Nya membuat kami  berlayar pada telaga kedamaian. Menyiram segumpal merah antara rusuk penuh sesak dan amarah. Balut gundahku melebur sudah dalam rangkai tasbih. Kokohkan jiwa dengan seribu kalimat tauhid. Keyakinan bergema takbir dihati insan berkalang cerca.

 Tak ada yang tahu rasa apa yang dirasa, serinci apapun menjelaskan, karibpun tidakkan bisa merasa. Sujud panjang menyatu cinta diantara dua insan, mengucil diri dalam pekatnya. Bahasa jiwa hanya insan dan pemilik-Nya yang paham.

 Di penghujung doa  kututup doa dengan  kalimat tauhid dan syukur

Ya Allah terima kasihku untukmu,atas rasa ini yang menjadikan kami selalu dekat denganmu,  ya rabb ljadikanlah rasa ini sebagai rasa yang mendatangkan pahala bagi kami.

Ya Allah tanamakan dalam hati kami kesabaran dalam penantian ini sebelum  halal bagi kami Amiin.

Sungguh rasa ini mendekatkanku kepada allah. Dalam sujud ini dua insan bersaksi untuk selalu menjaga hati karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah. Sungguh tangis  bahagiaku melebur semua kesedihanku akan pahitnya hidup di saat kami saling menunggu untuk pertemuan yang jauh lebih indah kelak.. Amiin..

Tak terasa waktu shubuh sudah dekat kami memutuskan untuk membaca Alkuran sebari menunggu subuh, anisa tahu bahwa hari ini aku akan pulang. Ku putuskan untuk pulang pagi-pagi karena ada acara di kampus.

Setelah sholat subuh ku bergegas masuk kamar membereskan pakaian untuk di bawa pulang. Hari ini betapa bahagia hati ini, begitupun dengan anisa yang memiliki rasa yang sama denganku.

“Loh kok cepat pulangnya”?? tanya ibu pondok.

 “Iya bu soalnya ada acara di kampus mendadak’’. Jawabku pelan.”

“Ya sudah hati-hati di jalan”. . . ujar ibu pondok.

Langkah demi langkah kaki ini menuju gerbang pesantren.

Ka andy...seseorang memangilku. Terlihat dari jauh seorang gadis cantik tersenyum untukku seakan senyumannya mengatakan dia akan selalu menantiku kembali untuk menjemputnya...sungguh gadis yang indah.. bidadari itu tetap tersenyaum hingga aku berlalu...tunggulah aku dalam penantian sebelum engkau halal bagiku...aku membatin.

 

  • view 166