Cerita Kucing

habib al rahman
Karya habib al rahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Cerita Kucing

Ibuku adalah pencinta kucing sejati. Seperti layaknya cinta sejati yang selalu menemukan jalan, begitu pun ibu. Ada saja jalannya dalam menemukan kucing. Entah di pasar, jalan, bahkan halaman sekolah.

For your information, aku bukanlah orang yang senang memelihara binatang. Termasuk kucing. Tidak ada masalah dengan kucing. Aku suka kucing dan aku punya beberapa teman yang juga memelihara kucing. Salah satu temanku bahkan selain memelihara kucing, dia juga memelihara kelinci, harmster, musang, dan ikan.

Ketika ku tanya mengapa senang sekali memelihara binatang, dia hanya menjawab,”ya gue sih nganggep mereka sebagai partner. Kalau gue kesepian, gue main sama mereka. Kalau gue sedih, gue curhat sama mereka”. Sampai sejauh ini, aku berpikir, sepertinya dia agak ketuker antara pacar dengan hewan peliharaan heheh.

Awal keluargaku memelihara kucing adalah ketika mudik. Salah satu saudaraku disana memberikan kucing persia peliharaannya kepada ibu. Aku ingat, kucing itu memiliki bulu yang tidak terlalu tebal dan di permukaan tubuhnya terdapat bulatan-bulatan kecil. Kemudian kucing itu ibu beri nama mey-mey. Nama yang kupikir tidak tepat karena kucing itu jantan.

Awal mey-mey tinggal di rumah kami, dia adalah kucing rumahan. Dia tidak suka keluar rumah. Dia lebih senang menghabiskan waktunya untuk tidur dan makan. ya, dia adalah kucing pemalas dan manja.

Namun semua berubah. Semua berubah ketika mey-mey akhirnya keluar rumah. semenjak hari itu, dia jadi sering keluar rumah. meskipun hanya di siang hari. Di malam hari dia sudah ada di rumah. suatu saat, dia melihat kucing betina di halaman rumah. itu semakin membuat mey-mey jadi sering keluar rumah.

Beberapa hari kemudian mey-mey ditemukan hampir tewas oleh tetanggaku. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya. yang jelas, mey-mey ditemukan sudah terbaring lemah. Badannya kaku dan nafasnya berat. Mungkin satu kata ini cukup untuk menggambarkan kondisi mey-mey saat itu : sekarat. Aku melihatnya sedih. Berat sekali melihat yang dialami mey-mey. Melihat itu semua aku jadi teringat satu hal : mati. Di dalam al qur’an dijelaskan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS 2 : 185)

Kesibukan sehari-hari sering kali membuat aku lupa dengan kematian. Padahal kematian itu adalah sesuatu yang pasti terjadi.

Ketika mey-mey meninggal, keluargaku sedang pergi ke ciamis. Hanya aku dan satu orang temanku yang ada di rumah. setelah mey-mey dikuburkan, aku memberi kabar tersebut ke ibu. Tentu saja ibu sedih sekali.

Setelah kejadian ini, ku pikir cerita kucing dalam keluargaku akan selesai. Tapi ternyata tidak. Ternyata mey-mey mempunyai anak. Hal ini akhirnya diketahui oleh ibuku yang tentu saja menyambut dengan antusias. Ibu lalu sibuk mengurus kucing betina yang mengandung anak mey-mey itu. sambil berharap anaknya segera lahir.

Akhirnya hari-hari yang ditunggu itu pun tiba. Anak-anak mey-mey lahir dengan selamat. Bagi orang-orang yang pernah melihara kucing dari kecil, pasti tahu, betapa menggemaskannya kucing yang masih kecil. Sampai sekarang, generasi mey-mey tidak terputus di rumahku. Setiap ada yang mati, maka ada yang lahir. Dan ibuku dengan senang hati merawat mereka.

Terus terang, aku merasa terganggu dengan hal ini. Karena kucing di sekitar rumahku banyak sekali. Sekitar delapan ekor. Aku pernah mengusulkan untuk membuang beberapa kucing itu, namun ibuku menolak. Tidak tega katanya.

Ibuku kemudian memberitahukan bahwa memelihara kucing itu baik. Nabi pun mempunyai kucing peliharaan yang diberi nama muezza. Sebelum Eropa mengenal organisasi Pencinta Binatang, Muhammad Saw. Telah mengajarkan : “apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.”

“seorang wanita dimasukkan Tuhan ke neraka dikarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, dan juga tidak dilepaskan untuk mencari makan sendiri.”

Sebaliknya, pada saat yang lain beliau bersabda :

“seorang yang bergelimang di dalam dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.”

Wah ternyata perkara tentang binatang ini bukanlah hal yang main-main. Beruntung sekali orang yang bisa masuk surga karena mencintai hewan peliharaannya. Kalau begitu, istilah sehidup sesurga menjadi sesuatu yang pas, karena selain hidup bersama di dunia, surga pun tercapai.

Lain ibu lain ayah. Jika ibuku senang memelihara kucing, ayahku lebih senang memelihara ikan. Ayahku mempunyai kolam ikan di depan rumah. setiap pulang bekerja, di sore hari, maka ayahku akan melemparkan pelet sambil berkeliling kolam. Ayahku bilang memberi makan ikan dapat mengurasi stress.

Pada suatu kebetulan, aku pulang lebih sore ke rumah. aku melihat ayah dari kejauhan, mendekatinya, dan bilang,”yah, ikutan dong.”

Ayah mengangguk.

Sore itu, bunyi lemparan kami, jadi lemparan paling merdu.

 

  • view 603