Kado terindah

Istana Mimpi
Karya Istana Mimpi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Juli 2017
Kado terindah

ulang tahun adalah momen istimewa bagi semua orang. setiap detik terasa bahagia karena banyak teman dan keluarga yang mengucapkan selamat ulang tahun, happy birthday, sanah helwah atau sebagainya. namun bagi saya pribadi, ulang tahun bukanlah hal yang murni membahagiakan. walaupun yang terlihat adalah rasa bahagia karena mendapatkan banyak ucapan, doa atau bahkan hadiah. namun kenyataannya umur saya semakin berkurang. dan tentu waktu hidup saya semakin sedikit. saya ingin sedikit merenungkan bahwa setiap hari umur saya berkurang, namun dosa saya setiap hari bertambah. itulah yang membuat saya tidak bisa bahagia sepenuhnya.

terlepas dari hal semua itu, di hari ulang tahun saya ke 18 yang jatuh pada hari senin kemarin, ada sebuah kejadian indah yang tak pernah ingin saya lupakan. saya menyebutnya kado terindah. namun bukan kado berbentuk materi. kali ini kado itu adalah sebuah ucapan kata-kata. ceritanya dimulai pada hari senin sekitar pukul 18:30 WIB atau seusai sholat maghrib. saya sowan kepada pengasuh pondok pesantren dimana saya pernah belajar di sana beberapa tahun lalu. kejadian ini mungkin bagi semua orang biasa saja. tapi biarlah saya pribadi menganggapnya diluar biasa. karena pada malam itu saya bisa bertemu dengan guru saya yang sangat alim dan terampil dalam mendidik santri santrinya serta mendapat banyak nasehat. beliau adalah umi nanik zahiroh, putri KH Amanullah AR. memori ingatan saya tentang beliau masih cemerlang tak pernah ingin terlupa. saat mengaji al qur'an, menghafal surat al mulk, al waqi'ah, dan surat yasin. beliau menuntun saya dan teman-teman saya kata demi kata sampai kami semua berhasil menghafalnya. saat setoran hafalan surat pendek seusai sholat subuh berjama'ah. saat pagi sebelum berangkat sekolah, saya sering minta uang saku titipan orang tua kepada beliau. walaupun berperan sebagai pengasuh pondok yang mendidik banyak santri, beliau tak pernah merasa keberatan. apapun selalu diusahakan. termasuk melatih santri-santri seperti kami untuk belajar hidup hemat. caranya yaitu dengan menitipkan uang kiriman orang tua kepada beliau. beliau rela mencatat dan menghitung pengeluaran santri-santrinya. subhanallah.

malam itu saya berangkat menggunakan sepeda motor milik teman saya. berbekal sedikit oleh oleh dari rumah, saya mengucapkan salam lewat pintu belakang. bukan karena tidak sopan, tapi karena pintu depan hanya untuk tamu-tamu tertentu. setelah satu kali mengucapkan salam, saya terdiam. belum ada jawaban. beberapa detik kemudian putra beliau yang sedang bermain mengarahkan pandangannya ke arah saya. dilanjut dengan memanggil "umi, ada cak cak." cak adalah sebutan seperti mas atau kak dalam dunia pesantren. beberapa saat kemudian, muncul dari balik pintu. seorang wanita penyayang yang sangat perhatian dengan santrinya. umi nanik. saya langsung mengecup tangannya. beliau menyapa saya dan menyinggung hari ulang tahun saya. alangkah bahagianya seorang santri ketika pengasuhnya mengucapkan selamat ulang tahun. namun bukan itu yang saya sebut sebagai kado terindah.

setelah bersalaman, saya menyerahkan oleh oleh yang sebagian saya bawa jauh jauh dari rumah dan sebagian saya membeli di toko depan pondok saya sekarang. saya menyampaikan salam dari orang tua saya kepada beliau. saya sangat bahagia. ternyata saya dipersilahkan masuk ke dalam ndalem, dipersilahkan minum dan makan cemilan barokah beliau. yang sedikit menjadi kekurangan adalah saya tidak bisa bertemu abah salman, pengasuh utama pesantren saya itu. karena beliau masih "pijet."

abah salman juga tak kalah luar biasa. beliau orang yang alim dan sangat pendiam. hampir tak pernah berucap selain yang bermanfaat. beliau sangat menyukai dzikir dan sholawat. memori saya tentang beliau juga tak kalah banyak. saat mengaji al-qur'an pagi seusai subuh, saat jama'ah sholat beliau menjadi imam, saat mengajar di sekolah, saat bersalaman setelah jama'ah, saat beliau membangunkan santri di waktu shubuh dan masih banyak yang lain. bagi saya, umi nanik dan abah salman adalah pasangan yang sangat cocok untuk para santri.

di dalam ndalem saya tak berbicara banyak. sebagai santri yang tak pernah mengenal kata bekas, saya hanya berani berbicara ketika beliau mengajukan saya pertanyaan atau pendapat. detik demi detik berlalu. beliau banyak menceritakan sesuatu. tentang santri santrinya sekarang, tentang perkembangan pembangunan pondok pesantren, hingga tentang wali santri. sesekali beliau menasehati. saya sangat bahagia bisa menyimak apa yang beliau dawuhkan. saya sangat rindu momen seperti ini. apalagi hari itu adalah hari ulang tahun saya, 3 juli.

selang beberapa waktu, ada tamu lain datang. mereka adalah rombongan wali santri yang mengantarkan anaknya kembali ke pondok. mereka dipersilahkan duduk. spontan saya mengambilkan minuman dan membuka tutup jajan di depan mereka sambil bilang "monggo disambi." umi terlihat sangat bahagia ketika bisa memuliakan tamu, saya bisa menebak dari aura wajah beliau yang sangat murah senyum. tamu dan tuan rumah perlahan mulai menikmati obrolan hangat khas orang dewasa. saya yang merasa sudah lama duduk berniat untuk beranjak keluar menemui teman-teman di pondok. saya mendekati umi nanik dan berpamitan ingin menemui teman-teman santri. tak lupa saya memohon maaf kepada beliau. saya menahan "asto" beliau saat bersalaman. saya mengucapkan kata kata yang benar benar ingin saya katakan sejak lama. sudah sekitar tiga tahun saya ingin minta maaf kepada beliau karena dulu saya sering membuat beliau marah. terutama akhir waktu saya tinggal di pesantren ini. saya benar benar minta maaf. mengucap dalam bahasa jawa halus. sambil menundukkan tubuh seolah saya manusia paling hina dan bersalah. saya masih menahan "asto" beliau. namun kali ini, lebih tepatnya beliau yang belum mau melepaskan. beliau menasehati dengan tutur yang halus dan penuh harap. membuat hati santri seperti saya semakin tertunduk luluh. apalagi saat beliau dawuh bahwa saya sudah dimaafkan. bahagia saya meledak luar biasa. ingin rasanya menagis karena bahagia. "awakmu saiki wis gede" sebagian tutur beliau.

nasehat beliau sedikit panjang. di akhiri dengan pesan yang sangat berharga. itulah kado terindah di ulang tahun saya ke 18. ketika saya bersalaman lama sambil menyimak nasehat demi nasehat dari beliau. terimakasih umi nanik. terimakasih telah mendidik saya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. terimakasih telah mau memaafkan kesalahan saya. terimakasih telah menasehati dan perhatian. semoga umi nanik sekeluarga senantiasa diberi umur yang berkah, rizki yang cukup dan putra putri yang sholeh sholehah. semoga saya bisa melakukan apa yang oleh umi nasehati dengan istiqomah dan ikhlas. aamiin.

  • view 29