Peran Nyata Pesantren di Tengah Masyarakat

hadi lotus
Karya hadi lotus Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 April 2016
Peran Nyata Pesantren di Tengah Masyarakat

Malang (24/02) Jika pesantren adalah manifestasi dari majlis rosulullah saw dan para ulama? sebagai pewarisnya, maka sudah sepatutnya pesantren menyentuh pelbagai lapisan kehidupan. Hal inilah yang kami temukan ketika redaksi Al-Fikrah bersilaturahim ke Pondok Pesantren Az-Zainy Pandanajeng Tumpang Malang.

Rinai hujan disertai angin sedang mengiringi perjalanan kami ke Dusun Bangilang, Pandanajeng Tumpang. Daerah yang terletak 2-3 km di sebelah barat pasar Tumpang terlihat cukup indah dan asri. Letaknya yang berada tidak jauh dari jalan raya Karang Jambe yang menghubungkan antara kecamatan Tumpang dan Malang kota ini membuat kami tidak kesulitan untuk mencarinya. Panorama lingkungan khas pedesaan Malang membuat siapa saja yang melihatnya akan menjadi kagum dan terkesan. Akan tetapi pandangan kami saat pertama kali memasuki Dusun tidak tertuju dan terfokus kepada panorama itu, melainkan kepada beberapa bangunan mewah yang berdiri tegak di tengah-tengahnya. Bangunan yang sekilas lebih mirip hotel dari pada pondok pesantren ini ternyata adalah sebuah pesantren yang diperuntukan bagi santri yang mengalami gangguan mental, baik karena lingkungan maupun obat-obatan (narkotika).

Pesantren dan Sejarah Pendirian

Pondok Pesantren Az-Zainy ini didirikan dan diasuh oleh KH. Zain Baik. Gus Zain (sebutan KH. Zain Baik) sebenarnya bukanlah orang Malang asli. Beliau dilahirkan dan dibesarkan di Kabupaten Probolinggo, tepatnya dilingkungan Pondok Pesantren Nurul Jannah Paiton, pesantren yang didirikan oleh kakek beliau, Kyai Syarbini. Beliau mengenyam pendidikan di pesantren ini sejak kecil hingga lulus madrasah aliyah. Beliau berhijrah ke Malang saat usia beliau sekitar 20 tahun. Selain pesantren beliau juga pernah menimba ilmu di Universitas Brawijaya dan mengambil jurusan ekonomi.

Sebelum mendirikan pesantren, Gus Zen telah mengenal masyarakat Malang ini dengan cukup baik ketika beliau mengisi pengajian dalam bentuk majlis ta?lim di berbagai daerah, khususnya masyarakat sekitar pesantren. Selama beberapa tahun mengisi majlis ta?lim beliau kemudian banyak diikuti oleh orang-orang yang notabenenya mengalami gangguan kejiwaan (mental). Dalam hal ini mereka bukan orang gila, akan tetapi orang-orang yang memang sedang mengalami berbagai problem kehidupan yang membebani pikiran dan kesadaran mereka hingga tidak sedikit yang stres dan kehilangan jati dirinya. Adapula yang memang terpengaruh oleh lingkungan sekitar mereka hingga mereka meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim (tidak sholat, puasa dan sebagainya). Mereka inilah yang kemudian mengilhami saya untuk mengajak mereka kembali kedalam ajaran yang benar (da?wah ilallah, red).

Sejak saat itu, saya terus berjuang untuk menuntun dan menasihati mereka untuk kembai ke jalan yang lurus. Sehingga suatu ketika kyai saya meminta saya untuk membuat wadah yang berupa pesantren yang sifatnya rehabilitasi. Menurut beliau, selama ini Islam belum memiliki wadah bagi orang dalam gangguan jiwa (OGD). Paling banter mereka dirawat di rumah sakit jiwa. Bahkan tidak sedikit yang dirantai atau dipasung. Menurut beliau perlakuan seperti itu tidak selayaknya diaplikasikan terhadap mereka. Mereka bukanlah penjahat yang harus menerima perlakuan keras. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan perhatian dan kasihsayang.

Berangkat dari sini, tepatnya pada tanggal 21 September 2001 beliau kemudian mendirikan sebuah pesantren yang menangani para penderita penyakit gangguan jiwa (gila) dan penderita penyalahgunaan narkoba. Pesantren ini kemudian diberi nama Az-Zainy (nisbat kepada KH. Zain Baik).

Menurut Gus Zen, Pada awal pendirian tidak ada kendala berarti dalam proses pendirian pesantren ini. Hal ini mengingat Gus Zen telah mengenal Malang dan masyarakatnya dengan cukup baik. Beliau mengenal mereka dan karakteristiknya melalui interaksi beliau saat memberikan ceramah agama kepada warga Malang. Dalam hal ini beliau juga menuturkan bahwa pesantren akan berhasil jika masyarakat menerima dan percaya terhadapnya.

?ciri pesantren yang berhasil adalah apabila masyarakat dapat menerimanya dengan baik, tutur Gus Zen.

Tiap ruangan di pesantren ini memiliki desain yang indah dan unik. Pintu-pintunya berbentuk ukiran, kaca setebal 2,5 sentimeter tersusun rapi, tanaman yang terlihat alami dan asri turut menghiasi kebersihan pesantren. Sekilas tampak jauh lebih baik daripada pesantren pada umumnya. Bahkan, di ruang sekitar 5 meter persegi juga tampak mini bar untuk para santri yang sedang menjali terapi di tempat tersebut.

Ketika pertama kali pasien atau santri masuk ke Pondok Az-Zainy, mereka diberi terapi totok di sekitar bagian kepalanya yang berfungsi untuk memperlancar peredaran darah sehingga syarafnya kembali lancar karena tidak sedikit santri yang baru masuk kadang bertingkah di luar kewajaran seperti mengamuk, berteriak dan lain sebagainya. Setelah pasien dinyatakan diterima di pondok ini, kesehariannya mereka diberi minuman dan makanan yang sudah di asma? (diberi doa oleh Gus Zain) terutama lewat media air minum dan mandi. Setelah itu mereka harus mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan di pesantren Az-Zainy.

Kegiatan Pesantren

Mandi

Setiap hari para santri diharuskan untuk mandi sebanyak tiga kali, yakni pada pukul 07.30, 12.00 dan 15.30 WIB. Dalam pelaksanaannya, para pengurus tetap mendampingi dan terkadang juga membantu memandikan santri yang memang masih dalam keadaan parah dan belum bisa melakukan aktifitas apa-apa. Tidak sedikit ditemukan santri yang hanya bermain air ataupun melamun (bengong) saja tanpa tahu apa yang dilakukan oleh teman-teman mereka atau bahkan apa yang mereka lakukan sendiri sehingga masih harus dibantu pengurus pondok.

Senam pagi

Senam pagi dilaksanakan pada pukul enam pagi. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan agar paru-paru dipompa dengan udara yang segar dan bersih, sehingga lebih banyak oksigen dalam darah kita merangsang otak yang membantu untuk meningkatkan kesehatan mental, menyegarkan pikiran dan tubuh serta meningkatkan tingkat kebugaran fisik. Olahraga dipagi hari ini sangat baik bagi mereka atau masyarakat pada umumnya karena selain alasan diatas, udara yang segar dan alam pedesaan yang sejuk diharapkan dapat memberi nilai positif untuk mereka. Keadaan tubuh yang sehat akan menimbulkan pikiran yang rileks dan nyaman. dengan berolah raga manusia akan sehat jasmani dan rohaninya serta menambah spirit dalam menyembuhan santri yang sedang terganggu jiwanya.

Sholat

Sholat yang diwajibkan bagi para santri adalah shalat fardlu lima waktu. Shalat dilakukan secara berjama?ah di masjid yang berada di pondok. Kewajiban ini tidak berlaku bagi semua santri, melainkan mereka yang sudah agak sembuh. Bagi santri yang belum sembuh juga diharuskan untuk menjalankan sholat. Akan tetapi mereka sholat didepan kamar dan dalam pengawasan pengurus. Kegiatan ini diharapkan dan diarahkan untuk melatih para santri agar disiplin dalam menjalankan ibadah yang akhirnya akan berpengaruh pada setiap aktivitas pribadi mereka masing-masing.

Istighotsah umum

Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh para santri yang menghuni pondok tapi juga di ikuti oleh santri non rehabilitasi mental serta warga sekitar pondok yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali yaitu pada Jum?at Pahing. Adapun salah satu tujuan kegiatan ini, yaitu sebagai rutinitas jama?ah yang diasuh oleh Gus Zain serta bertujuan membantu untuk mendoakan para santri yang tinggal di Pondok Pesantren Az-Zainy.

Selain kegiatan yang disebutkan di atas, para santri yang dianggap sudah lebih baik akan diajarkan mengaji al-Qur?an, menghafalkan surat-surat pendek dan lain sebagainya. Di pesantren ini, para santri tidak diajarkan ilmu-ilmu yang biasa kita temukan di madrasah-madrasah pesantren, seperti Nahwu, Shorof dan Tafsir. Mereka hanya diberi pengetahuan tentang ibadah yang sifatnya mendasar, seperti wudhu dan sholat.

Dalam perkembanganya, santri yang dianggap telah kembali normal akan disowankan kepada Gus Zen. Karena hanya beliaulah yang berhak memutuskan apakah santri ini sudah bisa pulang atau belum. Sebagian santri yang memenuhi kriteria akan dikirim ke berbagai daerah untuk mensyi?arkan Islam. Sesuai keterangan Gus Zen, sudah lebih dari seribu alumni yang keluar dari Az-Zainy.

Metode penanganan yang digunakan di pesantren ini tampak cukup berbeda. Sistem salaf dengan pendekatan sufistik tampaknya menjadi perhatian utama pengasuh. OGD ini termasuk orang yang jauh dari tuhanya. Rata-rata mereka mengalami degradasi kepercayaan sehingga tidak memiliki kekuatan dan tempat bernaung. Oleh karena itu, majlis dzikir, istighosah dan tarbiyah diniyah diharapkan dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan mampu mengembalikan kepercayaan mereka.

Sudah selayaknya Islam diajarkan sesuai dengan tuntunan Rosululah saw. Penuh rahmat dan kasih sayang. []

  • view 263