SABAR ITU (NGAMUK) DALAM BERJUANG

Gus Lim
Karya Gus Lim Kategori Politik
dipublikasikan 19 Juli 2016
SABAR ITU (NGAMUK) DALAM BERJUANG

Suasana bulan syawal masih kental terasa menghiasi wajah-wajah ceria para hadirin yang hadir dalam acara malam silaturrahmi dan konsolidasi KAHMI se Madura bersama Prof.Dr.Moh.Mahfud MD ( dikenal dg Prof.MMD) di Pendopo Ronggosukowati Kota Gerbang Salam Pamekasan. Kumandang lagu Indonesia Raya dan Hymne HMI yang dinyanyikan oleh hadirin para kader dan alumni dg posisi berdiri semakin menambah gema syiar  kejuangan organisasi yang saya cintai ini. Sebagai undangan yang juga merasa bagian dari keuarga besar KAHMI saya duduk menyimak ditengah barisan para kader-kader HMI Perguruan Tinggi lingkup Pesantren se Madura. Tampak sesi acara beranjak dimulai dan tibalah saatnya Prof. MMD selaku Ketua Presidium Majelis Nasional KAHMI memberi orasi dengan tema: Konsolidasi Organsisasi Menuju Indonesia yang Bermartabat.

RoadMap Rasulullah

Menurutnya, Konsolidasi harus dimaknai sebagai sebuah ikhtiar untuk mengikuti Peta Jalan atau Roadmap Rasulullah dan para sahabatnya dalam mengemban agama islam, karena didalamnya memuat nilai-nilai yang mengatur tatanan kehidupan bernegara dan bermasyarakat sebagaimana peran yang selama ini diemban oleh HMI. Ketika itu nabi berjuang untuk mendobrak strata politik dan praktek ketidak adilan di tengah masyarakat, ini sebagai bagian dari misi diturunkan wahyu pertama di gua hira’ yang intinya adalah bertauhid. Spirit tauhid sejatinya adalah semangat melawan segala bentuk dan atau siapapun yang anti keadilan, seperti  melawan Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Sofyan.

Lalu untuk apa “melawan” ? Yakni untuk meraih kesejahteraan masyarakat sebagaimana dalam sejarah bangsa Indonesia ketika melakukan perlawanan pada penjajah. Karenanya bernegara berarti ber-islam, misinya adalah mencegah ketidak adilan dan melawan kesewang-wenangan. Indonesia didirikan sebagai sebuah negara juga dilandasi misi kenabian yaitu mengangkat dan melindungi kaum dhuafa’ (mustad’afin) dan juga memajukan kesejahteraan umum sebagaimana rinciannya termaktub jelas dalam UUD 45. Pemahaman ini penting untuk  di pedomani agar kita tidak menjadi pendusta agama atau pura-pura dalam beragama karena tidak peduli pada kaum tertindas (baca surat Al-Maun).

Politik itu Wajib

Menjadi wajib karena politik adalah alat untuk berjuang. Ada beberapa hal yang menjadi dasarnya:

 Kaidah Fiqhnya ada (maala yatimmul wajib...-ila akhirihi- ) ,

  • Imam Al-Ghazali (dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin): ....”memperjuangkan nilai agama dan politik kekuasaan adalah dua saudara kembar ”.... (agama dan kekuasaan)
  • Addiinu aslun, wasulthonu harsun......

 Oleh karenanya; ....“jangan alergi dengan politik, politik itu fitrah!” (Prof. Mahfud MD),.

Islam: Berjuang ala Rasulullah

Setidaknya ada 3 hal yang harus di teladani agar di pedomani oleh KAHMI dan juga para kader HMI :  1. Perjuangan Politik 2. Tradisi Keilmuan/Intelektual 3. Civil society

Dalam perjuangan politik kekuasaan, teladani perjuangan Thoriq bin Ziyad saat membawa syi’ar islam ke Eropa. Bagaimana ia bisa menaklukan 350rb pasukan hanya dengan 7rb pasukan. Kisah heroiknya dalam menenggelamkan kapal yang berisi logistik pasukannya  sehingga mereka dihadapkan hanya pada satu pilihan untuk bisa survive yaitu SABAR untuk berjuang memenangkan peperangan. Karenanya sabar dalam islam bukan diam dan menyerah pada keadaan tapi sabar itu tangguh (kalau perlu ngamuk dalam berjuang) jangan opurtunis. Dan, modal sabar inilah yang kemudian menjadi modal dan kekuatan 7 rb pasukan yang dipimpin Thariq bin Ziyad memenangkan peperangan melawan 350rb pasukan menaklukkan Andalusia. Dalam konteks kekinian SABAR bisa dimaknai cerdas mengatur strategi  dan Yakin usaha sampai (YAKUSA!).

Adapun dalam tradisi keilmuan dan intelektual, kita perlu meneladani sejarah para ilmuwan islam yang sangat monumental dibidangnya seperti; Ibnu Rusy (Al Rusy), Ibnu Sina (Avicenna) dibidang Kedokteran yang dengan keilmuannya ketika itu bisa mengobati orang sakit hanya dengan mendeteksi dari nada suaranya. Bahkan kini warisan keilmuannya memiliki pengaruh yang sangat besar dibidang kedokteran sentero dunia.

Pada akhirnya, peran kedirian kita sebagai kader HMI dan KAHMI harus bisa memberi kontribusi yang positif bagi kehidupan bernegara dan bermasyarakat untuk terwujudnya civil society. Termasuk didalamnya “...menegakkan keadilan itu harus diantara manusia-manusia, bukan diantara kawan sendiri..., faidza hakamtum bainan naas..!”  inilah nilai-nilai kejuangan yang harus senantiasa di pedomani sepanjang hayat oleh KAHMI dan juga para kader HMI.

Demikian petikan orasi ilmiah yang bisa saya rangkum dan tuliskan dengan singkat dan uraian yang sederhana, selanjutnya semoga ini menjadi materi dasar serta wahana untuk “konsolidasi organisasi menuju Indonesia yang bermartabat”. Sahabatku KAHMI-HMI Se Madura, Selamat Berkonsolidasi... Yakusa!

(*Penulis adalah KAHMI MALANG asal MADURA)

  • view 469