Bukan Disable, Aku Hanya Difabel (Part II)

Gustin Muhayani
Karya Gustin Muhayani Kategori Project
dipublikasikan 19 Maret 2017
Tulisan Akhir Pekan

Tulisan Akhir Pekan


Ini hanya cerita yang berlalu lalang di kepala. Tulisan pemuas jiwa.

Kategori Non-Fiksi

783 Hak Cipta Terlindungi
Bukan Disable, Aku Hanya Difabel (Part II)

Musim hujan sudah berganti menjadi musim kemarau.

Pesan singkat itu datang mengatakan, “It’s really hard to have your life controlled by your bladder and bowel function.  Hidup ternyata tidak menjadi lebih mudah setelah dokter mengajarkanku memasang selang kencing itu sendiri.”

Sang dokter menerima pesan singkat di handphonenya. Pesan singkat itu tanpa nama. Ada puluhan pasien yang telah ia ajari memasang selang kencing mandiri, Tak salah jika ia lupa. Karena kalau memang ada pasien yang meminta nomor handphonenya tak sungkan ia berikan. “Semata-mata untuk membantu kesulitan mereka dirumah.” alasannya setiap kali ada teman sejawatnya yang bertanya tentang kebiasaannya membagi nomor handphonenya.

Jemarinya lalu membalas pesan itu, “Iya, ini dengan siapa?”

Lalu handphonenya  berdering dari nomor yang sama. Tapi sang dokter tak mengangkatnya. Ia kembali menggerakkan jemari diatas keyboard handphonenya, “Maaf saya belum bisa mengangkat telepon.”

Sesaat kemudian datang balasan, “Ini Risna, Dok.”

Masih mencoba mengingat yang bernama Risna, Saat itu ia abaikan sejenak melanjutkan rutinitasnya memeriksa pasien dan mengisi status.

Selesai kewajibannya, ia membongkar status pasien pulang yang pernah dirawatnya. Mencari nama Risna. Dan ia menemukan itu adalah pasiennya 6 bulan lalu. Lalu dengan segera ia membalas lagi pesan itu, “ Hai Bu Risna, apa kabar? Maaf tadi saya masih mengerjakan pasien. Ada yang bisa saya bantu?”

Sekitar 15 menit, handphonenya berdering dari nomor yang sama. Suara seorang wanita terdengar dari ujung telepon.

“ Selamat sore, Dok. Masih ingat denganku,, Dok?” suara dari seberang telepon menyapa.

“Halo Bu Ris. Yes, of course. Apa kabar?” sang dokter menjawab.

“Buruk, Dok.” jawabnya dengan nada datar. Bukan nada sedih atau kekecewaan.

“ Ada apa?”

“Dokter luang? Ada waktu sebentar untuk mendengar ceritaku?...Oya, aku lupa menanyakan kabar dokter. Sehat, Dok?

“ Iya Bu Ris, Alhamdulillah. Apa yang bisa saya bantu, saya sedang nggak terburu buru kok.”

Risna memulai ceritanya ketika sang suami untuk seminggu awal masih menemaninya dirumah sepulang dari RS. Membantu merawat dirinya. Ia pun berusaha semampunya untuk tidak merepotkan sang suami ataupun anak-anaknya. Ia masih aktif diatas kursi roda.

Saat sang suami harus kembali bekerja. Disanalah ia mulai menyadari keterbatasannya. Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur atau menemani sang anak bermain di lantai sambil menonton televise rasanya hampir tidak mungkin ia lakukan sendiri. Akhirnya ia harus menghabiskan sepanjang harinya diatas kursi roda. “ Tidak mungkin meminta anak usia 6 dan 8 tahun untuk memindahkanku ke tempat tidur. Aku terlalu berat untuk mereka.” Bahkan ketika ia harus melakukan kateterisasi sendiri, itu tak mudah baginya dengan posisi duduk. Ia meminta sang anak untuk membawanya ke kamar dan membantu meletakkan kakinya diatas kursi agar ia bisa memasang selang kencingnya sendiri. Sang anak bungsu memaksa ingin menemaninya tapi ia tak sanggup jika sang anak harus melihatnya melakukan kateterisasi mandiri, “Terlalu memalukan bagiku, Dok.” katanya. Ia mulai ketakutan ketika sendirian tanpa suami. Ia tak berani untuk minum terlalu banyak. Ia ketakutan jika 4 jam mendatang suaminya belum pulang.

Risna sejenak mengambil jeda diantara ceritanya dan sang dokter bertanya, “Apa memang belum bisa berpindah posisi sendiri?”

“Kedua kaki ini terasa lebih berat, Dok. Entah itu hanya perasaanku saja atau memang aku yang semakin lemah.” jawabnya.

Ia lalu melanjutkan ceritanya ketika jeda yang ia berikan ternyata sudah cukup direspon oleh sang dokter.

Ia merasa bersalah pada kedua anaknya karena tak bisa menemani mereka saat bermain keluar rumah atau saat sang suami dan anaknya mengajaknya bermain ke taman kota. Bukan kursi roda yang membuatnya malu. Tapi saat ia keluar lebih dari 4 jam, ia akan sangat kesusahan untuk mencari tempat yang cukup privasi untuk melakukan kateterisasi. Atau saat ia keluar, ia harus terburu-buru memaksa pulang padahal disaat yang sama anaknya baru saja menikmati permainannya. “Oh, I need to get home because I have to pee.” ucapnya pada sang suami.

Ia tak sepenuhnya lagi bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Si bungsu seolah mengerti keadaan sang ibu. Saat ia selesai dengan mainannya, ia merapikan. Sesekali mengambil sapu untuk membersihkan rumah. Selama 4 bulan hanya melihat tembok rumah dan tak bisa menemani anak-anak bermain sudah cukup membuatnya stress. Merasa bahwa kehidupannya terlalu berat saat harus bergantung pada fungsi buang air besar dan kecilnya.

Akhirnya kini sang suami harus menyisihkan sedikit gajinya untuk membayar seseorang membantunya. Dan yang paling menyedihkan baginya adalah saat satu bulan terakhir suaminya tak pernah lagi membantunya untuk kateterisasi saat ia berada dirumah. Suaminya tampak lebih acuh. Hanya bermain dengan anak-anaknya, pulang lebih larut dari pekerjaannya dan sesekali saat akhir pekan tidak dirumah. “Memang untuk kebutuhan biologis pun sebagai seorang istri sulit aku penuhi saat ini. Tapi kupikir ia paham tentang kondisiku. Apa mungkin ia lelah dengan keadaanku, Dok?”

Sang dokter mulai mengerutkan dahinya. Pertanyaan pasien yang sulit untuk dijawab. Permasalahan yang selalu menjadi masalah berkepanjangan saat ia harus menangani pasien dengan spinal cord injury.

Sang dokter paham. Penyakit ini tak bisa selesai ketika pasien keluar dari RS. Terkadang ia terlalu naïf ketika ia bisa menjelaskan dan mengajarkan pasiennya dengan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi saat kembali ke rumah, maka masalah pasiennya akan lebih ringan. Nyatanya tidak. Bahkan menjadi lebih rumit seperti ini.

Bu Risna kembali bersuara usai jedanya. “ Dok, hidupku terlalu tergantung dengan kateter mandiri ini. Lingkungan disini tak cukup mensupportku dengan keadaan ini. Aku lelah menjadi tergantung. Sekarang aku memakai selang kencing yang permanen. Selang yang dokter tak sarankan padaku. Aku berjanji akan menggantinya secara berkala. Aku sudah menyerah untuk melatih kandung kencingku dengan kateter mandiri.  Kandung kencing itu bahkan tetap masih tak berespon. Kateter permanen ini membuatku sedikit lebih mandiri dibandingkan sebelumnya. Setidaknya aku bisa menemani anak-anakku berjalan ke taman kota.Suamiku tak perlu mengeluarkan gajinya untuk membayar orang membantuku.”

Sang dokter hanya bisa terdiam. “Mungkin tak ada pilihan.” jawabnya lirih.

“Diawal aku memilih untuk mencoba cara terbaik yang dokter sarankan. Tapi sepertinya cara itu tidak bekerja cukup baik pada kondisiku, Dok. Cukup aku merelakan perhatian suamiku teralihkan. Tapi jangan sampai anak-anakku kehilangan sosokku. Tapi terima kasih, setidaknya berkat nasehat dokter aku tidak mengeluhkan lagi Tuhan yang memilih aku menjalani ujiannya yang luar biasanya. Setidaknya aku tak perlu lagi menuntut lingkunganku untuk menciptkan kondisi yang kondusif untuk keterbatasan diriku. Karena toh mereka tak akan pernah benar-benar mengerti yang kubutuhkan. Aku memilih berjuang dengan kemampuan yang tersisa yang kumiliki. I’m not disable, I’m only difabel” ucapnya.

“Masih rutin terapi disana?” tanya sang dokter mengisi jeda yang Risna bentuk disetiap peralihan ceritanya.

“Sesekali Dok. Aku sudah mulai terbiasa melakukannya sendiri dirumah.” jawabnya singkat.

“Bagus. Pertahankan ya. Jangan turun ya.” jawab sang dokter.

“Mungkin saat ini, saat aku terbiasa dengan kateter permanen ini, aku ingin mencoba mencari pekerjaan. Mungkin akan mencoba kembali mengajar seperti sebelum aku menikah dulu.” kata Risna.

“Lakukan yang bisa Ibu lakukan. Optimalkan diri Ibu. Tidak ada keadaan yang tanpa alasan.”

“Heem” suara desahan dari ujung telepon dan jeda lagi.

“Sepertinya 6 bulan berlalu membuat Ibu menjadi lebih hebat. Ini akan membuat keadaan lebih baik, Bu.” lirih sang dokter.

Cerita itu berakhir ketika sang pasien menyampaikan salam dan terima kasihnya.

Sang dokter kemudian melanjutkan menyusuri lorong RS. Langit Surabaya sore itu berubah menjadi lebih gelap.

  • view 248