BUAH NAGA MERAH BANYUWANGI, DARURAT E-COLI

Gus Lim
Karya Gus Lim Kategori Kesehatan
dipublikasikan 26 Agustus 2016
BUAH NAGA MERAH BANYUWANGI, DARURAT E-COLI

Fakta buah tak aman konsumsi di negeri ini memang belum menjadi masalah serius yang harus dikampanyekan pemerintah kepada masyarakat. Mungkin saja karena dua hal, yaitu pertama karena memang konsumen tidak tau atau kedua karena tidak mengerti. Ini yang terjadi dan saya jumpai dalam 2 bulan terakhir ini, terutama pada buah naga-red dragon yang saya dapatkan dari Banyuwangi, khususnya yang berasal dari kebun dan lahan petani di daerah Jajag.

Sebagai bagian dari insan pertanian, awalnya saya tidak akan dengan mudah percaya bahwa buah naga yang saya dapatkan beberapa kali dari daerah tersebut ternyata dagingnya mengandung e-coli. Hal inipun tidak mungkin saya sampaikan kepada publik jika saya tidak memiliki data yang akurat dan ilmiah soal ini. Secara kronologis kejadiannya adalah karena berawal dari adanya purchase order dari seorang buyer Jepang via perusahaan rekanan saya di Jawa Timur, mereka menginginkan buah naga merah (red dragon) yg diproses dalam bentuk juice frozen dan biasanya barang tentu mensyaratkan terbebas dari e-coli, dengan kuantiti kebutuhan suply buah segarnya 35 ton buah naga merah.

Nah, disinilah kita mulai lakukan trial untuk memproses dengan bahan baku buah berasal dari kebun dan lahan petani di Banyuwangi. Alhasil, selama 3 (tiga) kali serapan dengan total bahan baku sampel sebanyak 1,5 ton setelah di cek kandungan mikronya sampe 2 kali di Lab-kan semuanya dijumpai terinfect total e-coli. Bahkan beberapa sampel yang sebelumnya dikirim ke Jepang telah mendapat respon diblack list nya nama perusahaan pengirim sampel oleh pemerintah Jepang. Mereka sungguh tidak main-main dengan e-coli sehingga harus memblacklist dan bahkan memberi punishment kepada buyer dengan mempending trading buah naga merah ini dengan pihak perusahaan rekanan saya. Bahkan ternyata negara lainpun seperti Korea jika menjumpai kasus seperti ini pemerintahnya langsung memberi pengumuman dan warning secara massif kepada publik nya agar menghindari produk dan atau makanan yang terinfect e-coli.

Apa lacur, dinegeri kita ini ternyata biasa-biasa saja dalam menanggapi bahkan mengeksekusi persoalan seperti ini. Entah apa karena perut kita (orang Indoensia) lebih tahan dan kebal dari serangan e-coli akibat sejak kecil sering main bahkan sesekali minum air kali ?? hehe...

Saya bukan bermaksud pesimistis, tapi setidaknya dengan adanya temuan e-coli seperti ini pada produk buah naga merah petani dalam negeri (khususnya di Banyuwangi) harus menjadi agenda advokasi bagi pemerintah dan para stakeholder pertanian lainnya untuk saling bersinergi mencarikan solusi tanpa mencari-cari siapa yang salah dalam kasus ini, apalagi menyalahkan Petani. Mari Sinergi Mencari Solusi! **

(Penulis: Sekjend Asppehorti Jatim)

  • view 1.2 K

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    lha pak saya suka banget makan ini, seperti perlu advokasi ulang kepemerintah kita ini bahan apakah yang terserap dari e-coli itu, padahal buah naga bagus banget buat kesehatan pak, eh ya pak salam kenal ya jangan lupa mampir ke rumah saya ya pak gak di kunci kok

    • Lihat 7 Respon