Syekh Yasin Al-Fadani, Guru Para Ulama dari tanah Sumatera

hadi lotus
Karya hadi lotus Kategori Tokoh
dipublikasikan 10 Mei 2016
Syekh Yasin Al-Fadani, Guru Para Ulama dari tanah Sumatera

Syekh Yasin Al-Fadani, Guru Para Ulama dari tanah Sumatera.

Ia adalah Ulama Mekkah yang nenek moyangnya berasal dari Padang Sumatra Barat, sosok ulama Indonesia yang namanya terukir dengan tinta emas karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Beliau bergelar “Almusnid Dunya” karena keahlian dalam hal ilmu periwayatan hadist yang ia milikiini. Banyak para ulama dunia berbondong-bondong untuk mendapat Ijazah Sanad hadist dari beliau. Bahkan Al-‘Allamah Habib Segaf bin Muhammad Assegaf salah seorang ulama dan waliyulloh dari Tarim Hadromaut sangat mengagumi keilmuan Syekh Yasin Al-Fadani hingga menyebut Syekh Yasin dengan ”Sayuthiyyu Zamanihi” (Al Hafid Assayuthy pada zamannya)

Ia memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, hanya menggunakan kaos dan sarung dan sering nongkrong di "Gahwaji" untuk Nyisyah (menghisap rokok arab). Tak seorangpun yang berani mencelanya karena kekayaan ilmu yang dimiliki.

 

Syekh Yasin dan Masa ‘Tholabul Ilmi’

Nama lengkapnya adalah Abul Faidh Alamuddin Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani. Beliau lahir di Makkah pada 17 Juni tahun 1335 H/1915 M dan bermukim di sana hingga wafat pada tanggal 20 Juli 1990 pada usia 75 tahun. Beliau adalah seorang ahli sanad hadist, ilmu falak, bahasa Arab, dan pendiri madrasah Darul Ulum al-Diniyyah, Mekkah. Ia merupakan putra ulama terkenal, Syekh Muhammad Isa Al-Fadani asal Padang, Sumatera Barat.

Beliau mendapatkan pendidikan untuk kali pertama dari ayah beliau sendiri, yakni Syekh Mohammad Isa Padang dan pamanya Syekh Mahmud padang. Keduanya berperan sangat penting dalam mengarahkan Shekh Yasin dalam pengambilan disiplin ilmu, khususnya ilmu agama. Pada tahun 1346 H, beliau melanjutkan pengembaraanya dengan belajar di Madrasah Shaulatiyyah Hindiyah dan kemudian menyempurnakanya di Darul Ulum ad-Diniyyah dan lulus pada tahun 1353 H.

Setelah lulus dari madrasah, beliau mulai menekuni ilmu periwayatan hadits kepada beberapa ulama tanah haram yang ahli dalam bidang tersebut. Beliau berguru kepada Syekh Umar Hamdan Al-Mahrusi selama setahun dan kepada Syekh Muhammad Ali bin husain Al-Maliki. Kemudian belajar fiqih as-Syafi’i kepada Al-Faqih Syekh Umar Bajunaid yang kala itu menjabat sebagai mufti Makkah, Syekh Al-Faqih Said bin Muhammad Al-Yamani dan Syekh Hasan Al-Yamani yang semuanya adalah pakar dalam membidangi Fiqih As-Syafi’i.

Selain itu beliau juga belajar ilmun Ushul Fiqih kepada Syekh Mushin bin Ali Al-Musawi Al-Palembangi Al-Makki dan ulama yang merupakan sejarawan ulung Syekh Abdullah Muhammad Ghozi Al-Makki. Belajar ilmu bahasa dan sastra kepada Ibrahim bin Dawud Al-Ghotoni Al-Makki, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Syekh Al-Allamah Al-Muqri Syihab Ahmad Al-Mukholalati As-Syami, Sayyid Muhammad bin Umayyah Al-Khotibi Al-Makki di Masjidil Haram dan beberapa guru lainya hingga mencapai kurang lebih 700 guru.

Selain aktif mengajar, ia juga rajin menulis kitab. Jumlah karyanya mencapai 97 buku, diantaranya 9 buku tentang ilmu hadist, 25 buku tentang ilmu dan ushul fiqih, serta 36 buku tentang ilmu falak. Buku-bukunya banyak dibaca para ulama dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Arab Saudi maupun di Asia Tenggara. Kitabnya yang paling terkenal : Al-Fawaid al-Janiyyah, menjadi materi silabus dalam mata kuliah Ushul Fiqih di Fakultas Syariah Al-Azhar Kairo.

Diantara kitab karya Syekh Yasin yang lain adalah sebagai berikut;

  1. Ad-Durr Al-Mandud, komentar dari kitab Sunan Abi Dawud yang berjumlah 20 jilid.
  2. Fathul ‘Allam, komentar dari kitab Bulughul Marom yang berjumlah 4 jilid.
  3. Hasyiyah ala Al-Asybah wa An-Nadhoir.
  4. Ad-Durr An-Nadlid, Hasyisah kitab Tamhid milik Imam Asnawi.
  5. Bughyah Al-Musytaq, komentar kitab luma’ karangan Imam Abi Ishaq yang berjumlah 2 jilid.
  6. Ittihaf Al-Khilaf, penjelasan kitab Tuhfatul Ahzan berisi tentang ilmu bayan karangan Imam Dardiri.
  7. Janny At-Tsamar, komentar nadhom Manazilil Qomar.
  8. Balaghoh Al-Musytaq, menerangkan tentang pembendaharaan kata.
  9. Husnus Shiyaghoh, penjelasan dari kitab Durus Al-Balaghoh.
  10. Fawaid Al-Janiyyah, komentar nadhom Faroidhul Bahiyyah tentang kaidah fiqih.

 

Keramat Syekh Yasin

-HM. Abrar Dahlan bercerita, Suatu hari Syekh Yasin pernah meminta saya untuk membuat Syai (teh) dan syesah (yang biasa dihisap dengan tembakau dari buah-buahan/rokok tradisi bangsa Arab). Setelah saya membuatnya dan Syekh mulai meminum the, saya keluar menuju masjidil haram. Ketika kembali, saya melihat Syekh Yasin baru pulang mengajar dari Masjidil Haram dengan membawa beberapa kitab. Saya menjadi heran, tadi di rumah meminta dibuatkan the, tapi sekarang terlihat baru kembali mengajar?

-Seseorang bernama Zakariya Thalib Syiria pernah mendatangi rumah Syekh Yasin pada hari Jumat. Ketika adzan jumat dikumandangkan beliau masih saja di rumah. Akhirnya Zakariya keluar dan sholat di masjid terdekat. Seusai sholat ia menemui temanya dan bercerita bahwa Syekh Yasin tidak sholat Jumat. Namun pernyataan tersebut dibantah oleh temanya, “Kami sholat berjamaah bersama Syekh di Nuzhah, yaitu di Masjid Shekh Hasan Masyyat yang jaraknya jauh sekali dengan rumah beliau.”

-Dikisahkan ketika KH. Abdul Hamid sedang mengajar fiqih bab diyat di Jakarta, beliau menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya. Kemudian malam hari itu juga, beliau menerima sepucuk surat dari syekh Yasin. Ternyata isi surat tersebut adalah jawaban dari masalah yang dihadapi oleh Kyai Hamid.

Sebenarnya kisah tentang keramat Syekh Yasin sangat banyak jumlahnya. Selain dikenal dengan kedalaman ilmu serta keramatnya, Syekh Yasin ternyata juga tidak lantas merasa sombong. Dalam sebuah kesempatan, guru kami Gus Najib meriwayatkan dari guru beliau bahwa suatu hari ada seorang ulama yang ingin berguru kepada syekh Yasin. Setelah sampai di depan rumah Syekh, beliau mendapati seseorang dengan baju lusut sedang menghisap sisya. Seketika itu muncul dalam pikiran beliau, “masak ini rumah seorang ulama’, sedangkan di halamanya ada orang yang menghisap sisya”. Tidak lama kemudian, orang yang berbaju lusut itu menghampiri ulama tadi dan bertanya keperluanya. “ada yang bisa saya bantu pak?” tanya orang itu. “Ia pak, saya mencari Syekh Yasin.” “Oh, kalau begitu tunggu sebentar, saya panggilkan.” Tak lama kemudian dari dalam rumah, laki-laki yang tadinya berbaju lusut itu berganti penampilan dengan jubah dan imamah khas seorang ulama’ hingga sang ulama tadi pun kebingungan dan bertanya, “Dimana Syekh Yasin?”. “Saya adalah Yasin.” Mendengar jawaban itu, ulama tadi pun merasa malu dan kemudian mengakui kealiman Syekh Yasin.

Mudah mudahan kita dikumpulkan bersama orang-orang yang dekat dengan Allah SWT.

Sumber: Buku Ulama Besar Indonesia dan kitab al-Fawaid al-Janiyyah.

  • view 397