Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 13 November 2017   20:11 WIB
‘’MENUJU KEBENARAN YANG SEJATI’’

‘’MENUJU KEBENARAN YANG SEJATI’’

      Jangan marah ya... kalau kebenaran itu sebenarnya tidak untuk di keluarkan pada diri kita, terserah kebenaran Agama, kebenaran Demokrasi, kebenaran apapun. Kebenaran tentang makanan, tentang asin, tentang sedep, tentang maknyus, tentang apapun. itu adalah bekal kita yang kita simpan pada diri kita. tetapi begitu kita keluar pada diri kita, yang kita bawa bukan kebenaran, yang kita bawa adalah, kebaikan, keindahan, kemulyaan, upaya-upaya untuk supaya nyaman satu sama lain, kita dengan semua orang sekitar kita, kebijaksanaan, kearifan, bukan kebenaran yang kita bawa keluar. itu ibarat gampangannya warung lah. Kebenaran itu letaknya di dapurnya warung itu, na...itu tidak perlu di bawa keluar warung itu...maksutnya ke tempat warung itu, ini letaknya di dapur.

      Sekarang ini semua dapur-dapur warung dijadikan displey utama, dan masing-masing merasa benar, jadi ini kita tidak akan bisa selesai dengan seluruh pertengkaran, permusuhan, kebencian, dendam, dan seterusnya kalau kita saling menyombongkan kebenaran kita masing-masing, anda tau kalau teori universalnya kan ada benarnya sendiri, kebenaran subjektif, masing-masing orang atau kelompok, terus ada benarnya orang banyak, ini kita eloborasi ini kita cari sampai aqirnya di katakan ketemu demokrasi ketemu kesepakatan nasional, itu kan benarnya orang banyak, tapi kan benarnya orang banyak bukan tidak sama dengan benarnya yang sejati, benarnya yang sejati itu sesuatu yang sangat bersifat cakrawala, yang harus kita tempuh berjalan kesana terus menerus yang mungkin nanti ada hubunganya sama Allah, apa lagi Allah sendiri mengatakan kebenaran itu datangnya dariku, manusia hanya dapat cipratanya dan menafsirkanya, na...tafsir kebenaran ini kita harus berhati-hati, karena saya menafsirkan kebenaran beda dengan anda menafsirkan kebenaran, dan saya tidak akan mentengkarkan tafsir saya dengan tafsir anda. Yang harus keluar dari diri saya kepada diri anda adalah mencoba berusaha mengembirakan anda, membikin anda nyaman, membikin anda aman, tidak saya curi barang anda, tidak saya nista harga diri anda, dan tidak saya bunuh nyawa anda, itu auputnya. Itu di semua kitap suci seperti itu dan di semua kebijaksanaan tradisi seperti itu, keluarnya bukan rasa benar, keluarnya bukan rumongso bener rumongso biso, tetapi kalau basa jawanya ‘’Biso Rumongso’’ artinya saya bener, tapi tidak berati saya harus hidup dengan anda juga bener seperti saya bener, saya harus bijaksana begitu keluar, saya harus siap dengan ketidak benaran di luar diri saya yang tidak sama dengan saya, maka saya harus berpuasa dari kebenaran saya sendiri, kalau sekarang masing-masing kelompok baik itu pemerintah, rakyat, sekmen-sekmen dalam rakyat, dan seterusnya, semua keluar dengan menyombongkan kebenaran masing-masing maka kita tidak akan pernah selesai dengan pertengkaran kita.

 

Karya : Hilmi Mulazaman