HMI: Saatnya memaHaMI Petani...!

Gus Lim
Karya Gus Lim Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Oktober 2016
HMI: Saatnya memaHaMI Petani...!

ADA sebuah tesis tentang pergerakan mahasiswa yang menyebutkan bahwa di sebuah negara yang masih dibawah rezim non demokratis, mahasiswa dituntut untuk terlibat penuh sebagai kekuatan pendobrak rezim bersama kekuatan pro demokrasi lainnya mengingat masih belum efektifnya pilar demokrasi lainnya seperti parlemen, media massa, dan NGO. Tetapi ketika demokrasi sudah matang, mahasiswa harus kembali ke kampus untuk melanjutkan pendidikan dan penelitiannya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuannya.

Sementara itu, kalau membandingkan dengan beberapa fase sebelumnya, perjuangan HMI sebatas perlawanan terhadap rezim, entah itu rezim kolonialis secara fisik, rezim ideologi dan rezim pembangunanisme atau secara umum perlawanan terhadap negara, dimulai dari Fase Perjuangan Fisik (1947-1949), Fase Perjuangan Ideologi (1949-1966), Fase Pembangunan (1966-1998), dan Fase Reformasi (1998-sekarang) dan saat ini perjuangan HMI lebih kompleks. Dari tantangan kekuatan asing dalam bentuk globalisasi yang semakin cepat dan kompetitif dan juga ancaman domestik seperti belum terselesaikannya agenda demokratisasi ekonomi politik di tingkat pusat terutama di daerah seiring dengan desentralisasi. Tantangan semakin berat sementara ruang sosial telah diisi oleh kekuatan masyarakat sipil lainnya yang sudah berdaya, sehingga perjuangan HMI dituntut lebih cerdas dan lebih kreatif. Inilah saatnya untuk HMI kembali ke kampus, mengembangkan perjuangan dari kampus dengan berbasis intelektualitas sesuai dengan basis keilmuan yang digelutinya.

Oleh karena itu, disadari atau tidak, salah satu letak kelemahan Indonesia di era globalisasi saat ini adalah kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan memiliki komitmen nasionalisme dan religiusitas (keagamaan) yang kuat. Tanpa SDM yang profesional di bidangnya masing-masing, sulit untuk mengembangkan kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Begitu banyak pengangguran terdidik dari alumni perguruan tinggi yang menunjukkan rendahnya kualitas pembelajaran yang menyebabkan peserta didiknya tidak memiliki keterampilan teknis, inovatif dan kreatifitas. Motor-motor dari globalisasi saat ini adalah individu yang kreatif dan inovatif yang memiliki kecerdasan berdasarkan disiplin keilmuan yang digelutinya semasa kuliah. Selama ini peran kampus belum dioptimalkan, baik untuk menghasilkan alumni yang profesional dan kreatif berdasarkan disiplin ilmunya masing-masing, terlebih peran kampus dalam pengabdian sosialnya untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Hal ini menyebabkan masyarakat kita tidak mampu berkembang dengan baik, karena mereka beraktifitas tanpa dukungan ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi dari kampus. Tanpa dukungan kebijakan yang prorakyat dari pemerintah dan dukungan pembiayaan dari sektor perbankan serta pendampingan dari jaringan pengusaha nasional.

Faktanya kini; Para petani kita dilepaskan untuk bersaing langsung dilapangan dengan perusahaan pangan asing yang telah menggurita, yang telah menguasai pasar input dan jaringan serta modal yang kuat. Akibatnya petani kita tidak mampu meningkatkan pendapatannya mengingat keterbatasan sumber daya sehingga harus menyerahkan dirinya untuk diperas secara halus oleh perusahaan besar. Para nelayan kita dengan kapasitas pengetahuan terbatas, ditengah ketiadaan modal dan dukungan perahu kecil untuk melaut, dilepaskan untuk bersaing secara bebas dengan kapal-kapal modern milik perusahaan besar dan juga nelayan asing. Petani dan nelayan kita dilepaskan berkompetisi tanpa dukungan kebijakan dari pemerintah, dukungan keuangan dari perbankan dan tanpa dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang harusnya dipenuhi dari kampus.

Disamping itu, Pengusaha kita yang tanpa komitmen nasionalis mengekspor bahan mentah ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan asing tanpa berpikir terhadap nilai tambah apabila barang tersebut diolah di dalam negeri berikut penyerapan tenaga kerja yang dihasilkannya. Sebagian besar pengangguran di Indonesia terdiri dari kaum terdidik yang disamping tidak memiliki akses terhadap sumber daya juga kurang memiliki pengetahuan praktis berikut daya inovasi dan kreatifitas yang harusnya diperoleh di bangku kuliah sesuai bidang keilmuan yang digelutinya. Banyak tenaga profesional kita yang lebih memilih untuk tinggal di luar negeri mengingat fasilitas dan penghargaan yang diterimanya lebih bagus ketimbang di negeri ini. Sementara tenaga-tenaga profesional lainnya di dalam negeri sebagian besar diisi oleh tenaga kerja asing.

Semua fakta tersebut diatas, menunjukkan lemahnya kampus dan mahasiwanya, bukan hanya terhadap penyerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tapi terutama pada penerapan keilmuan dalam kehidupan sosial. Untuk membangun bangsa Indonesia, kampus menjadi salah satu pemicunya. Dengan ilmu pengetahuan yang lebih berkembang, kampus bukan hanya akan mampu meningkatkan pemahaman dan pengembangan iptek dan kreatifitas terhadap mahasiswanya tapi juga dapat semakin memperluas pengabdiannya pada masyarakat. Semua disiplin keilmuan apapun namanya pasti memiliki relevansi dengan dunia sosial tempatnya didirikan, tinggal bagaimana membangun keterkaitan dan kemitraan antara dunia kampus dengan masyarakat sebagai wujud komitmen pengabdian sosialnya kepada masyarakat.

Jadi, HMI sebagai bagian dari masyarakat kampus kini dituntut untuk menjadi lokomotif dari gerakan semacam ini. Kader-kader HMI harus didorong untuk memahami secara paripurna bidang keilmuan yang digelutinya sehingga kader bukan hanya akan memiliki prestasi kuliah yang baik tapi juga akan mampu memiliki kecerdasan teknis yang menjadi modalnya untuk hidup bermasyarakat. Salah satunya dengan menjadikan HMI sebagai lokomotif gerakan yang menggugah kesadaran untuk menegaskan ideologi keberpihakan yakni diantaranya keberpihakan kepada petani.

Dari sinilah, penting meneguhkan spirit bahwa kini HMI: ..saatnya memaHaMI Petani!

 

---------

Tulisan ini disampaikan dalam rangka FGD Pembangunan Pedesaan Berbasis Pertanian di HMI Cabang Malang, 13/10/2016

Penulis :  (1)*Sekjend ASPPEHORTI (Asosiasi Petani dan Pengolah Hortikultura) Jatim;  (2)* Mantan Ketua Umum HMI Cabang Malang Komisariat Pertanian, Universitas Brawijaya - Malang (Periode, Th.2001-2002) 

  • view 285